(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 52 - Bersiap Untuk Pertemuan Kedua


__ADS_3

"Ehh?"


Rendy nyaris bertabrakan dengan seorang pria. Ternyata dia adalah Kuncoro yang baru saja keluar dari ruangan Gunawan.


"Kamu?"


Rendy hanya memandang tanpa berkata apa-apa. Ingatannya berusaha mencari tahu siapa pria tampan yang terlihat familiar dan seperti pernah Rendy lihat, tapi entah dimana.


Ia mengangguk, berusaha sopan karena terlihat jelas kalau Kuncoro baru saja bertemu dengan atasannya yang kini akan ia temui.


Kuncoro tersenyum tipis lalu bergegas pergi. Dalam hati Kuncoro turut tertawa geli, melihat tingkah suami dari mantan tunangannya yang tampan tapi agak sedikit ceroboh sepertinya. Begitu Ia menandai Rendy.


Nanti bila waktunya tiba, kau juga akan terkejut bro! Begitu isi hati Kuncoro.


Rendy mengetuk pintu ruangan Gunawan.


Tok tok tok


"Permisi, Pak!"


"Masuk, Ren!"


"Iya Pak. Bapak panggil saya?"


"Tolong antarkan berkas-berkas penting ini ke gedung Artha Graha lantai dua, ya Ren! Temui Pak Felix Corner. Bilang kalau saya ingin balasannya sekarang juga. Kamu tunggu beliau sampai memberikan kembali berkas ini!"


"Baik, Pak!"


Pria muda itu terlihat bersemangat karena baru saja mendapat panggilan telepon dari Virly istrinya. Kata Virly, Ia sudah jauh lebih baik. Dan ada rencana pulang ke rumah dalam waktu dekat ini.


Virly juga mengabarkan kalau Berliana akan segera dilamar seseorang. Tapi tidak diceritakan secara detil siapa seseorang itu.


Rendy sebenarnya sudah mengetahui kalau kemungkinan besar calon suami Berliana adalah Pak Gunawan, Papanya Maura yang tak lain adalah atasannya sendiri.


Virly bukannya menutupi kabar berita itu dari Rendy. Virly juga tahu kalau Gunawan adalah Boss suaminya dari cerita Gunawan sendiri tempo hari.


Namun mengingat ada dua orang yang akan dipilih Berliana nantinya membuat Virly tak berani mengatakan Gunawan adalah kandidat satu-satunya.


Virly hanya bisa menyeringai. Tertawa lirih betapa adik angkatnya itu memiliki keberuntungan yang lumayan besar.


Bagaimana tidak beruntung, tiba-tiba dilamar seorang CEO dari perusahaan advertising yang lumayan punya nama di jagat periklanan.


Satu lagi, malah disuruh milih dirinya atau putra sulungnya yang bujangan berumur 32 tahun.


Melihat Bapaknya yang masih gagah dan tampan, kemungkinan besar anaknya pun akan lebih tampan dari bapaknya. Begitu pikir Virly sedikit menerka-nerka.


Rendy tidak terlalu memikirkan ke depan perihal Berliana.

__ADS_1


Kini ia fokus mencari nafkah untuk keluarga tercinta.


Angannya melayang tinggi, ingin hidup bahagia bersama anak dan istri.


Cita-citanya begitu besar. Hidup tenteram dengan gaji bulanan yang lumayan sehingga istrinya bisa duduk manis di rumah mengurus Leo buah hati mereka.


Jika memungkinkan, dalam jangka waktu dua tiga tahun kedepan, Rendy berencana ingin menambah momongan. Lebih tepatnya setelah cicilan si Innova-nya telah lunas. Sehingga tidak lagi ada beban yang menggelayut di fikiran Rendy.


Itu baru ada dalam khayalan.


Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing di dalam gedung kantor perusahaan Matta Network, termasuk Berliana dan Maura.


Mereka berjibaku melaksanakan kewajiban sebagai karyawan yang loyal terhadap perusahaan tempat mereka bekerja.


Ada seorang karyawati yang sudah menjadi kepala bagian wardrobe sedikit tengil dan tidak menyukai Maura juga Berliana. Wulan namanya. Dipandangannya, mereka berdua adalah karyawan baru yang sok asik.


Wulan sering kali memperhatikan kedekatan Maura dengan Berliana yang dianggapnya lebay dan sangat kekanak-kanakan.


Dia tidak tahu kalau Maura adalah anak petinggi Matta Network yang sedang menyamar menjadi karyawan biasa.


"Eh, kamu, anak baru!" tegurnya yang merasa risih karena mendengar Maura dan Berliana tertawa di lorong kantor menuju lantai bawah.


Wulan kesal melihat tingkah keduanya yang menurutnya semakin belagu dan banyak tingkah padahal baru beberapa bulan masuk kerja. Itu pun hanya sebagai karyawan kontrak selama setengah tahun saja.


Maura dan Berliana juga menganggap bercanda di waktu istirahat adalah hal yang lumrah. Apalagi saat ini mereka akan turun untuk makan siang di kantin perusahaan.


"Iya, Kak Wulan?" balas Maura.


"Kenapa Kak?" Maura balik bertanya.


"Songong banget sih?! Ketawa-ketawa seenaknya. Berasa ini perusahaan nenek moyang kamu, apa?"


Duh, Kak Wulan! Ini perusahaan emang punya Bapaknya si Maura! Hadeuh! Jangan cari masalah, Kak! Batin hati kecil Berliana.


"Saya sama Berliana bercanda di jam istirahat lho, Kak!"


"Tapi ini masih wilayah kantor! Bukan Taman Kanak-kanak!"


"Maaf ya Kak!"


Berliana tertegun, Maura benar-benar pribadi yang sangat humble. Perannya sebagai seorang karyawan biasa benar-benar diresapi hingga untuk urusan sepele seperti ini pun dia sampai mau lebih dulu meminta maaf pada karyawan yang baru satu tingkat di atasnya saja.


"Jangan songong ya kalian!"


"Iya. Maafin kami, Kak!" Berliana turut serta meminta maaf. Keduanya mengangguk hormat membiarkan Wulan berlalu dengan kesombongannya.


"Ra,"

__ADS_1


"Sstt..."


Berliana tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


"Dasar kau nih! Good girl banget sih! Hehehe..."


"Hihihi..., biarlah dia merasa bahagia! Mungkin kerjaannya membuat pening kepala. Butuh penyaluran amarah dan kita kebetulan jadi sasarannya!"


Berliana mengerjapkan mata.


Semakin kagum pada putrinya Gunawan yang sangat rendah hati itu.


"Maura keren!" puji Berliana dengan mengacungkan dua ibu jarinya pada sang sahabat.


"Jangan lebay deh! Mentang-mentang nama kita sebentar lagi bakalan satu KK!"


"Hihihi..., apaan sih?! Kaga jelas beud dah!"


Berliana tersipu dan Maura tertawa sembari merangkul bahu calon anggota keluarganya itu.


Berliana menggaruk kepalanya yang runyam.


Ia masih bingung menentukan pilihan. Akan memilih Gunawan ataukah Kuncoro. Keduanya adalah pria berkualitas tetapi cukup berbahaya untuk hubungan persaudaraan dan kekeluargaan di keluarga angkatnya nanti.


"Udah, jangan terlalu dipikirin! Enjoy aja, Ber!"


Maura seolah tahu jalan fikiran sahabatnya itu.


Keduanya tersenyum penuh arti.


Minggu besok mereka akan mendatangi rumah Virly untuk kelanjutan acara lamarannya.


Dan satu orang lagi yang akan ikut, yang pastinya bakalan membuat Virly sang Kakak terkejut bukan kepalang.


Sapto Papanya memang mengabari kalau pertemuan selanjutnya akan diadakan di Jakarta. Tepatnya di kediaman Virly mengingat Gunawan yang seorang CEO Matta Network. Sudah pasti harus mencari waktu lama untuk pergi kembali ke Jogja.


Jadi Sapto berinisiatif mereka saja yang turun ke Ibukota. Sekalian mengantar Virly putri mereka yang sudah seminggu lebih tetirah di tempat mereka.


Semua menunggu waktu pertemuan kedua yang sudah disepakati keluarga Sapto dengan Gunawan.


Kuncoro juga bisa menyediakan waktunya untuk pertemuan itu. Walau hatinya lumayan ketar-ketir juga. Tetapi Ia harus melewati semuanya sebagai penjelasan juga.


Jikalau nanti Ia berjodoh dengan Berliana, itu tidak menjadi masalah. Berliana adalah putri angkat Sapto dan Hilda. Sehingga masih bisa untuknya melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan.


Tidak seperti dengan Virly.


Hubungannya dahulu harus di-cut karena mereka sedarah. Lahir dari rahim yang sama.

__ADS_1


Kini Kuncoro hanya memasrahkan hidupnya kepada Allah Ta'ala saja. Jalan mana yang terbaik, semua Ia ikhlaskan untuk hidup serta masa depannya.


BERSAMBUNG


__ADS_2