
Gunawan dan Maura sudah datang bersama Berliana ke kediaman Virly.
Mereka tampak saling melempar senyum dan suasana kekeluargaan kian hangat.
Kuncoro sendiri sampai saat ini mengabarkan kalau Ia akan terlambat datang sekitar setengah jam karena terjebak macet di pusat jalanan ibukota.
Sapto dan Gunawan berbincang di ruang tamu, sementara Berliana mengajak Maura ikut bergabung dengan Mama dan saudara angkatnya menata makanan di ruang makan.
Rendy yang sedikit kikuk karena ada Boss serta Papa mertua lebih memilih mengasuh Leo di ruang belakang rumah mereka.
"Mas, sssttt..."
"Apa, Yang?"
"Sana ikut gabung ngobrol sama Papa sama Pak Gunawan!"
Rendy menggeleng seraya menyunggingkan senyuman pada Virly yang menegurnya secara halus.
"Ish, sana! Belajar speak up sama orang-orang kelas atas!" bisik Sang istri membuat Rendy tertawa kecil.
"Tiap hari Aku speak up sama Pak Gunawan koq! Kamu aja yang ga tau!" ledek Rendy membuat Virly ikutan tertawa.
"Biar saja mereka mengobrol. Aku disini sama Leo. Nunggu makan siang tiba aja ya!"
Virly menyerah kalah. Rendy sudah berargumen dan Ia tak mau berdebat kusir dengan sang suami.
Alhasil Virly kembali lanjutkan tugasnya bersama Berliana dan juga Maura, sedangkan Mama Hilda menjadi leader.
Maura sendiri mulai menyusup masuk mendalami karakter mantan wanita Papanya di masa muda dahulu.
Ternyata kini pandangannya terhadap Hilda perlahan berubah. Dari yang kurang suka menjadi suka karena pada dasarnya Hilda adalah wanita yang baik.
Hilda juga ramah dan dewasa ketika mereka bertiga yang usianya muda bercengkrama soal penataan meja yang baik dan enak dipandang mata. Hilda memberi banyak masukan. Terlebih kepada Virly yang seorang owner dari toko online kue.
Maura memberanikan diri menceritakan keinginannya membuka kafe di suatu tempat rekreasi suatu saat nanti.
Berliana antusias, Virly senang dan Hilda juga memberi Maura semangat.
Obrolan mereka kian berkembang seru, tanpa membawa obrolan berat yang akan mereka hadapi nanti.
Tiba-tiba ucapan salam dari seseorang yang baru saja datang membuat suasana berubah.
__ADS_1
Virly termangu di depan pintu ruang tengah yang bisa melihat langsung ke pintu ruang tamu. Ia terkesiap ketika melihat sosok pria yang jadi tamu di rumahnya.
"Bang Coco!?!" desisnya seakan tak percaya.
Matanya tak berkedip menatap fokus pada satu titik yang ada di depannya.
Tanpa sadar, Virly melangkah mendekat dan...
Tangannya meraih bahu Kuncoro kiri dan kanan.
"Kemana saja kau selama ini, Bang? Dimana kamu bersembunyi? Kamu beneran jahat banget sama Aku! Jahat, Bang Co!!!"
Kuncoro hanya diam, tak berani menjawab.
Semua mata tertuju kepadanya. Bahkan sepasang mata milik Rendy yang terlihat membulat tak sanggup menutupi keterkejutannya.
Ternyata Kuncoro Adi Pangestu mantan pacar pertama istrinya adalah putra dari CEO Matta Network.
"Kamu...,"
Hilda tak kalah shocknya.
"Dialah putra pertama saya. Kuncoro Adi Pangestu!"
Kata-kata Gunawan bagaikan panah busur yang tajam menghujam tepat di jantung Virly juga Hilda. Sangat menyakitkan.
Bertahun-tahun yang lalu, ketika hubungan mereka masih sangat baik, Kuncoro masuk kedalam keluarga Sapto dengan penuh pesona.
Pria muda, tampan dan baik mencoba menaklukkan Virly yang adalah adik kelasnya di SMU yang sama.
Keduanya memang tidak seangkatan. Bahkan berbeda umur lima tahun dan tidak saling kenal di masa sekolah karena beda generasi.
Pertemuan yang terjadi pertama kali di acara reuni akbar SMU yang ke-25 tahun. Kuncoro dan Virly sama-sama alumnus yang bertemu dan akhirnya berkenalan setelah saling lempar senyuman.
Hubungan berlanjut dengan saling bertukar nomor pribadi. Saling chat tanya kabar dan perlahan mulai janjian ketemuan.
Rupanya mereka sama-sama saling tertarik. Obrolan menyambung dan hubungan terus terjalin.
Ternyata...,
Pantas saja Kuncoro tidak berani mengatakan putus secara langsung kepada Virly. Rupanya mereka masih ada hubungan darah. Sama-sama anak Mama Hilda.
__ADS_1
Dan Virly menangis sesegukan setelah mengetahui kenyataan yang ada.
Rendy segera mengapit sang istri yang benar-benar terpukul menerima kenyataan yang ada.
Rasanya begitu menyakitkan. Sampai Ia tidak lagi bisa berkata-kata.
Begitu juga dengan Hilda.
Lemas lututnya.
Ternyata sang putra yang selama ini Ia cari-cari sudah begitu dekat dengannya sejak lama.
Teringat pertama kali mereka bertemu. Saat Virly memperkenalkannya sebagai teman dekat dan Hilda menggodanya, "Teman dekat apa pacar ini?"
Saat itu Ia langsung terpesona dengan senyuman pria muda yang sedang menjerat hati putri cantiknya.
Rupanya...,
Sesak dada Hilda. Sapto mencoba menenangkan hati istrinya.
Dua wanita yang disayanginya itu sedang terluka dalam oleh lakon hidup yang penuh misteri.
Tiada yang bisa membuat skenario sehebat ini selain Tuhan Sang Maha Pencipta.
Butuh waktu lama untuk mereka bisa menerima kenyataan yang ada.
Bahkan acara pertemuan kedua bagi Gunawan justru bukannya membahas pernikahan Berliana dan lamarannya, melainkan hanya saling berdiam, bertatapan lalu menangis haru tanpa kata-kata.
Hingga empat sore, keluarga Gunawan berpamitan. Tak ada satupun yang bisa dibahas. Mereka lebih memilih rehat dan rendevous kisah masa lalu yang aneh bin ajaib.
Berliana sendiri tidak tahu kalau kehadiran Kuncoro akan sedahsyat itu mempengaruhi pertemuan mereka selanjutnya.
Sapto meminta maaf kepada Gunawan karena semua situasi diluar prediksi.
Dia berjanji akan kembali melakukan pertemuan dengan keluarga Gunawan membahas hal yang telah disepakati.
Gunawan pun pulang ke rumahnya dengan memboyong kedua anaknya serta Berliana juga.
Mereka akan lanjutkan pembicaraan di kediaman Gunawan.
BERSAMBUNG
__ADS_1