
"Papa? Apa maksudnya dengan bilang kalo Papa punya anak lelaki usia 32 tahun?"
"Akan Papa ceritakan sesampainya kita di rumah, Maura!"
"Maura maunya sekarang!"
"Sabar, Sayang! Akan ada waktunya buat Papa bicara, Nak!"
"Sejak kapan Papa suka main rahasia-rahasiaan sama Maura!"
"Nanti di rumah, Ok?! Hehehe..."
"Ga mau! Maunya sekarang!"
"Okay tunggu sampai kita sudah kembali ke kamar hotel!"
"Huh! Bikin liyeur otak deh si Papa nih!" cetus Maura mulai sebal.
Sementara Berliana menanyakan kembali perihal kejelasan statusnya pada Sapto dan Hilda.
Sapto mengatakan semua kebenarannya.
Berliana hanya bisa terisak menerima takdir dirinya yang hanyalah seorang anak pungut dari rumah panti asuhan yang diadopsi keluarga Sapto Purnomo.
Sejak kecil Ia sudah merasakan keganjilan dalam pemberian kasih sayang di keluarga. Terutama dari Mama dan Eyang Uti-nya. Padahal Ia adalah putri bungsu di keluarga ini.
Mereka begitu menyayangi Virly, tapi kepadanya seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ternyata...
Hanya Papa seorang yang tulus menyayanginya. Mama, Eyang Uti tidak terlihat ketulusannya.
Anak kecil jauh lebih peka', tetapi Berliana berusaha mengabaikan dengan mencoba menghibur hati kalau Mama dan Eyang Uti menginginkan anak keduanya seorang laki-laki.
Bahkan ketika Berliana sakit TBC, Mereka tak segan untuk mengirimnya ke Selangor. Tempat adik Eyang Uti yang kurang disukai oleh mereka. Dengan harapan dan tujuan, Berliana jauh-jauh dari mereka. Tidak sampai menularkan penyakit menjijikkan itu kepada mereka. Kini Berliana faham semua.
"Terima kasih, Pa, Ma! Sudah merawat dan membesarkan Berliana sampai sekarang! Hik hik hiks... Anna sangat bersyukur sekali, karena diadopsi oleh keluarga yang terbaik. Anna tumbuh dewi dengan kasih sayang yang berlimpah. Bahkan pendidikan serta semua kemewahan, tak mungkin bisa Anna dapatkan kalau masih tinggal di panti asuhan. Hik hik hiks..."
Berliana menangis terharu.
Sapto juga Hilda merasakan kesedihan yang sama. Bahkan Papanya itu ikut menangis terharu sambil memeluk tubuh Berliana yang kecil.
Teringat betapa Ia menyayangi Berliana dan Virly tanpa pilih kasih. Karena kasihan pada keadaan bayi mungil yang tak berdosa, yang dibuang oleh orang tuanya yang tidak bertanggung jawab.
Hilda menangis mengingat betapa dirinya sangat jahat pada Berliana.
Itu karena Ia kecewa, Sapto ingin mengadopsi anak perempuan kecil yang menangis dihadapan kini.
Hilda pergi keliling panti asuhan hanyalah ingin mencari keberadaan sang putra yang diasingkan ibundanya. Bukan benar-benar ingin mengadopsi seorang anak. Terlebih seorang bayi perempuan yang cengeng dan suka sekali menangis demi mendapatkan perhatiannya.
__ADS_1
"Papa, Mama... izinkanlah Berliana menikah dengan Papanya Maura! Hik hik hiks..."
"Iya, Nak! Apapun itu, asalkan kamu bahagia, Papa pasti mengizinkannya! Doa restu Papa untuk semua kebahagiaanmu, Nak!"
"Kami hanya ingin melihat dahulu putranya!" sela Hilda ditengah isak tangisnya.
"Kamu ingin melihat putramu!"
Hilda dan Rihanna melotot kaget. Sapto sudah tahu semua kebenarannya.
"Papa?"
"Aku sudah tahu. Sudah mendengar semuanya dari mulut kalian sendiri! Kamu punya anak laki-laki yang diasingkan di panti asuhan oleh Mama Rihanna! Betul kan?"
Hilda menangis kian menjadi.
Rihanna hanya bisa tertunduk diam. Tak berani buka mulut.
"Papa... Hiks hiks..."
"Kenapa tidak menceritakan yang sebenarnya padaku, Hilda? Kenapa? Padahal kondisi kejiwaanmu sudah jauh lebih fight bahkan kamu sering kali mengajakku ke panti-panti asuhan dengan alasan ingin berbagi kasih! Kasih apa? Semuanya itu bullshiiiit!"
Hilda merangkul tubuh suaminya yang terlihat marah.
"Aku tidak marah, Hilda! Aku hanya kecewa! Kecewa padamu juga pada Ibu sebagai Ibu mertua yang sangat kuhormati!"
Virly yang mendengar suara ribut-ribut di lantai bawah minta bantuan pembantu rumah tangga orang tuanya untuk turun dan melihat ada apa.
"Kau ternyata sudah punya anak sebelum kita menikah!!!"
Virly yang baru saja tiba di lantai dasar seketika terkejut mendengar suara Sang Papa yang biasanya lembut tapi kini bagaikan auman macan.
"Papa? Mama? Ada apa sampai ribut besar seperti ini?"
Berliana yang melihat sang kakak berjalan tertatih dengan bantuan kruk segera membantu juga dengan linangan air mata.
"Ada apa, Anna!? Ada apa? Katakan padaku! Jelaskan ada apa ini!!!"
Virly panik. Ia menggoyangkan bahu Berliana meminta penjelasan.
Berliana menangis sambil memeluk tubuh sang kakak yang mulai terlihat cemaskan rumah tangga kedua orang tuanya.
"Mamamu dan Eyang Uti adalah pembohong, Virly! Mereka berdua pembohong besar! Perempuan-perempuan yang tidak punya perasaan! Bahkan selama 32 tahun menikah dengan Papa, bisa-bisanya mereka menyembunyikan bangkai kebohongan sebesar itu dari Papa!"
"Papa, maafin Aku, Pa! Please, Pa, maaf! Hik hik hiks..."
Hilda bersujud menyentuh kaki Sapto.
__ADS_1
Tetapi Sapto menghardik dan menghentakkan kakinya agar pegangan tangan Hilda terlepas dari sana.
"Bisa-bisanya kalian malah terus bersandiwara, bermain drama yang sangat buruk dengan menekan pria yang seharusnya kedatangannya membuat kalian malu! Gunawan kan pria yang pernah menghamilimu itu???"
"APA???"
Berliana dan Virly turut terpekik berbarengan.
"Putra kalian ada bersamanya, dan kalian panik bahkan masih tidak percaya!!! Kalian malah terus sombong bahkan nyaris mempermalukan pria yang dulu miskin itu dihadapanku juga dihadapan anakmu, Anna! Cih! Perempuan-perempuan tak tahu malu! Sudah tua tapi masih memikirkan duniawi saja! Tobat kalian!!!"
Virly ikutan menangis sambil memeluk Berliana.
Sang Mama benar-benar Papanya kuliti semua keburukannya.
"Dan Ibu,... seharusnya ibu adalah contoh yang baik yang bisa dijadikan panutan bagi putrinya. Bukannya justru menjerumuskan putrinya sendiri ke lembah nista kebohongan demi kebohongan! Lingkaran setan itu rupanya sudah mendarah daging di dalam tubuh ibu!!!"
Sapto juga tak segan memarahi Ibu mertuanya yang kali ini hanya bisa tertunduk malu. Rihanna hilang tajinya.
"Mulai sekarang, Aku tidak akan pernah menuruti lagi perkataan apalagi kemauan kalian! Jika kalian tidak senang dengan peraturan yang kubuat, silahkan hengkang dari rumah ini!!!"
Rihanna yang malu dengan wajah putih pucat bagaikan mayat segera pergi perlahan meninggalkan rumah putri dan menantunya yang sedang emosi jiwa karena nya.
"Eyang Uti!"
"Biarkan Eyang Uti-mu pergi! Mamamu pun kalau tidak terima ucapan Papa silahkan pergi! Rumah ini membenci para pembohong!!!"
Hilda masih menangis tersungkur di lantai, bersimpuh di ujung kaki Sang Suami yang amarahnya benar-benar menakutkan.
"Kau juga ingin ikut pergi seperti mamamu, Hilda???" teriak Sapto dengan suara menggelegar.
Hilda menggeleng cepat. Ia tidak ingin pergi dari rumah ini. Tidak ingin meninggalkan anak kesayangannya juga tidak ingin semakin membuat Sapto murka.
Ia menyadari kalau perbuatannya memang salah. Bahkan sangat kejam karena membohongi sang suami hingga 32 tahun lamanya.
Hilda tidak ingin sesak di dadanya kian menghimpit.
Hilda ingin akhiri semua kejahatannya pada Sang Suami juga putri-putrinya.
"Minta maaf pada putrimu Virly dan juga Berliana! Minta maaf yang benar dan katakan sejujurnya kalau kau memberi mereka seorang Kakak laki-laki yang selama ini kau dan Mamamu dzolimi hidupnya!!!"
Hilda menuruti semua perintah Sapto.
Hilda menangis menghampiri Virly dan Berliana yang menangis histeris.
"Maaf,... maafkan Mama Nak! Maaf, Virly... Anna! Hik hik hiks..."
Hilda jatuh pingsan. Kedua putrinya berteriak memegangi tubuh Sang Mama yang terkulai lemas.
__ADS_1
BERSAMBUNG