(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 67 - Hubungan Yang Membaik


__ADS_3

Virly sibuk di dapur dengan menu masakan yang istimewa. Ia ingin memberikan kesan yang baik untuk menyambut Kuncoro yang akan menjadi adik iparnya setelah menikah dengan Berliana.


Sungguh hubungan yang rumit.


Bagaimana tidak, Kuncoro adalah putra pertama Mama Hilda. Berarti Kakak kandung bagi Virly.


Lalu ada rencana akan menikahi adik angkatnya Berliana, yang sedari kecil tumbuh besar bersamanya.


Virly nantinya akan memanggil Kuncoro apa? Kakak atau adik? Jelas-jelas ini akan menjadi hubungan yang rumit.


Tapi begitu Tuhan punya Kuasa.


Tak ada yang mampu melawan takdir. Karena Tuhan Pasti Maha Baik yang ingin umat-Nya memahami akan arti hidup yang sesungguhnya.


Seperti halnya Hilda. Hari-harinya kembali berjalan normal dan rumah tangga bersama Sapto kini mulai tenang seiring semakin berubah dirinya ke arah yang lebih baik.


Hilda menelpon Gunawan atas prakarsa Sapto untuk menanyakan nomor pribadi ponsel Kuncoro putranya.


Gunawan terkejut mendengar suara Hilda yang diload speaker suara pembicaraannya di depan Sapto sang suami.


Hilda tidak ingin ada lagi kesalahpahaman. Usianya sudah tak lagi muda. Mencari sosok pendamping hidup yang mengerti dan bisa mencover semua permasalahan yang datang menghadang, tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Hilda telah mengerti betapa Allah sangat sayang padanya.


Cinta di usia muda yang membuatnya salah langkah hingga mendapatkan masalah hidup runyam sampai saat ini adalah ujian yang harus Ia jalani dan sikapi dengan hati ikhlas.


Semua telah terjadi.


Waktu telah membuat dirinya menerima takdir yang Tuhan beri.


Percintaan yang kandas karena tiada restu orang tua, hubungan yang terlalu jauh hingga melanggar aturan hukum agama juga negara, membuat Hilda merasakan hidupnya gelisah sepanjang masa.


Terlebih dosa dan kesalahan yang tak bisa mempertahankan buah hatinya hingga akhirnya tak tahu lagi dimana Sang putra berada.


"Hallo, assalamualaikum..."


...[Waalaikum salam... Dengan siapa saya berbicara?]...


Hilda merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat.


"Ini Aku, Hilda! Apa kabarmu, Gun?"


...[Baik. Kamu sendiri, apa kabarnya?]...


"Aku juga baik. O iya, Aku sengaja meminta nomor ponselmu pada Mas Sapto. Niatku ingin meminta maaf kepadamu soal kejadian terakhir kali kita bertemu!"


...[Iya. Aku juga minta maaf, Hilda. Maaf atas semua kesalahan yang pernah kulakukan kepadamu dulu]...


"Boleh Aku meminta nomor telepon Kuncoro? Apa... Apa Kuncoro masih membenciku?"


Hilda menitikkan air mata.


Bibirnya gemetar, tangannya bergetar.


Sapto segera meraih jemari Hilda yang dingin dan basah keringat.


Kedua bola mata suami istri lawas itu saling bertatapan.


...[Kuncoro tidak pernah membencimu. Biar bagaimanapun, ia mengakui kamu adalah Ibu kandungnya. Yang telah melahirkannya ke dunia dengan susah payah serta pertaruhan nyawa]...

__ADS_1


Air mata Hilda kian tumpah.


Ucapan Gunawan tentang Kuncoro semakin membuatnya tambah bersalah.


Teringat masa-masa awal mereka mulai saling mengenal karena Kuncoro yang sering datang berkunjung menemui Virly setiap malam Minggu.


"Anak itu memang anak yang baik! Hik hiks... Terima kasih, telah mendidiknya menjadi pria tangguh yang berhati mulia!"


...[Sebenarnya bukan aku yang mengasuh dan merawat Coco dari kecil. Ada keluarga baik hati yang mengurus dan membesarkan Coco]...


"Terima kasih banyak atas semuanya. Aku..., aku tidak tahu harus membalas dengan apa. Hik hik hiks... Aku, minta maaf Gun! Juga atas nama Mamaku. Kumohon maafkanlah kami semua yang sangat jahat dan buruk hati ini!"


...[Sudahlah, Hilda.. Semua sudah berlalu. Dan kita masih akan terus berhubungan untuk menikahkan Coco dengan Berliana. Apakah kamu menyetujuinya? Apakah akan merestui hubungan mereka hingga janur kuning melengkung dan Coco ucapkan ijab kabul?]...


"Iya. Aku dan Mas Sapto menunggu hari itu tiba. Kami akan bersiap untuk acara besar putra-putri kita."


Sapto tersenyum bahagia. Istrinya mulai bisa menguasai diri dan berbicara dengan lancar seperti biasa.


Hatinya yakin, hubungan yang pernah buruk dan sangat menyakitkan dulu itu kini perlahan berganti menjadi hubungan kekeluargaan yang diridhoi Tuhan.


"Ya sudah. Tolong kirimi Aku nomor pribadi Coco, Gun. Tapi kalau khawatir Coco marah, sebaiknya hubungi dulu dia. Katakan padanya, Aku meminta nomor WhatsAppnya."


...[Akan kukirimi nomornya. Tapi satu hal yang mau kuberi tahu. Terkadang nomor Coco seringkali tidak aktif bahkan bisa berhari-hari. Jadi jangan panik jika suatu ketika kamu chat dia, tapi tidak segera ada balasan. Bukan berarti anak itu tidak mau membalas chatmu, Hilda. Tapi dia sedang fokus dengan pekerjaannya]...


"Iya. Aku mengerti."


...[Baiklah, kukirim nomornya]...


"Terima kasih. Kututup teleponnya. Assalamualaikum..."


...[ Waalaikum salam]...


Hilda menggenggam erat tangan Sapto.


Sapto bagaikan malaikat tak bersayap yang Tuhan kirimkan untuknya.


Hilda teramat bersyukur memiliki suami seorang Sapto.


Sementara Gunawan termangu di depan layar laptop kerjanya. Suara Hilda yang dulu teramat sangat Ia rindui, baru saja menggema di telepon seluler miliknya.


"Hilda...! Hhh ..."


Gunawan segera tersadar kalau Ia masih berhutang janji untuk mengirimkan nomor kontak putra pertamanya itu pada Hilda.


Segera Ia kirim dan Hilda langsung membukanya di ponsel miliknya setelah ada notice pemberitahuan masuk memberi kabar.


Hilda melihat nama yang Gunawan sematkan, ABANG COCO.


Jadi selama ini Coco adalah darah dagingku. Dan Aku sama sekali tidak punya pikiran kearah itu. Hhh... Padahal dulu kami lumayan dekat dan akrab. Bahkan kami sempat berfoto bareng di suatu acara di kantor tempat kerjanya Mas Sapto!


"Pa,"


"Hm?"


"Papa masih nyimpen foto Aku sama Kuncoro di acara family gathering perusahaan tempat Papa kerja dulu?"


Sapto mengerutkan dahinya.


"Sepertinya masih!"

__ADS_1


Sapto mencoba membuka galeri foto di ponselnya.


"Ini!"



Hilda menatap layar ponsel tanpa berkedip.


Ada riak kerinduan di bening bola matanya.


Saat itu mereka berfoto bersama putri serta putranya teman Sapto. Dan dia menarik Coco untuk ikut berfoto ria. Kalau tak salah, Virly saat itu sedang ke toilet dan terlalu lama untuk menunggu Virly turut serta. Sapto yang mengambil gambar mereka berempat.


"Boleh Aku minta dikirimkan, Pa?"


"Tentu. Pasti mau kamu ambil dan cetak fotonya khan?"


Hilda tersenyum malu. Sapto begitu mengenal karakternya.


Kini Ia telah memiliki satu gambar diri yang berdampingan dengan sang putra yang teramat dirindukan.


Kuncoro Adi Pangestu. Nama yang bagus. Kini tersemat dalam hati sanubari Hilda yang terdalam.


"Terima kasih, Pa! Kamu adalah,"


"Sstt... Jangan banyak berkata-kata lagi! Kita ini adalah sepasang suami istri yang InshaAllah akan saling dukung sampai salah satu diantara kita diambil Tuhan Yang Maha Kuasa!"


Hilda mengusap pipi Sapto.


"Sampai ajal menjemput dan sampai kita dipertemukan kembali di akhirat nanti!"


"Aamiin..."


Hilda jatuh cinta. Jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada Sapto sang suami.


Ingatannya kembali pada awal pertemuan mereka.


"Mas..."


Saat itu Sapto muda menoleh, seorang perempuan berpenampilan agak acak-acakan memanggilnya.


"Ini. Suratnya jatuh!"


Hilda muda, yang baru saja dua bulan melahirkan dan kehilangan jejak putranya harus stres, depresi mengarah kepada gangguan kejiwaan.


Hilda terpaksa dirawat di RSJ milik orang tua Sapto. Dan siang itu, Hilda melihat Sapto kejatuhan sesuatu dari kantong celananya.


Sepucuk surat.


Dan Hilda yang tidak gila total itu mengambil surat yang jatuh itu, lalu setengah berlari menghampiri Sapto.


Nafas Hilda yang terengah-engah, membuat Sapto merasa kasihan dan mengajak Hilda duduk di bangku taman rumah sakit untuk istirahat.


"Ini surat Mas. Saya lihat ini jatuh dari kantong saku celananya."


Sapto yang terkejut langsung murung melihat kembali amplop putih bercap prangko dari negara kangguru itu.


Surat dari Gabriella, kekasihnya yang sedang melanjutkan S2nya di kota Melbourne Australia sana. Dan itu adalah surat kematian hubungan mereka. Gabriella memutus tali cintanya dengan Sapto.


Seketika Sapto yang baru putus cinta, membuang semua rasa pada Gabriella dan beralih mengejar cinta Hilda.

__ADS_1


Pasien dengan gangguan jiwa sedang yang depresi karena ditinggal kekasih yang telah menodai kehormatannya. Begitu yang Sapto dengar dari Ibu Rihanna.


BERSAMBUNG


__ADS_2