
Maura bangkit dari tempat tidur. Tanpa diduga Radit, gadis itu berjalan cepat menuju balkon kamar hotel. Tangannya meraih jendela kaca yang tebal, seperti hendak membuka lebar.
Radit segera meloncat.
Tindakan Maura tentu saja sangat berbahaya.
Maura bisa jatuh ke bawah dari ketinggian dua puluh sembilan lantai hotel Green Hyatt Selatan.
"Maura!!!" pekik Radit sembari menarik tubuh gadis itu hingga masuk ke dalam pelukannya.
Maura menangis keras.
"Jangan, Maura! Jangan seperti ini! Jangan!!!"
Maura terus menangis. Tak dihiraukannya ocehan Radit yang sedikit memaki kasar karena kaget pada tindakan yang Maura ambil.
"Dunia tidak selebar daun kelor! Dunia ini luas, Maura! Kamu tidak sendiri! Kamu tidak hidup sendirian di dunia ini meskipun tanpa bajingan itu!"
Jantung Maura dan juga Radit masih berdetak begitu kencang.
Radit yang hampir saja kena masalah jika sampai Nona Majikannya jatuh dari ketinggian puluhan meter persegi.
Jantung Radit benar-benar seperti dipompa saking kagetnya. Bahkan jika mungkin Maura sedang dalam keadaan normal, Ia akan menertawakan detak jantungnya yang tak beraturan kini. Karena rasanya begitu campur aduk sekali.
Maura masih menangis tersedu. Air matanya sampai membasahi kemeja yang dipakai Radit.
"Jangan seperti itu lagi, Maura! Jangan ya? Jangan bikin aku jadi narapidana yang tidak becus menjagamu bahkan ketika kamu ada di depan mata!"
Radit mengatakan hal yang menyiratkan ketakutan yang amat besar.
Bagaimana nanti Aku harus pertanggungjawabkan semuanya pada Coco kalau terjadi hal-hal buruk denganmu, Maura!
Maura tidak merespon Radit. Hanya menangis dan menangis. Dan akhirnya Radit juga diam tak lagi berbicara hingga Maura tertidur kelelahan dalam pelukan Radit yang masih terlihat gemetar.
Cinta memang membutakan. Cinta membuat seseorang bisa jadi gila.
Seperti Maura saat ini.
Hilang akal hilang kesadaran.
Yang ada dalam fikirannya hanyalah kesedihan dan keterpurukan hidup yang sangat pahit lebih pahit dari empedu.
Radit baru bisa bernafas lega. Maura tertidur dengan kepala bersandar di dada bidangnya.
Perlahan mata Radit ikut terpejam.
.............
Tiga jam Maura terbangun dari mimpi indahnya yang sedang berlarian di taman penuh bunga.
Xavier yang tampan berlari di depan dan dia mengejar dari belakang.
Mereka tertawa bersama. Penuh suka cita.
"Raraaa..., ayo kejar akuuu... Hahaha... Dimana kekuatanmu Raraaa? Hahaha..."
Xavier berteriak menggodanya. Maura tertawa sambil membalas ledekan Xavier yang manis terdengar telinganya itu.
__ADS_1
"Kalo aku bisa kejar kamu, hadiahnya apa?"
"Aku akan berikan boneka Teddy Bear yang besar untuk temanimu tidur tanpa Aku! Hahaha..."
"Beneran ya?!? Lihat nih, aku bisa kejar kamu!"
"Ayo coba, ayo! Hahaha..."
"Hahaha..., jangan remehkan Aku, Vier!"
Dalam mimpi, Maura benar-benar bisa berlari mendahului Xavier. Dan dia mendapatkan sebuah kotak besar berisi hadiah.
"Ini, boneka Teddy Bear-nya?"
"Bukalah!"
Maura membuka bungkus kardus besar yang diberikan Xavier kepadanya. Dan...
Maura terkejut, tubuhnya ada dalam dekapan Radit yang hangat.
"Teddy Bear..." gumamnya pelan dengan suara serak.
Dadanya menempel erat ke dada Radit yang juga tengah tertidur pulas.
Pelan-pelan Maura mencoba melepaskan pelukan Radit. Dan berhasil.
Maura mencoba turun perlahan dari ranjang tidurnya. Mencari tas kecil yang berisi ponselnya.
Maura mengaktifkan kembali ponsel pribadinya.
Banyak sekali pesan masuk.
Terutama dari Berliana, Kuncoro dan juga Papanya, Gunawan.
Tiba-tiba,
Treeet treeet treeet...
"Hallo? Ya,"
...[Sayang, kenapa ponselnya dimatikan? Maura! Kamu dimana? Papa jemput ya?]...
"Papa. Jangan! Jangan jemput. Maura sama Bang Radit koq ini. Papa jangan khawatirkan Maura!"
...[Ya Tuhan! Tentu saja Papa cemaskan kondisi kamu, Sayang!]...
"Pa, udahan dulu ya, Maura mau mandi dulu! Lengket nih badan Maura! Bye, Pa! Assalamualaikum!"
...[Jangan mandi malam-malam, Ra,]...
Klik
Maura kembali mematikan ponselnya.
Ia menghela nafas panjang.
Berjalan ke arah cermin yang ada di dalam kamar hotel yang besar.
__ADS_1
Matanya sembab. Wajahnya pucat. Wajah yang Ia lihat dicermin bukan seperti dirinya.
Maura berjalan pelan masuk ke dalam toilet kamar hotel yang wangi.
Satu persatu Maura menanggalkan pakaiannya. Masih dengan fikiran yang kosong dan perasaan yang hampa.
Jawaban Xavier tadi sore membuat Maura kembali tenggelam dalam kesedihan.
Dibukanya kran pemanas di bathtub. Kemudian diatur suhunya sehingga menjadi hangat-hangat kuku.
Pukul sembilan malam, Maura berendam dengan isi kepala dipenuhi oleh oleh memori kenangan kisah cintanya yang begitu indah bersama Xavier.
Mereka tumbuh bersama sedari kecil.
Satu TK, SD dan SMP yang sama. Namun ketika sekolah menengah atas justru keduanya memilih jurusan yang berbeda.
Xavier memilih kejuruan, sedangkan Maura tetap memilih sekolah menengah umum.
Tetapi perpisahan itu justru membuat hubungan mereka semakin dekat satu sama lain.
Xavier justru menjadi lelaki pertama dalam hidupnya yang mengantar dan menjemput Maura ke sekolah. Itu berlangsung hampir setiap hari selama dua tahun terakhir.
Dan Xavier mengatakan kalau dia selalu memikirkan Maura di setiap malam menjelang tidur.
Maura tersanjung.
Hatinya yang memang telah terpaut pada Xavier sejak usia kanak-kanak, kini semakin menancap dalam panah asmaranya di hati serta sanubari Maura.
Maura, mencintai Xavier dengan segala kelebihan serta kekurangannya.
Padahal Xavier adalah anak yang memiliki kelemahan emosional yang kuat hingga seringkali memecahkan barang atau apapun yang ada di sekitarnya jika dia sedang marah.
Bahkan Xavier pernah menampar Maura hanya karena Maura tidak menuruti keinginan Xavier untuk memakai gaun pesta pilihan Xavier ketika salah satu teman mereka merayakan ulang tahun dan mengundang kehadiran sweet couple Maura Xavier.
Tetapi karena kadung cinta dan pandainya Xavier merangkai kata puitis nan romantis, Maura seolah buta. Baginya hanya Xavier saja seorang pria terbaik yang Tuhan ciptakan untuk menjadi pasangan masa kini dan masa depannya.
Ternyata...
Semua hanyalah angan-angan belaka.
Sia-sia Maura merawat taman bunga yang tumbuh subur di relung hatinya.
Ternyata, Xavier justru malah menikah dengan perempuan lain dan bahkan pria itu telah menanam saham terlebih dahulu hingga perempuan yang Minggu kemarin dinikahinya itu dalam keadaan hamil besar.
Maura memejamkan mata.
Ia menggelosorkan tubuh lemahnya hingga masuk ke dalam air.
Bathtub kamar mandi hotel seolah-olah memanggil namanya untuk masuk ke dalam dan membawanya pada puncak kebahagiaan.
Brak brak brak
Terdengar teriakan Radit yang histeris dari luar sana. Kaca tembus pandang kamar mandi yang artistik itu mengebul karena uap air hangat yang terus mengucur dari kran.
Maura terlalu lemah untuk merespon teriakan Radit dan perlahan kesadarannya hilang seiring kepalanya yang semakin masuk ke dalam genangan air di bathtub.
BERSAMBUNG
__ADS_1