
Betapa terkejutnya Rendy setelah melihat korban kecelakaan yang mengendarai mobil miliknya.
"Virly?!? Virly!!!"
Shock sekaligus panik melihat darah segar mengalir dari dahi sang istri yang tak sadarkan diri.
"Kak Virly!!!"
Berliana tak kalah panik.
Mereka segera menelepon mobil ambulans dan pihak kepolisian juga datang ke tempat kejadian.
Hari itu, Berliana dan Rendy gagal ke pengadilan untuk menjadi saksi serta korban kejahatan Coki yang akhirnya ditunda sidangnya.
Mereka akhirnya justru putar balik ke rumah sakit besar terdekat untuk memberikan pertolongan segera pada Virly.
Rendy gundah begitu pula Berliana.
Hati keduanya diliputi kecemasan yang luar biasa besar.
Rendy sampai menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dengan hati terus dawamkan doa agar Virly tidak kenapa-kenapa.
Virly! Sejak kapan kamu bisa nyetir, Yang! Apa kamu... sedang mengikuti Aku dan Berliana? Iya kah? Apa memang kebetulan saja, kita berada di jalur yang sama dan tepat berada beberapa meter saja dari mobil Pak Gunawan?!
Rendy merem+s rambutnya cemas. Menunggu di depan ruang IGD untuk mendapatkan kabar kepada istrinya yang mengalami kecelakaan.
Berliana yang berdiri tepat di sampingnya, sesekali menepuk lembut bahu Rendy. Berusaha menguatkan.
"Keluarga pasien ibu Virly Rastanty?"
"Ya?"
"Silakan masuk!"
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Rendy dengan suara cemas.
"Keadaannya tidak terlalu mengkhawatirkan. Hanya, kaki kanannya mengalami patah tulang. Juga tulang belakang pasien mengalami pergeseran."
Rendy termangu.
"Istri saya bisa sembuh dan normal kembali kan, Dok?"
"Tentu saja. Dengan rutin berobat dan bantuan terapis, Ibu Virly akan sembuh kembali."
"Alhamdulillah. Terima kasih, Dok!"
Berliana menghela nafasnya lega.
Rendy juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Saya bisa lihat istri saya sekarang?"
"Silakan! Tapi untuk sementara ini, pasien masih dalam pengaruh obat bius setelah sempat sadar dan panik hingga berontak tadi di awal kedatangan!"
"Iya. Istri saya pasti sangat shock! Baiklah, saya permisi Dok! Terima kasih!"
"Sama-sama, Pak!"
............
Tubuh Virly terbaring lemah di atas ranjang besi ruang ICU rumah sakit.
Matanya terpejam dengan wajah cantik tapi pucat.
Rendy segera meraih jemari sang istri, lalu mengecupnya dengan pelan.
Hatinya gundah gulana. Virly ternyata bisa menyetir mobil. Bahkan Virly tanpa izin padanya, hendak pergi ke mana.
Tapi Rendy berusaha untuk tidak berfikiran yang aneh-aneh.
Istrinya sangat cantik, memang. Tapi juga setia.
Rendy mengetahui kalau Virly adalah wanita yang tidak bisa sembarang laki-laki menggodanya.
Tameng Virly sangatlah kuat dan besar. Istrinya itu tidak gampang tergoda apalagi mudah luluh oleh rayuan gombal laki-laki.
Jadi tidak mungkin Virly hendak berbuat aneh di belakangnya.
Ada rasa sedih, bercampur dengan rasa syukur.
Kak...! Lo beruntung, bisa bersuamikan Rendy! Dia pria keren yang paling keren dibandingkan seribu laki-laki lain di luaran sana. Dan jujurly, gue selalu memendam rasa ini sama Dia. Tapi gue ikhlas, karena Dia bahagia menikah sama Elo, Kak!
Berliana sibuk dengan fikirannya sendiri.
Cukup lama, mereka hanya diam dengan fikiran masing-masing. Ruang ICU hanya boleh ditunggui satu orang penjaga pasien saja.
Rendy dan Berliana sepakat kalau Berliana akan kembali ke kantor sedangkan Rendy izin tidak kembali kerja sampai ada yang bisa menjaga Virly di rumah sakit.
Rendy sudah menelepon Pak Gunawan dan mengabarkan keadaan yang membuatnya galau.
Untungnya Pak Gunawan adalah atasan yang sangat baik. Beliau tidak mempermasalahkan bahkan justru memberi Rendy support serta dukungan untuk menjaga istrinya di rumah sakit hari ini.
Rendy senang, Virly telah bangun dari tidurnya.
"Sayang!"
Mata Virly menatap sedih Rendy. Turun perlahan bulir-bulirnya di pipi.
"Mas..."
__ADS_1
Rendy merengkuh bahu istrinya. Menarik pelan ke dalam dekapan, seraya menghela nafas panjang.
"Maaf, Mas! Aku..., aku bawa mobil kamu! Hik hik hiks..."
"Sejak kapan kamu bisa nyetir, Yang?"
"Sudah tiga minggu ini. Sudah lancar juga sebenarnya! Tadi itu, Aku panik, ada mobil Fortuner yang menyalip tanpa kasih sen. Jadi Aku banting setir ke kanan dan nabrak tanggul trotoar! Hik hik hiks..."
Virly bercerita dengan isak tangis penyesalan.
Rendy masih sabar dan tetap menenangkan diri Virly lewat elusan lembutnya di bahu.
"Sudahlah, sudah, Sayang! Tidak apa-apa, tidak apa-apa! (puk puk puk)..."
Rendy berbisik halus di telinga Virly.
Perlahan Virly tenang dan mulai mereda tangisannya.
"Mas..."
"Ya?"
"Apa kamu marah sama Aku?" tanya Virly dengan suara gemetar.
Rendy menatap wajah sang istri. Senyumnya samar mengembang.
Aku ingin sekali marah, tapi tidak bisa. Bagaimana mungkin Aku memarahimu yang sedang terpuruk seperti ini, Istriku!
"Nasi udah jadi bubur, Sayang! Masalah mobil sedang diurus pihak jasa asuransi. Sedikit bermasalah di kantor kepolisian juga pastinya. Tapi sudahlah. Yang penting sekarang, kamu tidak kenapa-kenapa. Itu lebih dari cukup untukku! Dan lain kali, kamu gak boleh nyetir mobil sendirian. Biarpun kamu bisa bawanya, tapi enggak boleh! Aku tegas melarang! Mengerti?"
Virly menunduk.
Airmatanya kembali jatuh. Dan Rendy dengan penuh kasih sayang mengusapnya perlahan.
"Aku melarang karena sayang. Gimana kalo sampe terjadi hal-hal yang ga diinginkan? Aku ga mau itu terjadi, Virly!"
Bukannya kamu bakalan senang? Bisa semakin bebas berduaan dengan si Anna, Mas?
Virly terisak sedih mengingat kebersamaan Rendy dan Berliana tadi.
Ingin sekali rasanya Ia bertanya, ada hubungan spesial apa antara mereka berdua. Ingin sekali bibir ini melontarkan kalimat tanya, puaskah mereka melihat Virly yang terluka jiwa dan raga.
Tapi tidak. Virly tidak akan lakukan itu.
Terlalu mudah bagi Rendy dan Berliana menerima hukuman langsung seperti itu.
Ia ingin membuat kedua manusia yang gelap mata itu sadar, kalau cinta mereka terlarang dan tidak akan bisa diteruskan.
Tidak bisa.
__ADS_1
Begitu pikir Virly.
BERSAMBUNG