
"Kamu kenapa baru pulang, Mas?"
Begitulah wanita. Rasa amarah yang dari tadi Virly pendam seharian meledak pada saat Rendy baru saja mengetuk pintu dan Virly membukanya.
"Ck!"
Rendy hanya berdecak.
"Yang pasti bukan nongkrong sembarang nongkrong!" cetusnya dingin karena rasa yang terhina oleh sambutan Sang istri yang makin membuat Rendy gundah gulana.
"Mas..." Virly berusaha menekan nada suaranya.
"Yang! Bisakah kamu tidak memberondongku dengan pertanyaan yang menyudutkan? Aku penat. Capek! Dan kita bisa ribut gede kalau kamu terus-terusan seperti ini! Apa ini memang strategi taktikmu? Supaya kita mulus untuk bercerai?"
Deg.
Jantung Virly serasa mau copot. Rendy mengatakan hal yang paling dia takutkan.
Seketika perempuan berumur 30 tahun lebih itu diam membisu. Membiarkan Sang suami melenggang masuk ke kamar tanpa hambatan.
Lagi-lagi fikiran Virly meracau.
Semua hal buruk mulai membuatnya emosi dan bergegas mengikuti langkah Rendy.
Namun amarahnya perlahan mereda, Rendy dilihatnya sedang mencium pipi Leo yang sudah tertidur pulas di atas ranjang tidur kamar mereka.
Seketika Virly mengucapkan kalimat istighfar dalam hatinya.
Kini perempuan itu keluar dan duduk di kursi makan.
Tangannya dengan sigap menata makanan di meja makan setelah setengah jam dihangatkan ulang untuk makan malam Sang suami.
Terdengar suara langkah Rendy yang memasuki kamar mandi yang ada dalam kamar tidur mereka.
Suaminya terdeteksi akan mandi dengan air dingin tanpa minta dimasakkan air hangat jikalau ingin mandi malam hari seperti biasanya.
Virly ingin peduli, tapi hati kecilnya sedang terluka. Alhasil hanya bisa berdoa semoga sang suami tidak menggigil setelah mandi.
Sementara Rendy, begitu gengsi untuk minta bantuan Virly menjerang air untuknya mandi. Sehingga memilih mandi air dingin padahal sudah hampir pukul sembilan malam.
__ADS_1
Walaupun mandi bebek, tapi air bak yang terasa menusuk kulit bahkan sampai tulang sumsum.
Virly yang menggalau terkejut mendengar ponselnya berdering.
Ternyata Berliana yang menelponnya.
Adiknya itu berniat main ke rumah sang kakak besok karena libur kerja.
"Sama Maura?" tanyanya pada Sang adik.
"Enggak! Gue sendiri, Kak!"
"Ok!"
"Koq suara Lo lemes banget sih, Kak? Kenapa?" tanya Berliana dari seberang sana.
"Ga papa. Tar ja besok kita ngobrolnya!"
Oke! Leo mana?"
"Udah tidur!"
"Ya!"
Begitulah Virly. Dia akan sangat pelit bicara kalau sedang ada masalah.
Berliana sudah mengenal luar dalam sifat dan karakter kakaknya.
Rendy yang baru selesai mandi mendengar suara Virly telponan samar-samar. Semakin membuat dirinya berfikir jauh.
Pasti itu si Jodi selingkuhannya! Pasti pepet terus bini gua alesan ngajak kerja bareng! Sialan emang tuh bujang lapuk! Ga ngotak banget, bini orang pun niat diembat!!!
Rendy menghela nafas. Matanya menatap sedih wajah Sang buah hati.
Nak! Semoga Mamamu kuat iman ya!? Semoga Allah membukakan jalan fikirannya dan tidak melakukan hal-hal yang diluar batas. Papa tentu saja cinta Mamamu. Tapi kalo sampe Mama ingin tetap pergi, Papa bisa apa! Hhh ..
Lelah hati dan raga membuat Rendy jadi putus asa.
Ia duduk di pinggiran ranjang setelah selesai berpakaian. Tangannya mengusap-usap pipi gembul sang putra.
__ADS_1
Haruskah si Virly mengorbankan masa depanmu, Boy? Kamu adalah anugerah terindah yang Papa punya setelah menikah. Kamu harta berharga bagi Papa. Tiada yang lain, Leo!
"Makanlah dulu!"
Virly ternyata sudah ada di depan pintu. Dengan mata menatap penuh pada Rendy yang beralih sedih ke arah Leonardo.
Batinnya menangis pilu. Rindu sekali masa-masa pria yang duduk di tepi ranjang itu bermanja ria meminta sesuatu hal yang penting dalam hubungan suami istri. Malam sunah rosul, begitu orang menyebutnya.
Ingin sekali Virly memeluk wajah Rendy dan menenggelamkannya di belahan dadanya yang membusung.
Sampai Rendy terhanyut dan perlahan mengusap lembut kedua benda indah yang paling Virly suka, apalagi sejak melahirkan dan menyusui. Dadanya kian padat berisi meskipun ada ASI.
Bahkan Rendy pernah mengakui kalau dia sangat menyukai dada Sang istri. Susah move on selalu iri melihat Leo yang sering kali bermain di area itu. Gurauan Rendy kala itu membuat Virly tergelak.
Peluk gue napa, Boss?! Lo koq tengil amat sih jadi laki? Bisa kali, manis sedikit sama gue buat kelanggengan rumah tangga kita! Masa' gue sih yang harus duluan? Berasa kayak jajanan pasar aja yang ngebet banget kepengen diicip jadinya khan!?
Tanpa sadar Virly mendengus sebal.
Rendy bangkit perlahan. Berjalan ke luar kamar menuju meja makan.
Biar bagaimanapun Ia harus menghormati sang istri yang sudah memasakkan makanan untuknya. Walaupun sebenarnya Ia sudah makan malam tadi di resto bersama Berliana dan Mas Delon karena ditraktir Pak Gunawan.
Menu kesukaannya. Masakan ala-ala Sunda lengkap sambal dan lalapan mentah.
Virly mengambilkan nasi ke piring Rendy.
"Makasih!"
"Sama-sama!"
Interaksi yang dingin. Bahkan sampai membekukan semua benda yang ada di sekitarnya.
Makan malam yang sepi tanpa percakapan seperti biasanya.
Keduanya menyantap makan menu sayur lodeh yang nikmat itu dengan pelan. Terasa hambar dan dingin. Padahal Virly berusaha memasaknya dengan bumbu-bumbu istimewa. Berharap Rendy akan memujinya dan kembalikan kehangatan kasih sayangnya yang dulu selalu ada.
Setelah makan, keduanya tetap diam tak ada yang berani memulai percakapan.
Begitulah keadaan mereka. Kian kemari kian dingin bahkan semakin dingin.
__ADS_1
๐น๐น๐น BERSAMBUNG ๐น๐น๐น