
"Coco!"
"Pah!"
Kedua Ayah dan anak itu saling berjabat tangan.
Kuncoro mencium punggung tangan Gunawan dan Gunawan menepuk bahu putranya yang gagah perkasa.
"Masuk, Co! Duduklah! Mau minum apa?"
"Apa saja, terserah Papa!"
Keduanya memang telah memiliki kedekatan sejak Kuncoro masih kecil. Terapi dulu panggilan Kuncoro masih 'Om' bukan Papa.
Kuncoro bertunangan dengan Virly tanpa izin dan sepengetahuan Gunawan.
Papa Angkasawan dan Mama Yenny yang menjadi walinya saat itu.
Tetapi setelah sebulan kemudian, Papa Mama yang selama ini ia kira orang tua kandung, ternyata bukanlah orang tua yang melahirkannya.
Kuncoro menemukan akta kelahirannya yang asli dan bertuliskan nama Gunawan dan Hilda.
Tanpa sepengetahuan siapapun, Kuncoro mulai mencari kebenaran tentang hidupnya.
Ternyata ia adalah putra kandung Gunawan dengan Mamanya Virly, tunangannya saat itu yang akan dilamar dalam waktu dekat ini.
Seperti suara petir yang menyambar di ujung kepala, cerita hidupnya bagaikan drama sinetron di televisi.
Kuncoro memutuskan hubungannya segera dengan Virly. Bahkan hanya lewat sambungan telepon karena Kuncoro tidak sanggup untuk menjelaskan apa dan bagaimana bisa ia membatalkan hari pernikahan mereka yang sudah dirancang jauh-jauh hari.
Kuncoro melarikan diri ke kota yang sangat jauh dari Ibukota. Kota Mataram. Kota yang akhirnya merubah jalan hidupnya menjadi seorang intelijen negara.
Semuanya adalah atas prakarsa Papa Angkasawan yang benar-benar memahami kesedihan hatinya yang gagal naik pelaminan dengan Virly.
Gunawan akhirnya Kuncoro panggil dengan sebutan Papa. Sama seperti Angkasawan, Papa angkatnya.
Kini keadaan sudah jauh lebih baik. Seiring kedewasaan Kuncoro yang semakin matang sempurna dan mulai bisa menerima takdir qodo dan qodar Allah Ta'ala.
"Kita akan ke Jogja minggu depan, Co!"
Gunawan menceritakan semuanya pada Kuncoro.
Putranya itu hanya diam dengan wajah tertunduk. Kuncoro terpekur setelah mengetahui kalau ia akan bertemu lagi dengan mantan tunangan dan keluarganya. Yang lebih menyesakkan adalah Mama dari tunangannya dahulu itu adalah Mama kandungnya.
Kuncoro tidak berani membukakan semua sejarah percintaannya kepada sang Papa.
Ia ingin ayah biologisnya itu mengetahui kisahnya nanti ketika mereka bertemu.
Jadi mulai sekarang Kuncoro harus mempersiapkan diri serta mental agar bisa bertemu Virly, Hilda juga Sapto dengan jiwa yang kuat.
Setidaknya, mereka tidak lagi mencari-cari keberadaan Kuncoro yang hilang begitu saja setelah memutuskan tali pertunangan dengan anak mereka hanya lewat japrian.
__ADS_1
Kuncoro kini telah menjadi pribadi yang lebih baik dengan keadaan mental jauh lebih baik. Apalagi pekerjaannya sekarang sebagai seorang Intel yang tidak diketahui bahkan oleh keluarganya sendiri.
Gunawan mengatakan kalau anak angkat Hilda dan Sapto akan memilih satu diantara mereka. Dan Kuncoro pernah bertemu beberapa kali dengan Berliana ketika masih berpacaran dengan Virly.
...............
Waktu berjalan terasa lambat bagi semua yang menunggu masa-masa pertemuan yang mendebarkan itu.
Malam Minggu, Kuncoro sudah berjanji akan datang ke kediaman Sang Papa dan akan bertemu Berliana serta Maura adik kandungnya di sana.
Maura juga Berliana sudah lebih dahulu datang dengan buah tangan cake layer yang sedang viral yang Berliana beli di toko kue sang Kakak.
"Abang Coco belum datang, Pa?"
"Baru otewe katanya barusan, Ra!"
Berliana dengan gugup ikut tersenyum mendengar interaksi Maura dan Papanya.
Ia sesekali melirik Gunawan yang berdandan begitu catchy hingga usianya terlihat jauh lebih muda dari umurnya.
Sejujurnya Berliana sangat ingin memilih Gunawan sebagai suaminya.
Selain sudah lebih mengenal dan mulai mengetahui karakter serta kepribadian Papa sahabatnya itu, Berliana sudah merasa nyaman untuk berbincang dengan Gunawan ketimbang harus bertemu pria baru yang usianya lebih cocok dengan umurnya.
Tetapi mengingat Gunawan dulu pernah berpacaran dengan Mamanya bahkan sampai punya anak, membuat Berliana seperti merasakan kegundahan hati jika Ia harus menikah dengan Gunawan nanti.
Ia sadar betul, nasib bisa dirubah. Tetapi Ia juga tak ingin takdirnya jauh lebih buruk dari nasibnya kini.
Usianya akan 26 tahun.
Mulai dari pertemuan dengan Rendy, pacar pertamanya. Lalu kecemburuan-kecemburuan Virly yang akhirnya mengetahui hubungan mereka di masa lalu. Berakhir dengan kasus tragis yang hampir merenggut ke-virgin-annya, Berliana kini dihadapkan untuk bisa memilih calon pendamping hidup yang akan menemaninya sepanjang usia.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
Gunawan menyambut kedatangan putra pertamanya dengan senyuman.
Maura yang berdandan begitu cantik ikut tersenyum terpesona melihat ketampanan Kakaknya.
Ketiganya saling berpegangan tangan dengan mata saling menatap penuh arti satu sama lain.
Darah lebih kental daripada air. Begitulah Muara dan Kuncoro saling berinteraksi tanpa kata.
Gunawan telah mempertemukan keduanya lewat sikap dan sifat yang baik yang diturunkan ke kedua anaknya yang berbeda Ibu itu.
__ADS_1
Sementara Berliana termangu dengan mulut menganga.
Seketika wajah pucat dengan tangan menutupi bibir berusaha mengatasi keterkejutannya setelah melihat Kuncoro.
Gunawan telah selesai berbasa-basi dengan Kuncoro dan bersiap memperkenalkannya pada Berliana.
"Kak Coro?!?"
"Berliana! Apa kabar?"
Mata mereka bertemu pandang.
Berliana tak percaya pada penglihatannya.
Pria tampan yang dulu sering ia ledek namanya 'Coro' yang artinya kecoa pada sang Kakak ternyata adalah putra dari Mamanya Hilda.
Pantas saja kak Coro menggagalkan rencana pernikahannya dengan Kak Virly! Ternyata... mereka satu Ayah yang sama!!!
Berliana masih terlihat shock ketika Maura meraih bahunya dan membawa Berliana berjalan bersama menuju ruang tengah.
"Kalian saling kenal?" tanya Maura dengan suara agak berbisik pada Berliana.
"Kak Coro mantan tunangan kakakku!" jawab Berliana spontanitas.
Maura membelalak. Ia memekik dengan suara keras, "OMG!!! Sempitnya dunia ini!!!"
Gunawan memandang Kuncoro dengan mata memicing. Sang putra mengangguk dengan senyuman tipis.
"Jadi,... kamu adalah tunangannya Virly yang memutuskan hubungan begitu saja sampai akhirnya Virly menikah dengan Rendy lewat perjodohan?"
Kuncoro tertawa kecil. Ia menunduk mengingat betapa dahulu dirinya begitu cinta Virly Rastanty. Dan kini dihadapkan untuk menjadi pilihan sebagai calon suami adik angkat tunangannya itu.
Betapa takdirnya begitu rumit. Tuhan sangat hebat mengatur semua skenario hidupnya bahkan sampai saat ini pun dirinya masih begitu bingung atas segala keajaiban yang Allah beri.
"Jadi, bagaimana Berliana? Kamu mau pilih siapa? Pilih Papa atau Abangku?"
"Hah?!?"
Tentu saja pertanyaan Maura membuat Berliana bingung.
Gunawan, bekas Mamanya. Sedangkan Kuncoro juga pernah dengan Kakaknya.
Sungguh jodoh seperti permainan ular tangga dengan dadu yang digulirkan dan Ia harus berjalan maju. Akankah kembali turun jika tepat berdiri di kepala ular, atau beruntung maju terus sampai finish, Berliana tidak tahu.
"Berliana?"
"Maura, Aku bingung!" bisik Berliana dengan suara bergetar.
Sontak sang sahabat tertawa terbahak-bahak.
Ia pun akan seperti Berliana jika dalam kondisinya seperti sekarang ini.
__ADS_1
Pilih siapa? Semua serba beresiko fatal bagi Berliana.
BERSAMBUNG