(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 66 - Kuncoro Yang Sedang Menyamar


__ADS_3

Kuncoro masih melanjutkan penyelidikannya. Untuk berjaga-jaga, ponselnya sengaja Ia matikan.


Ini adalah pengintaian yang sudah tiga hari Ia lakukan di tempat yang sama. Berharap kerja kerasnya menjadi tukang mainan anak keliling dengan menggunakan sepeda mendapatkan hasil.


Tapi sepertinya suasana masih belum memperlihatkan pergerakan.


Jalan gang-gang masih seperti biasa. Tidak sepi juga tidak begitu ramai. Kadang Kuncoro juga duduk berjongkok di sekitar rental kayu yang terlihat biasa-biasa saja, bahkan memang sedikit mencurigakan karena pembeli kayu rata-rata adalah lelaki yang usianya sekitar tiga puluh tahun ke bawah. Alias pembeli usia muda.


Kuncoro perlahan menyusuri jalan. Lalu membunyikan terompet dagangan seraya berteriak nyaring.


"Sayang anak, sayang anak!"


Dia sengaja membuat kegaduhan dengan berteriak lantang. Karena dari penyelidikan sebelum berdagang mainan, Kuncoro mengetahui kalau pemilik rental kayu yang dicurigai sebagai bandar narkoba terbesar di desa itu memiliki dua anak kembar laki-laki berusia sekitar empat atau lima tahun.


Jadi Kuncoro berdagang hanya memancing putra-putra mereka keluar dari rumah dan tertarik membeli mainan darinya.



"Sayang anak! Sayang anak!"


Treroret treroret...


Kuncoro menekan alat bunyi-bunyian yang ada di stang sepedanya.


Benar saja. Hari ini Ia berjualan tepat waktu. Kedua bocah cilik pemilik rental berlarian keluar dari pintu pagar teralis rumah besar. Rental kayu dan rumah sang pemilik memang bersebelahan.


"Mamaaa, beli mainan!"


"Abang tunggu, Bang!" teriak yang satunya lagi sambil berlari kembali ke dalam rumah. Sepertinya ingin meminta uang dari Mamanya di dalam.


Sedangkan yang satunya masih diluar dan mendekati sepeda Kuncoro.


"Adek, pilih-pilih aja dulu!" pikat Kuncoro dengan logat bertolak belakang dengan kesehariannya.


Anak itu tampak sibuk memilih. Mulutnya sampai menganga saking asyik melihat mainan dagangan milik Kuncoro.


Tak lama kemudian seorang lagi yang tadi keluar dengan membawa selembar uang kertas senilai sepuluh ribu.


"Mana uang kamu, Reo? Minta Mama dulu!" katanya sambil mencolek saudara yang wajahnya begitu identik.


"Mamaaa..." Anak yang dicolek langsung berteriak dan berlari ke dalam. Ia ngambek karena saudaranya sudah membawa selembar uang.


"Hehehe, Adek mau beli yang mana?" tanya Kuncoro dengan suara lembut.


"Ini berapa, Bang?"


Sang anak menunjukkan sebuah mainan pistol tembak-tembakan.


"Dua puluh ribu, Adek!"


"Ini?" tanyanya lagi sembari memegang mobil Tamiya KW yang terbuat dari bahan plastik.


"Dua puluh lima ribu, Dek!".


"Ini?"


"Itu lima belas ribu." Kuncoro menjawab harga sebuah boneka ayam-ayaman yang bisa bergerak dan berjalan.


"Uangnya kurang ya?" tanya anak kecil itu lagi.


"Iya. Hehehe... Ini ada mainan yang sepuluh ribu. Mau yang ini?"

__ADS_1


Kuncoro mencoba memperlihatkan sebuah mainan mobil-mobilan dari plastik.


"Ga mau, jelek!"


Seketika Kuncoro tertawa kecil.


"Ini, ini juga sepuluh ribu, Dek!"


"Hm, apa itu?"


"Puzzle. Bongkar pasang buat tambah pintar."


"Iya deh!" katanya setelah melihat barang mainan yang dipegang Kuncoro.


"Ini. Terima kasih ya!"


Interaksi jual beli pun terjadi. Kuncoro masih mencoba menunggu seorang anak kembaran kembali.


"Dek, sodaranya mana?"


"Minta uang ke Mama!"


"Koq lama?"


"Mama lagi kerja bantu Papa bungkus obat puyer!"


Daebak.


Kuncoro mulai melebarkan penyelidikan.


"Obat puyer?"


"Iya. Papaku kerjanya dagang obat. Kakek yang buat, Mama yang bantu bungkus!"


"Di lantai bawah rumah."


"Riooo, kata Mama nanti beli mainannya di Indomarah! Ayo masuk!"


Terdengar teriakan kembaran yang satunya yang tadi masuk rumah. Ia hanya mengintip dari balik teralis. Rupanya Ia tidak diizinkan keluar lagi.


Seorang perempuan berpakaian seragam suster keluar dan segera menarik tangan anak yang sudah berbelanja mainan pada Kuncoro.


"Jangan ditenteng, Mbak! Itu Anak majikannya lho! Nanti malah kena marah. Bisa dipecat nanti!" sela Kuncoro pada perempuan yang ditebaknya kemungkinan adalah babysitter.


"Ga apa. Justru kata Nyonya saya harus dijinjing seperti ini! Hehehe... Mas, mas koq ganteng-ganteng dagang mainan? Mending jadi pacar saya aja, Mas! Saya jomblowati berkualitas lho! Hehehe..."


"Hehehe, saya orang yang gak punya apa-apa, Mbak! Kerjaan juga ya gini. Mbak kan liat sendiri! Malu saya Mbak!"


"Mas masih single khan? Takutnya punya bini, waduh masa' saya nanti dicap pelakor. Masalahnya pelakor sekarang lagi booming banget deh! Apa karena perbandingan cewek sama cowok itu sekarang cuma 30:70 ya?"


"Hehehe..., saya belum nikah Mbak! Masih berlebel bujangan!"


"Oalaa ... ganteng-ganteng bujangan! Hehehe, kerja sama Nyonya saya aja di sini! Gajinya gede tapi..."


"Tapi apa, Mbak?"


"Watiiiii...!!!" terdengar suara perempuan berteriak dari arah balkon.


Kuncoro dan babysitter yang bernama Wati itu kompak menoleh.


"Iya, Nyaaah!" jawab Wati agak gugup.

__ADS_1


"Mas, saya masuk dulu. Besok dagang lewat sini lagi khan ya?" bisik Wati pada Kuncoro.


"Iya." Kuncoro menjawab setengah berbisik.


"Watiiiii!!! Ngapain kamu lama-lama disitu? Tebar pesona kamu ya?"


"Iya eh enggak Nyonya! Wati masuk ke dalam, ini!" jawabnya dengan langkah tergopoh-gopoh masuk pagar teralis besi yang kokoh itu.


Sebelum menutup pintu pagar, Wati masih sempat memberikan kissbye nya pada Kuncoro yang tersenyum tipis.


Dasar si Mbak Wati ini! Hehehe...! Tapi baguslah. Ada sedikit kemajuan dari pantauan dua hari yang lalu!


Kuncoro perlahan pergi setelah agak lama berdiri di samping rumah besar pemilik rental kayu.


Matanya mengawasi rental kayu yang sepi. Bahkan barang dagangan berupa kayu gelondongan serta beberapa puluh batang bambu dinilai Kuncoro tidak masuk sebagai barang dagangan yang cukup banyak stoknya.


"Kenapa, Mas?" tanya salah seorang penjaga rental yang tiba-tiba muncul di hadapan Kuncoro.


"Ti_tidak, Mas! Ada anak ga, mainan Mas!" tawar Kuncoro pura-pura melancarkan strategi berniaganya.


"Anakku di kampung. Ga Mas! Tuh disana di gang sebelah lebih rame!" tutur mas-mas yang agak menghardiknya.


"Iya. Makasih Mas!"


Kuncoro mendorong sepeda ontelnya yang kusam dan berat karena dipenuhi dagangan mainannya.


"Permisi, Mas!"


..............


Sementara Berliana masih memikirkan jawaban Kuncoro tadi via ponsel.


Dilihatnya lagi profil sang calon suami. Tidak bergambar sama sekali.


Jemarinya mulai memencet huruf demi huruf menyusun kata menjadi kalimat.


...Mas, masih sibuk ya?...


Ceklis satu.


Pertanda hape Kuncoro sedang offline.


Hm... Ada yang aneh ga sih? Hhh... Agak mencurigakan juga ya tindak-tanduknya Abang Coco!


Berliana hanya menggumam dalam hati.


"Kenapa, Ber?" tanya Maura.


"Ini, koq Bang Coco hapenya off ya? Bukannya kalo pengusaha itu harusnya ponsel selalu standby on. Secara bisnis datang tanpa kita tahu ya ga ya?"


"Hm... mungkin lagi dicharger, Ber! Papa juga suka gitu sih!".


"Bisa jadi sih!"


Dahlah, Berlin! Kenapa sih Lo tuh parnoan banget orangnya!? Ya kali hape terus on sepanjang waktu. Adakalanya mati, habis batre, jaringan yang lagi error. Banyak sebab dan Lo ga boleh suudzon terlalu besar! Yang ada Bang Coco bakalan mundur dan gagalin pernikahan sama Lo gegara Lo terlalu stalking-in dia!


Berliana menghela nafas panjang.


Antara penasaran dan juga kangen menggelayut di dada.


Ya ampun, belum apa-apa gue udah berubah ngebucin gini sama Bang Coco! Hiks... Kangen!

__ADS_1


Ia hanya bisa berdoa dalam hati. Semoga calon suaminya adalah jodoh yang terbaik yang dikirim Tuhan untuk menyempurnakan hidupnya nanti. Aamiin...


BERSAMBUNG


__ADS_2