
Rendy yang sudah bangun pagi dan bersiap pergi kerja pagi ini mendapatkan chat dari Delon.
...Bro, Lo langsung ke kantor z. Pak Gunawan ambil cuti kerja tiga hari. Lo jadi driver kantor dulu sampe beliau masuk kerja lagi....
Seketika Rendy termangu.
Libur kerja tiga hari? Pak Gunawan? Mau kemana ya? Apa ada urusan penting ya?
Rendy yang belum sepenuhnya berfikir normal hanya bisa menghela nafas. Dia bersiap-siap untuk berangkat dengan motor matic Virly.
Mobilnya masih ada di Polresta tak jauh dari lokasi kecelakaan lalu lintas Virly. Belum diurus apalagi ditebus.
Rendy menunggu akhir bulan yang tinggal beberapa hari. Sampai tiba waktu gajian dan dia punya uang untuk mengurus semuanya termasuk membawa mobil ke bengkel.
Rumah sepi. Teramat sepi.
Bahkan Mbok Darmi yang biasanya paling sibuk di pagi hari kini terlihat jenuh hingga remote TV berkali-kali Ia pindahkan channel-nya.
Rendy berusaha menelpon Virly. Bahkan sejak pukul lima pagi tadi. Tapi hape istrinya sepertinya tidak aktif. Dijapri pun hanya ceklis satu.
"Mbok, Saya berangkat kerja dulu ya?" pamitnya pada mbok Darmi.
"Iya, Pak! Hati-hati di jalan!"
Rendy menghela nafas.
Biasanya Virly dan Leo yang mengantarnya sampai halaman. Tersenyum bahkan ramai gaduh pekik serta celotehan Leo yang semakin pintar. Kini hanya mbok Darmi saja yang membukakan pintu garasi rumah minimalis Virly tanpa lambaian tangan.
Hhh... Gini amat ya hidup gue!? Gimana kalo ntar gue beneran divorce sama Virly?! Beneran bakalan belangsak banget hidup gue!
Rendy menggumam dalam hati.
Tubuhnya sedikit lemas. Memikirkan keadaannya nanti di masa mendatang.. Rendy hanya bisa merengut sendiri.
Jalanan ibukota seperti biasa. Macet di pagi hari dengan intensitas emosi para pengguna jalan yang kian meninggi. Hingga sesekali terdengar suara klakson dari kendaraan roda dua maupun roda empat yang sepertinya sedang terburu-buru pengemudinya.
Tin tin tin
"Sabar wooy, macetos kalee'! Lo kira cuma Lo doang apa yang butuh nih jalan!?"
Rendy puas sekali berteriak ketika sebuah sepeda motor mengklakson dari belakang.
Sedikit terlampiaskan beban amarah dijiwanya karena memikirkan Virly.
Orang sekitar semua sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak pedulikan teriakan Rendy ditengah kemacetan yang melanda.
Tapi ada satu pasang mata yang memperhatikan Rendy dengan mata tajam.
Dia adalah Kuncoro, mantan tunangan Virly yang menghilang setelah hampir tiga tahun lamanya.
__ADS_1
Pria yang dulu begitu Virly cinta itu sudah tahu kalau pria yang sedang meluapkan emosinya adalah suami dari mantan tunangannya.
Kuncoro sendiri sampai saat ini masih bujangan. Belum menikah walau usianya telah menginjak 33 tahun lebih.
Keputusan untuk melarikan diri dari pernikahannya dengan Virly diambil setelah ia mengetahui silsilah keluarga dirinya dan juga Virly.
Ada satu hal yang tidak bisa Ia katakan apalagi jika harus melanjutkan pernikahan dengan gadis cantik yang sangat ia cintai itu.
Beruntungnya, meskipun mereka berpacaran hampir tiga tahun lamanya, Kuncoro masih menjaga kevirginan Virly sampai detik terakhir.
Mereka memang sudah lumayan jauh dalam berhubungan. Ciuman dan pelukan sudah jadi hal romantis yang seringkali mereka lakukan sebagai insan pribadi dewasa yang serius menjalin hubungan. Tetapi Kuncoro tidak berani membawa Virly sampai naik ke atas ranjang.
Kuncoro ingin sekali menikah dengan perempuan yang sangat dicintainya. Dan menikmati malam pertamanya benar-benar istimewa setelah halal dan sah menyandang predikat sebagai seorang suami. Begitu pikirnya.
Rupanya, ada baiknya juga pilihan yang diyakininya itu. Ternyata...
Rendy melesat pergi dari pandangan Kuncoro.
Kuncoro yang kini kembali tinggal di Ibukota setelah sekian lama menetap di kota Mataram juga melanjutkan perjalanan menuju kantor tempatnya bekerja.
Kuncoro kini telah menjadi anggota Kepolisian dengan jabatan Intel. Dan tidak ada yang tahu itu termasuk keluarganya sendiri.
Pelariannya tiga tahun lalu membuat Kuncoro mengikuti pelatihan khusus diluar jalur sekolah tinggi intelijen negara.
Ia adalah salah satu yang paling beruntung karena jabatan orang tua angkatnya yang seorang dewan aparatur negara. Untuk orang lain butuh waktu empat tahun lamanya kuliah dan baru bisa mendapatkan tempat di Bareskrim dengan kasus-kasus besar, tapi tidak dengan Kuncoro.
Kembali kepada Rendy.
Hari ini dia ditugaskan untuk mengantar logistik alat-alat syuting periklanan di tempat syuting yang sudah ditentukan.
Rendy menjadi supir yang mengantar Delon dan beberapa orang bagian produksi.
"Pak Gunawan liburan, Mas?"
"Entah, Ren! Saya juga ga tau. Tapi ada kaitannya sama Maura sih! Katanya Maura yang ajak!"
"Maura???"
Seketika Rendy merasakan debaran jantungnya kian meningkat.
Berliana bilang hari ini mau ke Jogja sama Maura! Apa diantar Pak Gunawan? Terus, fungsinya Pak Gunawan sebagai apa? Kapasitasnya itu mau ngapain mereka?
Tiba-tiba Rendy mengingat ucapan Berliana sebelum pergi dari rumah Virly ketika keributan kakak beradik itu terjadi.
"Kak! Besok siang ada yang bakalan datang buat ngelamar gue! Plis lah, gue udah ngomong kalo mereka harus minta izin Lo sebagai Kakak kandung gue!!!"
Apa... Pak Gunawan yang mau ngelamar si Berlin? Hah??? Apa iya???
__ADS_1
Wajah Rendy suram seketika. Teringat kembali ucapan Berliana semalam via telepon.
...[Eh, semprul! Bilangin ma bini Lo, besok gue mau ke Jogja sama Maura!]...
"Maura? Ikutan ke Jogja? Ngapain?"
...[Lamaran! Eh, jangan sampe lupa! Bilang sama Kak Virly!]...
Hampir saja dia lupa kalau sedang bekerja menyupiri Delon dan melampiaskan emosinya.
Ber..., otak Lo dimana Ber? Pak Gunawan mau Lo jadiin suami kah? Beneran ini??? Berlin, sadar Ber! Maura itu anaknya Pak Gunawan, seumuran sama Lo! Apa Lo mau disebut Tante girang yang doyan morotin Om-om malah mungkin lebih tepatnya kakek-kakek kalo seandainya Maura nikah muda dan punya anak! Yassalam...
Rendy benar-benar tak habis fikir.
Jiwa juga hatinya terbakar sangat panas.
Padahal Berliana itu bukan siapa-siapa dirinya. Hanyalah adik ipar. Adik dari Virly istrinya sendiri.
Ya Tuhan, tolong sadarkan fikiran Berliana! Semoga dia bisa mengambil jalan yang benar untuk masa kini juga masa depannya.
Treeet... treeet... treeet
...Berliana is calling...
Cekiiiit...
Rendy mengerem laju mobilnya dan mengangkat telpon Berliana.
"Hallo?! Berlin?"
...[Ren, bilangin Virly, gue otewe Jogja sekarang!]...
"Ber, hape Virly mati dari semalem! Ber, Berlin! Lo mikir pasti gak pake otak deh!" semprot Rendy tanpa mempedulikan Delon yang melongo di jok belakang.
...[Apaan sih Lo? Kaga jelas beud jadi orang!]...
"Berliana! Batalin semua yang ada dalam otak Lo! Jangan sampe Lo nyesel seumur hidup nantinya!!!"
...[Gue yang nyesel seumur hidup karena udah kenal sama Elo!!!]...
Klik.
Berliana mematikan ponselnya. Tinggalkan Rendy yang bengong menatap jalan raya.
"Ren, Rendy! Heh, kenapa sih? Ada masalah? Wooi!!!"
Rendy menoleh lemas ke belakang seraya menghela nafas.
Tuhan! Benarkah ini adalah jodohku yang tertukar? Mengapa Kau buat hatiku hancur berkeping-keping seperti ini lagi? Rendy meratap dalam hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG