
Berliana berjalan tergesa-gesa. Seorang suster mengabarkan kalau ada seorang gadis yang hampir saja bun+h diri dan hendak loncat dari rooftop rumah sakit berlantai dua puluh lima itu. Untung saja ada seorang suster perawat yang memergoki, sehingga peristiwa itu tidak sampai kejadian.
Seketika Ia berlari kencang menuju kamar Maura.
Maura, jangan Maura! Jangan lakukan itu!!! Jerit batinnya merasa bersalah.
Semakin sangat bersalah ketika dirinya melihat Gunawan juga Kuncoro berada di depan kamar ruang inap Maura dengan keadaan yang memprihatinkan.
Maura sedang ditangani Dokter-dokter dan para medis.
"Berliana! Daripada saja kamu?!"
Coco menyambutnya dengan sedikit intonasi yang berbeda.
"Maaf, Anna dari Green Hyatt Selatan barusan!" jawabnya membuat Coco merem+s rambutnya sendiri agak keras. Tampak seperti kesal dengan sikap Berliana.
"Aku udah bilang, jangan tinggalin Maura sendirian! Dia sedang dalam kondisi yang mengkhawatirkan!"
"Aku, aku hanya ingin balaskan dendam Maura, Bang!"
"Saat ini kita fokuskan saja pada keadaan Maura! Biarlah mereka tenggelam dengan kemaksiatannya sendiri!"
"Sudah, sudah. Lebih baik kita doakan Maura agar kondisinya kembali seperti semula! Jangan sampai membuat kita yang sehat jadi ikutan sakit! Jangan menuduh dan lempar kesalahan pada calon istrimu!"
Gunawan segera menenangkan Kuncoro dan Berliana.
Kini ketiganya kembali diam, menunggu dokter dan perawat keluar dari kamar Maura.
Treeet treeet treeet...
Ponsel Berliana berdering.
Virly menelponnya.
"Hallo, Kak Virly? Iya? Apa? Hahh?"
Pucat pias wajah Berliana. Tangannya gemetar sampai handphone yang dipegangnya nyaris terjatuh dari genggaman.
"Kenapa, Anna?" tanya Kuncoro dengan suara lembut. Ada rasa bersalah terselip di relung hati karena tadi tanpa sadar membentak Berliana.
"Eyang Rihanna meninggal dunia!"
"Apa?"
Gunawan dan Kuncoro serentak terperanjat.
Rihanna meninggal dunia pukul dua belas tiga puluh siang dalam keadaan masih mengenakan mukena dan bersujud di hamparan sajadah.
__ADS_1
Virly mengabari adiknya agar segera terbang ke Jogjakarta memberikan penghormatan terakhir kepada Eyang Uti tercinta.
Cobaan menjelang pernikahan benar-benar membuat Berliana tersungkur dalam kegetiran.
Maura dalam keadaan depresi putus cinta dari Xavier. Eyang Rihanna meninggal dunia. Berliana ikut dengan Virly dan Rendy tanpa ditemani Kuncoro.
Keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja. Semua harus bisa saling menahan diri dan emosi yang turun naik nyaris tak terkendali.
Padahal pernikahan hampir dua minggu lagi akan dilaksanakan.
Beberapa hari Berliana dan Kuncoro tak bertemu karena kesibukan masing-masing mengurus keluarga mereka yang sedang ada masalah.
Berliana sibuk membantu Sang Mama mengurus pemakaman Eyangnya. Kuncoro juga bergantian dengan Gunawan menjaga Maura agar tidak berfikir pendek mengakhiri hidupnya.
Berliana dan Kuncoro bahkan jarang chattan karena kesibukan mereka yang tidak bisa disesuaikan.
Untungnya pernikahan mereka digelar dengan diurus oleh Wedding Organizer yang sudah berpengalaman. Sehingga semua urusan itu dipasrahkan kepada pihak WO dan mereka hanya tinggal menunggu hari H tiba.
Untungnya juga, Sapto sudah lebih dahulu mengurus surat-surat yang harus dilengkapi oleh kedua mempelai di kantor urusan agama setempat. Sehingga ketika mereka sibuk mengurus tahlilan di kota Gudeg itu, urusan pernikahan Berliana sudah cukup aman.
Maura juga keadaannya masih kurang baik.
Terkadang ia lebih sering mengurung diri di kamar dan tak ingin keluar rumah bertemu banyak orang.
Bahkan Maura tidak mau tinggal di rumah Gunawan sampai Berliana dan Kuncoro benar-benar menikah. Ia lebih memilih tinggal sementara di kostan mewahnya, menunggu Berliana kembali dari Jogjakarta.
Gunawan dan Kuncoro sampai bingung dibuatnya. Untung saja Berliana masih rajin menchat dan menelpon Maura. Ia memberikan support sepenuhnya pada sang sahabat. Bahkan Berliana lebih sering berkomunikasi dengan Maura ketimbang Kuncoro. Hingga tepat di hari ketujuh, barulah Berliana kembali ke kostan Maura.
"Berlin!"
Keduanya saling berangkulan.
"Kamu kurusan!" tegur Berliana pada Maura.
Gadis itu melihat ke arah badannya sendiri dengan senyum smirknya yang samar.
"Iyakah? Ternyata putus cinta berefek juga pada tubuh ini ya, Ber? Hehehe... Padahal kemarin-kemarin aku diet mati-matian buat jadi langsing! Hm... Sekarang tiba-tiba, kurus begini!"
"Kamu bagusan berisi. Buat apa juga mikirin hal yang gak guna! Cowok model papan penggilesan gitu mending dibuang aja ke laut hejo!" gerutu Berliana membuat Maura tersenyum lebar.
"Dia gagah, bukan tipe papan penggilesan!" protes Maura masih membela Xavier.
"Hilih! Liat ya, jangka waktu sebulan lebih dia menikah, badannya yang tegap itu bakalan meleyot. Kurus kering tinggal tulang! Aminin dong biar kejadian!"
"Hahaha... Amiin!"
Keduanya tertawa ngakak.
__ADS_1
"Makan yuk? Aku beli nasi kuning tadi di jalan. Nasi kuning yang pake taburan kelapa sangrai diulek itu lho!"
"Mana?" tanya Maura antusias. Ia lupa kalau tadi sempat menolak makan pagi yang Gunawan berikan.
Diam-diam Kuncoro dan Gunawan bersyukur dalam hati, akhirnya Maura masih ingat caranya tersenyum setelah bersama Berliana. Dan lupakan kisah sedihnya yang menyakitkan.
Hari ini memang Papa dan Kakak laki-lakinya itu sedang berkunjung ke kostannya. Sehingga suasana kamar kostan yang cukup lebar itu jadi ramai orang.
Ibu kost yang biasanya agak bawel ketika anak kost membawa penghuni lain ke dalam kostan memberi pengecualian.
Gunawan membayar tiga kali lipat agar ia dan putranya bisa keluar masuk kost-an Maura, mengontrol keadaan sang putri yang sedang patah hati.
"Tinggal di rumah Papa yok, Ra?" ajak Gunawan lagi. Rayuannya kali ini siapa tahu berhasil. Karena ada Berliana diantara mereka.
"Nanti, Pa. Kalau Berliana sudah jadi istrinya Bang Coco dan tinggal bersama. Kita satu rumah pasti. Saat ini, ada Berliana di samping Maura. Iya kan Ber?"
Berliana mengangguk.
"Tapi ada baiknya juga kalo Maura pindah lebih dulu ke rumah Papa Gunawan. Aku kan seminggu menjelang nikah harus pulang ke rumah kak Virly. Dipingit sampai ijab kabul. Baru dibawa pindah ke rumah Papa Gunawan."
Berliana berusaha memberi penjelasan.
"Tapi Aku lebih nyaman di sini saat ini."
"Kalo Aku tinggal di rumah Kak Virly, kamu gimana? Pasti kesepian!"
"Cuma seminggu, Ber! Sampai kalian menikah, Aku baru akan pergi."
"Pergi kemana?" tanya Berliana, Gunawan dan Kuncoro berbarengan.
"Maksudnya, Aku bisa tenang gitu. Hehehe...! Kenapa kalian jadi panik begitu sih? Oiya bang, rencana honeymoon kemana?" Maura sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Kamu ikut ya Ra?" Kuncoro balik bertanya.
Maura tersenyum lebar.
"Yaelah, Bang! Walaupun Aku ini bucin banget sama istrimu ini, bukan berarti harus terus ngintilin kalian sampe bulan madu juga lah ya!?"
"Hehehe..., kenapa enggak? Kita bisa jalan bertiga. Seru tuh kayaknya, Ra!" timpal Berliana menyahut.
Maura mengangkat kedua tangannya dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.
"Enggak, enggak deh. Makasih, daripada aku nanti jadi nyamuk. Sorry sorry to say deh! Hehehe..."
"Lah? Kita bulan madu emangnya mau berduaan terus di kamar? Ga juga kali'. Lagipula rumah tangga itu bukan untuk sebulan dua bulan, setahun dua tahun. Rumah tangga itu berharap selamanya. Hitung sendiri setahun berapa hari. Sepuluh, dua puluh tahun, berapa hari. Jadi gak harus kita terus di kamar tanpa interaksi sosial dengan yang lain lah!"
Berliana dan Maura tertawa terbahak-bahak. Kata-kata diplomat yang keluar dari mulut Kuncoro justru terasa lucu di dengar telinga mereka.
__ADS_1
"Iya. Kita lihat aja nanti!" tukas Maura akhirnya.
BERSAMBUNG