
Hidup ini ternyata benar-benar tidak bisa diprediksi. Semua manusia saling bersaing untuk mendapatkan kepuasan dirinya sendiri.
Bahkan ada sebagian orang tidak peduli apakah tindakannya itu benar atau salah, dosa atau tidak.
Semua orang berlomba untuk mendapatkan hasil maksimal dengan jalan apapun.
Seperti halnya dengan Angkasawan.
Pria yang usianya sepantaran Sentanu ternyata memiliki masa lalu suram yang penuh tipu-tipu untuk mendapatkan jabatan setinggi saat ini.
Meskipun Ia telah mengubah sikap serta prilakunya dengan berbagai kebaikan dimasa kini seperti rutin memberikan santunan dan bantuan kepada yang membutuhkan, tetapi ada satu hal yang tidak bisa Ia ubah. Yaitu tidak bisa membuka diri kalau kenyataannya dia adalah Ayah biologis dari Berliana Anggraini.
Sungguh Kuasa Allah amatlah besar.
Angkasawan nyaris tidak percaya adanya keajaiban yang menjodohkan putri kandungnya dengan putra angkatnya.
Berliana berjodoh dengan Kuncoro. Sungguh suatu takdir yang Maha Dahsyat yang membuat Angkasawan semakin tersadar bahwa Allah teramat sangat baik kepadanya.
Tetapi ternyata semakin kesini, hidupnya justru semakin tidak bahagia.
Padahal semua keinginannya di masa muda telah ada dalam genggaman.
Keluarga yang mencintai, jabatan yang diidamkan, kehidupan yang luar biasa, tetapi justru semuanya semakin membuat Angkasawan tidak tenang.
Sungguh aneh rasanya.
Tuhan menutupi aib-aibnya, namun justru jiwanya bergejolak tanpa henti seolah terus menerus mengingatkan dosa-dosanya dimasa lalu.
Kini semakin merasakan sakit ketika putri kandungnya mengatakan kalau keluarga Gunawan akan mengadakan tahlilan karena akhirnya menyakini Kuncoro telah meninggal dunia setelah mendapat kabar kalau ada jenazah korban tenggelam di sungai yang memiliki kesamaan fisik serta DNA dengan Kuncoro.
Gunawan dan putri-putrinya mengadakan pemakaman Kuncoro dengan dihadiri para sanak famili, kerabat dan handai taulan.
Semua menangis terlebih mendengar kabar kalau Berliana sedang mengandung anak pertama dari pernikahannya dengan Kuncoro.
Berliana sendiri kini terlihat lebih tegar dan kuat dari sebelumnya. Membuat Angkasawan memeluk Berliana dengan sangat erat dan menangis keras.
Angkasawan tidak mengetahui kalau semua itu hanyalah drama yang dibuat untuk menutupi keberadaan Kuncoro yang akan mengubah identitasnya menjadi manusia baru.
Berliana sendiri sudah mengetahui keadaan Kuncoro yang sebenarnya dan ikut berperan serta membuat cerita kalau Kuncoro telah meninggal dunia.
Bahkan Berliana telah mengetahui kalau Angkasawan adalah Ayah kandungnya.
Seminggu setelah kedatangan Sentanu, Berliana menyambangi panti asuhan tempatnya dahulu tinggal di saat masih bayi sebelum diadopsi oleh Sapto dan Hilda ketika usianya menginjak lima bulan secara sembunyi-sembunyi.
Disana Ia temu kangen dengan suaminya dan mendengarkan sendiri rencana Kuncoro untuk masa depan mereka.
Pemakaman, juga acara tahlilan yang kini digelar oleh keluarga Gunawan adalah atas rencana Kuncoro.
Semua Kuncoro lakukan demi menjaga kestabilan banyak orang termasuk Angkasawan dan para kroconya.
__ADS_1
Kuncoro ingin hidup tenang di tempat lain bersama Berliana setelah satu tahun kemudian. Niatnya ingin memulai hidup baru. Benar-benar hidup yang baru dengan identitas baru pula.
Seminggu setelah acara tahlilan digelar, Berliana izin pamit kepada semua anggota keluarga untuk pindah domisili ke luar kota dengan alasan ingin menenangkan diri.
Gunawan, Hilda, Maura telah mengetahui situasi yang kini sedang dialami. Mereka bertiga dengan para asisten rumah tangga Gunawan tutup mulut bahkan dari anggota keluarga lainnya yang tidak mengetahui termasuk Virly, Rendy bahkan Sapto sekalipun.
Semua adalah demi keselamatan jiwa Kuncoro kedepannya. Dan juga untuk kebahagiaan Berliana pastinya.
Berliana mendatangi rumah besar Angkasawan sebelum pindahan untuk pamitan sebagai seorang menantu.
Hatinya sebenarnya hancur berantakan berkeping-keping.
Apalagi setelah kedua bola matanya menatap lekat wajah Angkasawan dari dekat.
Tetapi Berliana berusaha tegar untuk tidak menangis lagi. Namun menitik juga, terapi untungnya itu dianggap Angkasawan dan istrinya sebagai rasa kesedihan yang masih menggelayut karena kematian Kuncoro.
"Sayang! Tuhan tahu kamu itu adalah perempuan yang kuat! Kami juga meyakini itu, kamu wanita hebat. Jaga dirimu di kota Mataram sana ya? Jaga aset-aset almarhum Suamimu untuk calon anaknya. Anak yang kamu kandung ini adalah buah cinta kasih kalian yang Tuhan titipkan. Tolong dijaga ya, Anna?"
Berliana mengangguk sambil terus menatap wajah pria yang telah Ia ketahui adalah Papa kandungnya.
Angkasawan dan istrinya memeluk Berliana secara bergantian.
Berliana memang mengatakan akan pindah ke kota Mataram, tempat dulu suaminya tinggal ketika masih bujangan. Dan tempat usaha Kuncoro juga untuk masa depan calon anak mereka nanti.
Angkasawan tahu kalau Kuncoro memiliki satu aset perusahaan tambang di kota kecil itu bersama beberapa orang temannya.
Berliana akan tinggal disana untuk selamanya. Berliana juga mengatakan akan melanjutkan kuliah S2 nya atas dukungan Gunawan.
Putri kandungnya disayang oleh Gunawan, dan putra kandung Gunawan sendiri diadopsi dan dibesarkan oleh Ia dan istrinya. Sungguh suatu cerita hidup yang rumit yang harus Angkasawan jalani.
Semua karena cinta yang salah. Cinta yang tidak pada tempatnya.
Entah benarkah Jodoh Yang Tertukar atau memang garis nasib kehidupan yang harus Ia jalani.
Angkasawan muda telah jatuh cinta pada seorang gadis desa bernama Anggraini padahal kala itu Ia sudah memiliki istri.
Dengan tipuan khas lelaki buaya, Angkasawan yang memang tampan berhasil menarik simpati Anggraini, dan menikahinya secara siri.
Sebenarnya kedua orang tua Anggraini ingin putrinya dinikahi secara resmi. Namun Angkasawan berdalih kalau Ia sedang berjuang di partai tempatnya bernaung mengibarkan nama besar belum mengizinkan dirinya menikah.
Sungguh alasan yang aneh.
Kedua orang tua Anggraini adalah orang kampung yang awam dan tidak faham hal seperti itu yang padahal tidak ada poinnya sama sekali dalam hak kewajiban sebagai seorang anggota partai politik.
Anggraini juga adalah gadis yang polos. Walaupun Ia memiliki rasa curiga kalau Sang Suami membohonginya, tetapi Ia kadung cinta dengan Angkasawan.
Dua bulan menikah, Anggraini hamil. Diusia kandungan tujuh bulan, semua cerita bohong Angkasawan terkuak juga.
Bahkan istrinya mengetahui dan mengancam Angkasawan untuk dia memilih.
__ADS_1
Angkasawan dulu adalah nothing. Dia mendapatkan kepercayaan dari Ayahnya Dina, istrinya hingga diberikan beasiswa untuk melanjutkan studi hingga sarjana. Jasa itu terus Ia ingat.
Dan tentu saja Dina adalah pilihannya.
Anggraini yang kecewa minta cerai walaupun Ia sedang berbadan dua.
Angkasawan yang benar-benar jatuh cinta pada Anggraini hanya bisa menangis meratap berharap Anggraini mau mengerti keadaannya.
Tetapi memang sedari awal langkah Angkasawan telah salah, akhir kisah cintanya dengan Anggraini harus kandas karena istri sirinya itu kecewa terlalu dalam.
Hingga tiba saatnya Anggraini melahirkan. Namun ternyata karena stres yang berkepanjangan dan juga mungkin sudah takdir Illahi untuk Anggraini. Setelah melahirkan Ia wafat.
Angkasawan menculik putrinya sendiri dari kediaman bidan kampung yang mengurus kelahiran anaknya itu dan juga mantan istrinya yang meninggal dunia kala itu.
Angkasawan bingung. Jika Ia membawa bayinya Anggraini ke rumah Dina, Angkasawan khawatir kalau putrinya akan mengalami nasib yang sama seperti Anggraini. Takut kalau darah dagingnya yang menjadi satu-satunya kenangan terindah dengan Anggraini diperlakukan dengan kasar oleh Dina.
Ditengah kegalauannya membawa bayi mungil yang masih merah itu Angkasawan melihat sebuah pondok yayasan panti asuhan.
Disanalah Ia menitipkan putrinya yang Ia beri nama sendiri Berliana Anggraini.
Ia juga meminta pengurus yayasan untuk mengarang cerita bohong tentang kisah Berliana yang katanya ditemukan di pinggir sungai dibuang oleh orang tak dikenal.
Begitulah hati Angkasawan muda yang penuh dengan ambisi hingga lupakan merubah sifatnya menjadi orang jahat.
"Berliana... maafkan Papa ya, kalau selama ini Papa tidak bisa menjadi orangtua yang baik untukmu dan juga Coco."
Berliana tahu, ucapan Angkasawan itu dalam sekali maknanya untuk dirinya.
Berliana tidak membenci Angkasawan. Tidak bisa karena perjalanan hidupnya yang cukup panjang dan semuanya itu adalah bagian hidup yang telah Ia jalani hingga hidupnya jadi seperti sekarang ini.
Berliana bersyukur pada Illahi Robbi. Semua kisah telah mendewasakan dirinya secara luar biasa.
Kisah hidup Ia dan Kuncoro, kisah cinta pertamanya bersama Rendy, pernikahannya dengan Kuncoro yang harus mengalami goncangan hebat padahal baru beberapa minggu saja, semua semakin membuat Berliana jauh lebih memahami makna kehidupan.
Mungkin Angkasawan juga sebenarnya tidak ingin hidup seperti ini. Berliana berusaha bijak menyikapinya.
Setiap manusia memiliki jalan kehidupan masing-masing yang telah mereka tentukan bersama Sang Pencipta, Allah Azza Wajalla.
Berliana yang kini lebih agamis perlahan juga mulai memakai hijab.
Seperti kedatangannya ke kediaman Angkasawan kali ini.
Dengan diantar Maura yang juga sedang menjalani proses pendewasaan diri, kedua perempuan berusia 26 tahun ini kini sama-sama berhijab.
Bahkan Virly juga kini sedang masa pendekatan pada Sang Kholiq dan mulai intens berhijab. Semakin membuat Rendy jatuh cinta lagi kepada istrinya. Kini mereka sedang melakukan program untuk anak kedua mereka. Yaitu adik untuk Leonardo Saputra.
__ADS_1
BERSAMBUNG