
Berliana terkejut ketika melihat Rendy rupanya juga ada di dekat mereka.
Mata mereka saling beradu pandang.
Dadanya berdebar, dua telapak tangannya basah.
"Kenapa, Ber?" tanya Maura yang tidak mengetahui kalau Rendy duduk di belakangnya.
"Udah yuk, Aku mau pup!"
"Hah?!?"
Berliana mendorong cepat kurdi duduknya. Ia segera bangkit, mengambil dompetnya dan cepat-cepat pergi dari rumah makan sederhana yang membuatnya jadi malu hati.
"Berlin, tunggu!"
Maura segera menyusul sang sahabat yang kocar-kacir meninggalkannya sendirian di meja makan.
Rendy hanya bisa menghela nafas panjang.
Berlin...! Ternyata seperti itu ceritamu!
Berbeda dengan Berliana.
Ya Tuhan, moga si Rendy ga denger cerita gue tadi! Hadeuh... Bisa gede rasa dia kalo sampe denger!
Baik Rendy maupun Berliana, tidak lagi punya ketertarikan yang sama antara satu sama lain.
Rendy sendiri sadar diri, dia telah berkeluarga kini. Bahkan istrinya adalah kakak dari Berliana, pacarnya dahulu.
Tentu saja dia tidak boleh ngasal mengingat masa lalu bersama Berliana.
Meskipun itu teramat indah.
Walaupun itu begitu terkenang selamanya di lubuk hati terdalam.
Rendy sadar, tak boleh memiliki harapan lagi pada Berliana.
Tidak.
Sementara Berliana, ia juga tidak mungkin terus menyimpan perasaan yang kini telah jadi terlarang. Cintanya hanya boleh dirasa dalam hati saja. Karena jika sampai ketahuan, akan ada hati yang terluka. Virly dan juga Leo pastinya.
Hingga suatu ketika,...
Buk plak gedebug
Rendy yang mendapat perintah dari Pak Gunawan untuk mengambil satu berkas penting di ruangan atasannya itu di lantai sepuluh tiba-tiba mendengar suara mencurigakan dari ruangan pantry yang sudah sepi karena sudah pukul delapan malam.
Suara apaan sih itu? Gumamnya dalam hati.
Rasa penasaran karena suara pukulan dan tamparan membuat Rendy mencoba membuka pintu ruang tersebut.
Ternyata dikunci dari dalam.
"Agh!!! Bangmmfff,"
"Diam kau, perempuan ******!"
Rendy terkesiap.
__ADS_1
Ada suara laki-laki dan pekikan suara perempuan terdengar dari dalam.
Dengan sekuat tenaga Ia mencoba menarik tuas gagang pintu pantry.
"Hoii! Hoiii, buka!!! Siapa itu di dalam?"
Dug dug dug
Duh dugh dugh
Kali ini gedoran tangannya ke pintu semakin kuat.
Tiada jawaban.
Rendy mundur ke belakang, mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu.
Brakkkk!!!
Matanya melotot melihat seseorang yang sangat dikenalnya terkulai lemas di lantai dengan blus atas terbuka beberapa kancingnya. Sementara seorang pria duduk di atas tubuhnya dengan wajah merah.
"Sialan!!! Siapa Lo???"
Si pria berdiri, Ia kesal karena perbuatannya digagalkan oleh Rendy.
Tapi Rendy jauh lebih murka jiwa raganya melihat pria jahat itu melakukan hal gila bahkan di dalam ruangan pantry kantor.
Rendy menyerang sang pria.
"Bangs+t!!!"
Bug
Bug
Bug
Bug bug bug
Ini adalah kali pertama Rendy berkelahi mirip kesetanan setelah dirinya menikah dengan Virly.
"Bajing+n!!!"
Pria yang tadinya ingin menghajar Rendy justru dirinya sendiri yang jadi bulan-bulanan jotosan Ayah muda satu anak itu.
Bug bug bug
Dia terhuyung. Oleng dan mundur lalu,
Gubrak.
Rendy segera beralih pada perempuan yang sedang menangis di pojokan.
Wajah perempuan itu pucat pias karena masih shock dengan keadaannya yang mendapatkan pelecehan s+ksual dari rekan kerjanya.
"Berlin!!!"
Rendy langsung memeluk tubuh pacar pertamanya tanpa sadar. Begitu pula Berliana, yang secara spontanitas melompat ke dalam pelukan Rendy. Tangisnya pecah di dada bidang pacar pertamanya itu.
"Kamu udah diapain aja sama dia?" tanyanya geregetan. Tapi satu tangannya mengusap-usap punggung Berliana tapi matanya terus menatap kesal ke arah pria bajingan yang tergeletak pingsan dengan wajah berlumuran darah kena hajar Rendy yang bertubi-tubi.
__ADS_1
Berliana menangis keras dalam pelukan Rendy.
"Tidak apa-apa. Ada aku, Berlin! Tenang ya, tenang!" bisik Rendy di telinga Berliana.
Ia urungkan tangannya untuk menelpon sekurity di lantai dasar. Tapi membiarkan gadis yang dulu begitu dipujanya meluapkan rasa takut dan kesedihan mendalam di dada Rendy.
Cukup lama, hampir seperempat jam Berliana tenggelam dalam tangisan. Hingga Rendy kembali berinisiatif menelpon pak Anton, sekurity lantai dasar untuk menangkap pelaku pelecehan.
Situasi kantor menjadi sedikit bergaduh walaupun sudah pukul setengah sembilan malam.
Coki Sebastian digelandang ke kantor kepolisian sekitar dengan dakwaan pelecehan s*ksual dan penganiayaan sedang.
Rendy menemani Berliana pergi visum ke RSUD. Malam itu, menjadi malam yang panjang bagi keduanya untuk dilewati bersama.
Tanpa banyak kata-kata, tanpa berbuat lebih jauh lagi. Hanya tangan kuat Rendy yang selalu merengkuh bahu Berliana, memberinya kekuatan untuk sang gadis tetap tegar.
Treeet... Treeet... Treeet
"Hallo? Ya, Virly! Maaf..., Aku lagi ada di kantor Polisi wilayah selatan, Yang! Maaf..., teman kantorku mengalami kejadian naas. Aku sedang bersamanya saat ini!"
Hanya kalimat penjelasan itu yang bisa Rendy berikan pada istrinya.
Tak lama kemudian panggilan lain masuk sekali lagi, menyela pembicaraan pasangan suami istri itu via ponsel.
"Sayang, Pak Gunawan telepon, sebentar ya, panggilanmu kualihkan!"
...[Iya, Mas! Hati-hati ya? Pake jaketmu, udara sangat dingin malam ini!]...
Terdengar suara Virly dari seberang. Suaranya tampak begitu mengkhawatirkan Rendy, membuat pria muda itu merasa ada penyesalan di dalam hatinya.
"Hallo, Pak! Maaf! Saya ada di polsek jaksel, Pak! Sedang antarkan Berliana yang kena kasus di kantor tadi. Berliana adalah sahabat saya. Maaf, Pak! Saya akan segera antarkan berkasnya ke rumah bapak setelah selesai ajukan laporan kasus Berliana."
Pak Gunawan rupanya sudah mendengar kabar kejadian yang menimpa Berliana. Dia memberi dukungan penuh kepada Berliana dan Rendy.
Bahkan beliau turut hadir bersama Maura, putrinya.
"Berlin! Berlin! Hik hik hiks..."
Kedua perempuan seumuran itu saling berpelukan. Rendy hanya dia termangu dengan wajah menunduk ikut prihatin.
Entah bagaimana jadinya Berliana, jika tadi dirinya tidak ada di tempat kejadian. Mungkin hal terburuk bisa saja menimpanya.
Hhh... Rendy menjenggut rambutnya sendiri. Kesal dan gemas meskipun sudah menghajar habis wajah Coki Sebastian, rekan kerja Berliana yang juga karyawan baru itu di divisi yang sama.
Puk puk puk
Pak Gunawan menepuk bahu Rendy dengan pelan.
Walau tanpa suara, Rendy bisa merasakan nada yang menenangkan berhasil atasannya salurkan lewat tepukannya itu.
"Kita tutup kejadian ini dari media! Matta Network tidak boleh tercemar karena tingkah laku karyawan kontraknya yang omes."
Rendy menundukkan kepala.
Ada satu sisi hatinya yang tidak bisa terima.
Sakit sekali rasanya. Dan ia pun merasa, perasaan Berliana juga sama seperti dirinya.
Kasus ini dilanjutkan tanpa boleh diblow up demi nama baik perusahaan.
__ADS_1
Apalagi si Coki Sebastian itu hanyalah karyawan kontrak.
BERSAMBUNG