(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 86 - Maura Yang Perlahan Bangkit


__ADS_3

Maura bersikeras untuk berjalan sendiri.


Katanya sudah ada tenaga setelah menghabiskan satu mangkuk bubur kacang hijau yang Radit suapi barusan.


Pukul setengah dua belas malam.


Keduanya tampak terlihat belum mengantuk sama sekali karena baru saja bangun tidur pukul sembilan malam.


Radit juga semakin tidak berani meninggalkan Maura sendirian. Dua kejadian barusan semakin membuatnya lebih protektif lagi.


Maura yang kalau melamun terlalu dalam seketika blank dan berbuat hal-hal yang membahayakan dirinya juga Radit sebagai bodyguard yang disewa Kuncoro selama sebulan.


"Eh, Ra! Mau dengar usulku ga?" tanya Radit setelah menghabiskan semangkuk bubur kacang hijau miliknya.


"Apa?"


"Hm... sebentar."


Radit menengguk habis satu gelas teh tawar hangatnya dan mengucapkan kalimat basmalah.


Maura berusaha menunggu dengan sabar apa yang ingin Radit sampaikan.


"Apa sih, Bang? Bikin Aku penasaran nih!" protes Maura melihat Radit yang sangat santui membereskan mangkuk-mangkuk bekas makannya.


Seketika saja tawa Radit menggema.


"Ish, malah ketawa!"


Radit senang dengan Maura yang seperti ini.


Maura yang suka sekali membentak dan acuh cuek dengan kesedihan hatinya.


"Oke, siap mendengarkan?"


"Hm."


Radit menarik dua tangan Maura dan menatapnya lekat. Ia tidak sedang ingin menjadi penasehat cinta. Karena Ia sangat memahami isi hati dan perasaan Maura.


Tetapi ada satu hal yang sangat ingin Ia sampaikan dan berharap Maura akan menyetujui ajakannya.


"Aku sangat ingin naik gunung!" katanya sambil terus menatap wajah cantik Maura. Dan terlihat bola mata Maura juga lebih bersinar.


"Naik gunung?!"


"Ya. Maura mau ikut denganku?" tanyanya dengan sangat hati-hati.


"Gunung mana?" Maura balik bertanya. Rasa penasaran dihatinya kian meningkat.


"Terserah yang Maura mau. Maura udah pernah naik gunung?"


Gadis itu menggeleng.


"Kalo puncak gunung agung Maura sering."

__ADS_1


"Jiaah, itu mah toko buku!"


"Hahaha..."


Senangnya Radit, kini Maura telah bisa lagi tertawa.


Hari ini adrenalinnya benar-benar diuji. Mentalnya digojlog hingga nyaris marah pada Maura dan juga dirinya sendiri.


"Hm... Kamu itu anak mall ya? Ga pernah naik gunung ataupun hiking?"


"Ga. Papa gak pernah mengizinkan. Dari zaman SD sampai SMA dan kuliah, selalu tertahan pada perizinan atasan!"


"Hehehe... Papamu tepat melakukan hal itu. Karena kamu itu adalah jiwa yang lepas yang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Jadi pak Gunawan khawatir kalau kamu melakukan hal yang sembrono. Hehehe..."


Maura memonyongkan bibirnya. Radit kembali tertawa.


"Oke, karena kamu adalah seorang pendaki pemula, Aku sarankan kita main ke puncak Bogor aja. Mau gak?"


"Kapan?"


"Besok? Lebih cepat lebih baik kan? Kita naik kendaraan umum. Naik kereta, naik angkot, perjalanan backpacker yang seru dan menantang. Lakukan selagi kamu masih hidup. Rugi kalo belum pernah lakukan itu!"


"Iya! Mau!!!" pekik Maura girang.


"Yess...!" Radit tak kalah senangnya dari Maura.


Entah energi positif apa yang membuat semangat hidup Maura kembali bangkit.


"Sekarang kita tidur, istirahat. Besok pagi bangun, lalu check out dari hotel si+lan ini!"


Maura terkekeh mendengar umpatan Radit yang menyebut hotel ini hotel sial+n.


Tapi akhirnya dia menurut pada perkataan Radit.


"Abang!"


"Hm?"


"Apa istri Abang ga akan cemburu kalau kita jalan berduaan?"


"Istri? Yang mana?"


"Hilih! Emang istrimu ada berapa?"


"Belum beristri dan tidak punya partner juga. Jadi janganlah bahas begituan."


"Wuih? Jomblo? Beneran?"


"Dibilang jangan bahas begituan!"


"Jadi beneran jomblo nih kau Bang? Koq Aku dengernya ngenes ya?!"


"Hellooow, anybody home? Kemana ya cewek sengklek yang namanya Maura? Kayaknya dia itu ga ingat sama kelakuannya barusan ya? Yuhuuu, ada yang mau kasih tau dia gak ya soal kelakuannya yang abstrak!"

__ADS_1


"Hahaha... hahaha! Apaan sih Bang! Garing banget ledekan Lo ish! Hahaha..."


Radit dan Maura tertawa ngakak.


Lupa dua kejadian barusan yang hampir menghilangkan nyawa sendiri untuk Maura.


Radit segera mengusap pucuk kepala Maura.


"Jangan terlalu senang, juga tidak boleh terlalu sedih. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, Maura. Camkan kata-kataku barusan. Ya?"


Setitik air mata meluncur turun dari sudut mata kanan Maura. Tetapi senyumnya mengembang dan Ia mengangguk cepat.


"Maafin Maura ya Bang?"


Radit mengangguk. Kini Ia merebahkan tubuh Maura di atas ranjang dan merapikan selimutnya sampai ke atas dada.


"Tidurlah. Aku menjagamu di sofa itu!"


"Tidurlah di sampingku, Bang! Boleh ya Aku tidur dalam pelukan Abang Radit?"


Entah mengapa, ucapan yang didengar Radit seperti sebuah ajakan yang begitu menggoda. Bahkan sel-sel tubuhnya menggeliat, menggelenjar bagaikan terkena setrum listrik bertegangan tinggi.


Tapi Radit masih bisa berfikir waras.


Maura adalah Nona Majikannya.


Dia dibayar Kuncoro untuk menjaga Maura lahir batinnya agar tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Ada batasan yang harus Aku jaga dalam menjalankan tugas mengawalmu Nona Maura!"


"Aku yang meminta. Aku tidak akan menuntutnya juga!"


Radit tertawa kecil. Ia menggaruk kepalanya yang sedikit gatal.


"Jangan berikan bodyguard mu ini harapan. Karena akan fatal akibatnya. Hehehe..."


"Apa bodyguard bisa jatuh cinta sama Nona yang dikawalnya?"


"Ada banyak kisah soal itu!"


"Sini, Bang. Ceritakan padaku!"


"Hm... Nona sedang memancingku ya? Terus terang Aku ini pria normal, Maura. Kamu cantik, menarik. Sangat mungkin sekali jika Aku tergoda!"


"Hihihi... Sepertinya aku harus belajar menggoda Abang ya?"


"Hahaha... kamu ini! Kalo sampai Aku jatuh cinta, tanggung jawab ya?"


"Tibang minta dilamar apa susahnya, Bang! Hehehe..."


"Yassalam. Hahaha... Lamarnya mudah, bawa seserahannya yang susah. Anak emas pasti mahal buat dapetinnya! Bisa-bisa Aku jual ginjal buat dapetin kamu!"


Candaan yang panjang dan terus bersambung. Bahkan berlanjut sampai tanpa sadar jam dinding terus berputar hingga pagi menjelang.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2