
"Hoek hoek hoek..."
"Sayang?!"
Rendy segera bergegas menghampiri Virly yang sedang mual muntah di wastafel dapur rumahnya.
Tangannya sigap sekali memijat bagian leher belakang Virly istrinya.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Rendy khawatir dengan keadaan Virly.
Virly menggeleng lemah.
Segelas air hangat Mbok Darmi sodorkan kepada Nyonya Muda yang sudah dianggap seperti bagian keluarga itu.
Rendy mengamati Virly yang meneguk air dengan hati-hati.
"Aduh, perutku rasanya gak enak, Mas! Mual terus dari kemaren. Badan juga rasanya gragas begini."
Virly mengadu pada suaminya yang baru saja pulang dari kantor.
"Kamu terlalu capek, Yang! Sudahlah, coba ambil cuti dulu dua atau tiga hari buat istirahat full di rumah."
"Aku masih banyak event. Sayang kalo dibatalkan, Mas!"
"Tapi badan kamu kan kurang sehat. Nanti kalo malah makin drop gimana!?"
"Iya juga sih!"
Perdebatan yang manis dari pasangan suami istri yang sudah saling kuat kontak batinnya itu.
"Eh Yang..., jangan-jangan,"
"Huaaa... kayaknya iya deh! Mas?!? Aku..., biasanya bulan ini sudah datang bulan tapi ini udah telat semingguan lho!"
"Ya udah, besok istirahat di rumah dua hari. Fix, ga boleh ke toko. No debat! Aku ga mau calon adiknya Leo kenapa-kenapa! Nurut ya? Besok sore kita ke bidan Sani!"
"Mas..., ya koq..."
"No debat! Aku nanti yang telepon Maharani biar dia handle semuanya di toko kue kamu!"
"Hahh..."
"Ayo, ayo. Sekarang kamu masuk kamar, bedrest istirahat di kasur. Mau apa pun, bilang Aku. Aku yang berangkat beli!"
Senyuman Virly mengembang indah.
"Mas, belum tentu juga. Orang baru juga telat datang bulan seminggu lebih! Hehehe..."
"Feeling Aku ga pernah salah! Hehehe..."
Dan ternyata benar ucapan Rendy. Virly sedang mengandung janin calon anak kedua mereka dua minggu.
__ADS_1
Betapa bahagianya keluarga kecil itu karena untuk sembilan bulan kedepan akan hadir bayi mungil diantara mereka sebagai pelengkap kehidupan.
Hilda, Sapto turut bahagia. Juga Gunawan yang masih hidup sendirian belum lagi punya pasangan.
Maura semakin lengket dengan Radit meskipun hubungan mereka tidak ada ikatan seperti pacaran.
Namun keduanya memiliki hubungan batin yang lumayan besar sehingga seringkali berbagi cerita suka dan duka baik lewat ponsel maupun mengadakan pertemuan.
Berliana memulai hidup baru di kota kecil pulau lain di seberang sana.
Meskipun tinggal berjauhan, Maura dan Berliana masih tetap berhubungan walau hanya via benda pipih ajaib penyambung silaturahmi itu.
Hampir setiap hari mereka berhubungan. Kalau tidak telepon, setidaknya chat pendek atau kirimkan video lucu penyemangat.
Begitulah hubungan persahabatan mereka yang bukan kaleng-kaleng.
Kehamilan Berliana sendiri sudah semakin besar dan kini masuk usia delapan bulan.
Sebenarnya Maura ingin sekali pergi ke tempat Berliana. Tinggal di kota kecil tempat usaha abangnya, namun tidak bisa karena terkendala kerjaan yang kadung Ia tangani jauh sebelum kasus kematian Kuncoro bergulir.
Kuncoro sendiri sebenarnya sudah mendapatkan identitas baru. Namun masih dirahasiakan karena Ia juga sedang berproses untuk mengubah wajah dan jari sidiknya di rumah sakit khusus.
Mengubah identitas bukanlah hal yang mudah.
Meski terlihat simpel tetapi itu hanya tampilan luar saja karena setiap orang sudah memiliki jati diri yang sudah Tuhan beri sesuai perjanjian sebelum mereka lahir.
Kini, Kuncoro telah mati. Berganti menjadi seorang pria dengan nama Iqbal Maulana. Seorang pengusaha muda yang baru saja datang ke tempat Berliana dengan tujuan untuk bekerjasama dalam membangun suatu perusahaan batubara baru milik almarhum suaminya Berliana.
Kisah hidup yang rumit memang bagi Berliana.
Namun kenyataan, Sang Suami justru kini kembali datang dengan identitas diri yang berbeda.
Kuncoro melakukan operasi plastik mengubah sedikit bagian wajahnya sehingga benar-benar bukan lagi Kuncoro yang lama.
Wajah tampannya berganti, semakin berkharisma dan membuat Berliana jadi tergagap seolah harus memulai perkenalannya dengan pria yang baru dalam hidup.
Yang mengetahui rahasia ini hanyalah Gunawan, Maura dan Hilda. Sementara yang lain, tidak ada yang tahu.
"Mas...!"
Berliana yang pangling pada penampilan Kuncoro hanya bisa terpana dengan mata menatap lekat tak berkedip.
"Anna..."
"Mas..., Mas Coco!"
Keduanya berpelukan erat. Menangis melepaskan rasa rindu yang menggunung selama berbulan-bulan tiada pertemuan.
"Ganti panggilanmu, Sayang! Namaku sekarang adalah Iqbal Maulana. Terserah padamu, panggil Iqbal atau apalah!" bisik Kuncoro ditengah isak tangisnya dengan Berliana.
__ADS_1
"Aku akan memanggilmu Kakang Mamas saja! Boleh? Aku ingin kamu tahu, Aku mencintaimu! mencintaimu seorang saja Mas!"
Kuncoro alias Iqbal Maulana memeluk erat kembali tubuh istrinya yang sangat Ia rindui.
Lalu teringat kepada perut besar sang istri yang tinggal menghitung hari akan segera melahirkan.
"Sayang! Aku minta maaf..., Aku telah meninggalkan dirimu terlalu lama. Bahkan sampai harus berjuang sendirian melewati masa kehamilan dengan air mata yang banyak karena menangisi kepergianku."
Iqbal menangis kembali memeluk Berliana. Perut Sang istri berulang kali Iqbal elus-elus manja.
Berliana sengaja mengambil perumahan elit yang tertutup antara satu tetangga dengan tetangga yang lain sehingga kabar tinggal seatap dengan pria lain tidak terlalu menjadi omongan orang.
Berliana hanya mengarang cerita kalau Ia telah move on dan menemukan pengganti Kuncoro. Berliana mengatakan kalau Ia sudah berniat menikah lagi setelah habis masa nifas nanti.
Berliana yang kini telah mantap berhijab telah mengabari semua kerabat lewat status WhatsAppnya dengan memposting foto Kuncoro yang kini bernama Iqbal Maulana.
Di chaptionnya Ia meminta doa restu untuk memulai hidup baru setelah empat puluh hari melahirkan nanti.
Dan semua orang yang sekontak dengan Berliana bereaksi macam-macam.
Ada yang bahagia karena melihat Berliana bahagia, ada yang mencibir karena Berliana terlihat cepat sekali move on.
Namun untuk Gunawan, Maura juga Hilda, mereka tersenyum lega karena akhirnya Kuncoro datang juga menemui istri dan calon anaknya di kota Mataram.
Jodoh, rezeki dan umur, hanya Tuhan Allah Azza Wajalla yang tahu.
Apakah jodoh kita tertukar atau itu hanya ujian kehidupan, semua adalah Kehendak-Nya.
Virly, Berliana, Maura bahkan Hilda sendiri tidak tahu, siapa jodoh mereka sebelum pernikahan yang membuktikan.
Berpacaran lama dengan orang lain, berharap sampai naik ke pelaminan. Namun ternyata, harapan hanyalah kenangan manis sekaligus pahit. Yang hanya bisa dikenang tapi tidak untuk dimiliki.
Semua itu adalah kekuasaan Illahi Robbi.
Seperti Maura, setelah akhir-akhir ini Radit yang dulu cuek bebek kepadanya. Tiba-tiba di malam Minggu tiga minggu menjelang bulan puasa, Radit datang membawa membawa keluarga besarnya dengan hantaran dan seserahan.
Pernikahan digelar dalam hitungan hari saja. Yakni sepuluh hari setelah seserahan dan langsung menikah secara sederhana di Kantor Urusan Agama tanpa mengundang banyak orang seperti gaya pernikahan yang sedang viral di media sosial. Pernikahan resmi secara sederhana.
Bahkan Berliana yang telah masuk bulannya untuk melahirkan juga tidak diperbolehkan ke Ibukota karena khawatir kenapa-kenapa dalam perjalanan.
Rencana Maura, ingin sekali mengadakan pesta pernikahan nanti berbarengan dengan Berliana dan Kuncoro atau yang namanya kini adalah Iqbal Maulana.
Semua rencana di kepala tak berani Maura sesumbarkan.
Kejadian dalam hidup membuat dirinya semakin dewasa dan matang dalam berfikir.
Semuanya berubah kearah yang lebih baik.
Hidup ini, tiada yang tahu kedepannya akan bagaimana dan seperti apa.
__ADS_1
Hanya doa-doa pengharapan semoga kelak bahagia selamanya. Bisa melewati ujian terjal dan batu yang menghalangi jalan. Dan berhasil sampai ke tujuan dengan selamat. Aamiin.
...T a m a t...