
"Dari mana saja kalian? Ya ampun! Bikin kita semua cemas saja!" tegur Kuncoro ketika membukakan pintu rumah besar Gunawan.
Maura dan Radit hanya tersenyum mendengar gerutuan Kuncoro yang mirip emak-emak itu.
Kuncoro memperhatikan Maura dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dandanannya sangat jauh berbeda. Bahkan hanya pakaian sederhana berupa kaos oblong dan celana pendek selutut saja.
Radit juga sama. Hanya beda warna dan motif saja, tapi style pakaiannya sama seperti Maura.
"Pakaian kalian koq,?"
"Maaf, Bang! Kami kemarin nginap di hotel bintang lima sialan!"
"Hahh?" tentu saja Kuncoro bingung dengan jawaban Maura yang ngasal.
Dia mulai berfikir negatif karena sang adik yang terlihat seperti pembangkang pasca putus cinta dari Xavier.
"Udah deh interviewnya. Aku mau balik ke kamar!" keluh Maura langsung berjalan menuju ruang pribadinya menjauh dari teror pertanyaan Kuncoro.
Gunawan yang baru saja keluar kamar setelah mendengar suara anak gadisnya hanya menatap bingung pada Kuncoro dan Radit.
"Dit! Ada yang mau gue omongin!"
Radit mengekor Kuncoro ke depan rumah.
Keduanya terlihat serius.
"Lo gimana sih? Kenapa jadi gak profesional gini? Lo tau kondisi adek gue tuh lagi kek gimana! Terus kenapa Lo juga matiin ponsel dan ga hubungin gue?"
"Maaf, Mas! Saya juga harus menjaga kondisi Maura yang masih turun naik. Kemaren hampir dua kejadian menimpa Maura. Saya,"
"Gue cuma minta Lo kabarin setiap saat kondisinya! Bukan matiin ponsel kayak orang lain ngintel! Lo lagi jadi pengawal! Terus, gimana kondisi Maura sekarang? Kemarin bikin onar ga di Green Hyatt?"
"Nyaris. Nyaris terjun dari ketinggian dua puluh sembilan lantai. Nyaris tenggelam dalam bathtub pukul sebelas malam."
"Hah? Ya Allah!!!"
Kuncoro menghela nafas. Hatinya semakin was-was dengan kondisi kejiwaan Maura.
"Saya minta izin, bawa Maura ke puncak pass untuk hiking siang ini."
__ADS_1
"Siang ini juga?"
Radit memberikan rekaman suara Maura yang mulai bangkit dan antusias ketika Ia ajak bicara semalam.
Kuncoro yang mendengar ulang obrolan Radit Maura hanya bisa melihat Radit dengan tatapan tajam.
"Dit! Gue percaya Elo! Tolong jaga adek gue!"
"Siap, Dan! Laksanakan!"
Kuncoro segera masuk kembali ke dalam rumah Papanya. Berliana yang baru selesai mandi dengan rambut tergerai dan masih basah langsung menyergapnya dengan pertanyaan.
"Maura mana, Bang?"
"Di kamarnya." Coco menjawab singkat, tetapi jemarinya justru usil memainkan ujung rambut Berliana.
Teringat pergulatan mereka semalam, Kuncoro tersenyum nakal. Dan langsung direspon Berliana dengan kedip mata garang.
"Maura tidak berbuat hal yang aneh kan Dit?" tanya Gunawan pada Radit.
"Alhamdulillah tetap saya dampingi, Pak! Semoga Nona Maura bisa legowo menerima kenyataan pahit. Lagipula cowok itu tidak sekeren yang saya duga juga. Hehehe..."
Maura keluar dari kamarnya dengan menenteng koper pink-nya yang berisi penuh barang kesayangan.
"Pa,... Maura mau jalan lagi sama Bang Radit!"
Sontak Gunawan tertegun. Pakaian Maura juga sudah berganti dengan jeans dan kemeja kotak-kotak kesayangannya.
Berliana segera merangkul bahu adik iparnya itu.
"Mau kemana?" tanya Berliana lembut di telinga Maura.
"Puncak, Ber! Kata Bang Radit, Aku tidak boleh menyia-nyiakan hidupku. Dan harus banyak healing biar ga pusing. Jadi, jangan ada yang berani larang. Justru seharusnya memberi dukungan, berikan kemudahan, isikan rekening ATM ku. Oke? Hehehe..."
"Sayang, kamu baru pulang. Sebaiknya besok lagi saja perginya. Ya?!"
Seperti biasa, Gunawan berusaha mencegah Maura. Membuat Maura langsung menoleh ke arah Radit dan tertawa sambil berkata, "See? Inilah Papaku! Hehehe..."
"Karena Papa sayang kamu!" timpal Radit membuat Gunawan mengangguk.
__ADS_1
"Ah, kalian semua sama aja! Ayolah, Maura janji akan jadi anak penurut dihadapan Bang Radit! Ya, Pa? Izinin Maura ya? Ada Bang Radit yang dua puluh empat jam ngawal Maura!"
"Tunggu!"
"Apa lagi, Bang?" Maura kesal karena Radit menghentikan langkahnya.
"Kita berangkat siang. Prepare dulu, bawa barang seperlunya aja. Kita juga cuma sehari bukan mau pindahan. Itu, bawa koper gede buat apa? Apa juga isinya kayak orang mau ngungsi seminggu?"
"Lah? Ini pakaian gantiku lah? Ga deh kayak semalem. Harus pake baju langsung dari pasar. Beneran bikin gatal!" seru Maura memberi pembelaan.
"Oke, sortir lagi. Kita bawa ransel aja, jangan koper!"
"Ck. Iya deh!"
Gunawan dan Kuncoro juga Berliana mulai faham. Ternyata yang bisa mengendalikan Maura saat ini hanyalah Radit seorang saja.
Maura sedang dalam fase bimbang, emosional tinggi, terkadang oleng dan frustasi karena ditinggal kawin pujaan hati.
Kadang ucapannya ngasal. Akalnya juga seringkali jadi pendek. Susah untuk diberi masukan apalagi nasehat.
Tapi melihat kedekatan Maura dan Radit yang baru saja terlihat akhir-akhir ini membuat Kuncoro juga Gunawan sedikit lebih tenang.
Maura bisa juga menurut diatur Radit.
Walaupun tidak seratus persen mengikuti arahannya, namun kemungkinan Maura bertindak frontal bisa diminimalisir dengan arahan Radit.
Setelah membongkar ulang isi koper Maura, pukul sebelas akhirnya mereka siap untuk berangkat.
Radit, Gunawan dan Kuncoro sudah berbicara serius di ruang pribadi Gunawan. Intinya Gunawan meminta Radit untuk lebih memantau Maura lebih baik lagi. Kuncoro menitipkan adiknya dalam pengawasan Radit. Dan mengingatkan pria yang seumuran dengannya itu untuk selalu menyalakan ponselnya.
Mereka adalah golongan orang-orang yang memiliki kemampuan IT yang cukup tinggi sehingga dengan mudah memasang dan melacak keberadaan target pantauannya.
Jadi tidak susah untuk Kuncoro mengetahui kemana saja Radit dan Maura pergi.
Namun Radit juga bisa saja memakai fake GPS untuk memalsukan lokasi tempat yang mereka datangi.
__ADS_1
BERSAMBUNG