(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 38 - Maura Bergerak Cepat


__ADS_3

Virly telah sampai di kota Jogjakarta setelah hampir sepuluh jam perjalanan dengan mobil yang dikendarai Ajie, sepupunya.


Pukul satu malam akhirnya mereka tiba di kediaman kedua orang tuanya.


Hilda dan Sapto telah mempersiapkan segalanya untuk menyambut putri serta cucu mereka walaupun tengah malam buta.



Keadaan Virly sangat mengkhawatirkan. Kaki serta punggungnya bermasalah karena kecelakaan lalu lintas beberapa hari yang lalu.


Virly menceritakan semuanya. Semuanya malam itu juga meskipun dirinya dalam kondisi lelah perjalanan jauh.


Termasuk cerita soal affair yang dilakukan Rendy dengan Berliana di belakang Virly.


Virly sedikit melebih-lebihkan cerita yang ada demi untuk menarik simpati Hilda dan Sapto agar lebih memihaknya ketimbang Berliana.


"Mama..., hik hik hiks... Virly udah buka juga rahasia Berliana didepan Rendy juga Ajie!"


"Soal apa, Sayang?" tanya Hilda harap-harap cemas.


"Soal Anna yang hanya anak angkat Papa Mama! Hik hik hiks..."


Lemas lutut Hilda. Dadanya berdebar mengingat masa lalu.


Sementara Sapto memahami kegundahan hati sang istri dan mencoba ikut menopang dengan menggandeng bahunya.


"Pa!..." lirihnya pada Sapto.


Sapto diam. Ia adalah pria matang yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari Hilda. Sehingga kedewasaannya selalu jadi nomor satu yang mampu membuat Hilda tenang.


"Sudahlah, Sayang! Sekarang kamu istirahat dulu ya? Ini sudah pukul dua malam! Yuk, tidur. Besok pagi kita baru bahas lagi semuanya. Apalagi kondisi kesehatanmu belum pulih. Jangan banyak fikiran, jangan terlalu dirisaukan juga. Nanti kita diskusikan lagi bagaimana baiknya. Ya, Sayang?"


Sapto menenangkan putrinya dengan bahasa yang lebih lembut.


Hilda mengangguk. Ia membantu Virly mengganti pakaian karena tangannya yang masih sakit dan susah melakukan apapun sendirian.


Itu sebabnya Virly memilih pulang ke rumah orangtuanya karena gengsi untuk meminta tolong terus pada Rendy karena hatinya yang sedang terluka juga.


Virly tidur di kamarnya. Sementara Leo sudah bermimpi indah disampingnya sejak masih diperjalanan.


Hilda memilih tidur bersama putrinya karena cemas kalau-kalau Virly butuh bantuannya. Sementara Sapto tidur di kamar sebelah.


Hilda dan Sapto adalah pasangan suami istri yang sudah menikah hampir 32 tahun. Usia Hilda kini 52 tahun sedangkan Sapto telah berumur 62 tahun.


Mereka menikah hampir sama seperti Virly dengan Rendy. Dengan perjodohan yang Ibu Rihanna Mamanya Hilda karena suatu alasan.


Hilda tidak dapat tidur. Hanya bisa menatap wajah-wajah polos Virly dan Leo yang sudah terlelap karena lelah setengah harian duduk di jok mobil.


Hilda sudah menyiapkan seorang baby sitter untuk cucunya besok. Ia melihat sendiri kondisi Virly rapuh luar dalam.


Planningnya akan membawa Virly berobat ke shinshe patah tulang setelah putrinya itu kondisi kejiwaannya kembali stabil.


Untuk kabar Berliana yang konon sudah Virly beritahu statusnya dalam keluarga, Hilda hanya bisa menghela nafas.


Hhh... Ini yang paling Aku takutkan! Ini, ya Allah! Aku takut Berliana tahu jati dirinya dan mulai mengorek semua informasi hingga mencari rumah yayasan tempatnya dulu ku ambil! Dan..., dan Aku... akan terbongkar semua aibku yang kututup rapat-rapat nyaris 32 tahun lamanya ini!


Hilda lagi-lagi menghela nafas.


Sapto suaminya sendiri bahkan tidak mengetahui kisah suramnya di masa lalu.

__ADS_1


Kisah yang dirinya dan Rihanna sang Mama tutupi dari semua orang termasuk Sapto, suaminya sendiri.


..............


Sementara itu di pagi hari,


Berliana telah bangun dari tidurnya.


Ia menyiapkan mental untuk pulang ke Jogja. Ada banyak pertanyaan yang ingin sekali ia ajukan pada Mamanya soal cerita yang Virly kakaknya katakan kemarin.


"Ber!"


"Iya, Maura?"


"Aku mau ke rumah Papa dulu ya? Kamu siap-siap aja, nanti jam sembilan kita jemput! Oke?" tutur Maura pada Berliana.


Gadis berumur 25 tahun itu sangat bersemangat pagi hari ini.


Semalam ia bermimpi indah sekali. Mimpi tinggal bersama Papa dan juga Berliana satu atap. Makan sarapan bersama, pergi kemanapun juga bersama.


Bahkan dalam mimpi Maura, dia terlihat sangat bahagia karena Berliana mampu mengimbanginya.



Sehingga Ia sangat ingin sekali cepat-cepat mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan.


Maura tak mau menunggu lama. Ia segera meluncur menuju rumah Gunawan, Papanya.


Gunawan sendiri sudah bangun dan mandi pagi. Bahkan Ia terlihat siap berangkat dengan pakaian rapi.



Setidaknya, Gunawan ingin tampil catchy dihadapan Berliana, calon istri yang disodorkan Maura untuknya.


Secara hatinya juga memiliki rasa pada gadis cantik sahabat putrinya itu. Setelah Maura mengatakan kalau ingin mencarikan jodoh untuknya, dan bilang lagi kalau putrinya itu tengah mendekati Berliana agar mau jadi Mama Tirinya, spontanitas Gunawan mulai mencari tahu tentang Berliana.


Gadis yang jadi bawahannya di departemen produksi itu lumayan santun dan baik pada semua karyawan.


Hatinya ikut sedih ketika Berliana terkena pelecehan s+ksual dari rekan kerjanya sesama karyawan kontrak baru.


Ingin sekali Ia turun tangan langsung, namun apa daya. Posisinya sebagai CEO dan juga belum jadi suami Berliana membuatnya menahan diri.


Gunawan mendengar cerita Maura kalau Berliana tidak seperti gadis-gadis kebanyakan lainnya yang pastinya akan langsung menerima pinangan Boss CEO sekelas dirinya.


Mapan, masih tampan, pengusaha kelas atas yang perusahaannya sangat diidamkan oleh semua wanita. Siapa yang akan berani menolak.


Bahkan Gunawan seringkali mendapatkan tawaran untuk one night stand dari para gadis belia bahkan yang lebih muda dari Maura umurnya.


Banyak diantara mereka yang menangis, pura-pura menceritakan kisah sedih percintaan yang kandas lalu ujung-ujungnya minta dinikahi oleh Gunawan dan bersedia walaupun hanya sekedar istri simpanan.


Gunawan hanya bisa tersenyum mengingat itu.


Usianya kini menginjak 51 tahun. Namun jiwa muda serta ide-ide kreatif yang brilian selalu tumbuh subur sehingga mampu membangun Matta Network menjadi perusahaan advertising yang cukup terkenal.


Gunawan mengenang masa remajanya yang suram.


Hanya seorang anak yatim-piatu tamatan SMA, yang datang dari suatu kampung dan hijrah ke ibukota. Tekadnya bulat, ingin menaklukkan kota Jakarta.


Terseok-seok di awal, bahkan terjungkal bahkan terhempas berkali-kali di usia mudanya yang sangat polos dan belum punya pengalaman apa-apa.

__ADS_1


Teringat pertama kali menjejakkan kaki di Ibukota. Kala itu usianya masih 17 tahun.


Masuk sekolah dasar di kampung ketika umurnya 5 tahun. Dan terus melaju tanpa tinggal kelas karena kepintarannya melebihi anak-anak yang usianya jauh di atas. Sehingga Gunawan bisa tamat sekolah menengah atas ketika usianya 17 tahun.


Berbekal ijazah SMA, Ia yang seorang penghuni yayasan panti asuhan izin pergi merantau pada Ibu Diana, pengurus panti yang sudah Gunawan anggap ibu kandungnya sendiri.


Gunawan ingin menjadi orang sukses. Ingin kembali ke kampung halamannya dengan menyandang nama besar dan membantu perekonomian yayasan panti asuhan yang morat-marit pada saat itu.


"Papa, Papa!"


Gunawan tersentak dalam lamunan.


Maura memanggilnya dari ruang tamu.


Ternyata putrinya itu telah datang.


"Wadiwaw! Si Papa! Keren abis eui dandanannya! Hehehe...! Mencurigakan deh nih!"


Gunawan menyeringai.


"Apaan sih!? Tiap hari Papa juga dandanannya kayak gini!" elaknya malu pada anak.


"Hilih! Kapan?"


"Hehehe...! Ya kali ini lebih all out. Biar kalian juga gak malu jalan sama Papa!"


"Hihihi..., berarti Papa menunggu pagi segera tiba dong ya? Hm... Love you, Pa! Semoga disegerakan pernikahan kalian! Aamiin!"


Maura merangkul pinggang Papanya yang masih sangat bagus postur tubuhnya itu.


"Yuk, berangkat?"


"Ga sarapan dulu?" Gunawan tanya balik.


"Ga usah. Nanti aja kita mampir di jalan!"


"Rendy Papa telpon dulu ya?"


"Jangan Rendy, Pa!"


Gunawan memicingkan mata.


"Kenapa? Rendy kan supirnya Papa?"


"Kita pakai supir lain! Bahaya kalo Rendy!"


"Bahaya kenapa?"


Gunawan masih belum faham maksud perkataan Maura.


"Papa, Rendy dan Berliana itu dulunya pacaran. Cinta monyet di masa SMA!"


Deg.


Seketika jantung Gunawan berdegup.


Pantas saja, mereka terlihat akrab satu sama lain ketika kita ada kerjaan bareng di lokasi syuting iklan waktu itu. Padahal mereka baru pertama kali bertemu, tapi seperti ada chemistry. Rupanya...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2