
Rendy pulang kerja pukul empat sore.
Akhirnya ia kembali juga ke rumah Virly setelah mengetahui kalau keluarga kakak serta Papanya datang berkunjung menjenguk Sang Istri yang setengah bulan lalu mengalami kecelakaan.
Sangat terlambat memang, karena kini Virly bahkan sudah sembuh dan bisa beraktivitas kembali walaupun belum normal sepenuhnya.
Tetapi Virly memang langsung pergi ke rumah orangtuanya di Jogja setelah pulang dari rumah sakit.
Papa Rendy beserta ketiga kakaknya sebenarnya akan menjenguk ketika sang menantu dirawat, namun ada sedikit kendala sehingga mereka batal.
Rendy berusaha sewajar mungkin dihadapan keluarganya.
Sedari awal, ia memang tidak suka berbagi cerita sedih pada keluarganya. Tak ingin membagi duka selain gembira, karena memang niatnya berumah tangga adalah untuk mengurangi beban keluarga.
"Gimana kerjaanmu, Ren?"
"Baik, Pa."
"Alhamdulillah, syukurlah!"
"Tadinya Ren mau ambil kerjaan yang di Bandung. Ada cabang anak perusahaan di sana. Tapi entahlah, kalo Rendy ambil kasian Leo sama Virly juga."
Virly mendongak.
Tangannya langsung meraih tangan Rendy.
"Iya? Di Bandung? Apa... Aku bisa ikut?"
Kedua pasutri muda itu saling bertatapan.
"Sudah kubatalkan, Yang!" jawab Rendy agak bingung.
"Aku selalu memimpikan kita tinggal di kota kembang. Jauh dari keluarga, kerabat dan sahabat. Belajar berdiri di atas kaki sendiri. Rasanya pasti seru ya Yang!?"
Rendy menatap Virly tak berkedip.
Istrinya itu memang luar biasa. Tak dapat Rendy prediksi semua yang ada dalam diri Virly. Selalu membuat Rendy terpukau.
Tanpa sadar Rendy menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan.
Sontak suasana menjadi riuh seketika.
Papa, Afdal kakaknya, istri dan dua anaknya tertawa berbarengan.
__ADS_1
Virly senang bukan kepalang. Permasalahannya yang kemarin sangat panas dan mengkhawatirkan justru kini mencair dengan sendirinya.
Pelukan Rendy-lah yang selalu ia butuhkan. Dalam setiap keadaan. Dalam situasi yang menyesakkan dadanya.
Virly ingin sekali dipeluk sang suami dan diberikan kata penghiburan.
Rendy mencintainya. Virly tahu itu. Virly juga bisa melihat dari cara Rendy menjaga dan merawatnya selama ini.
Tetapi Rendy kurang peka'. Sisi romantisnya seringkali tidak bisa keluar disaat-saat yang justru sangat Virly butuhkan.
Waktu telah menempa keduanya untuk saling cinta dan semakin cinta.
Tetapi ada sisi gelap dari sifat keduanya yang bertabrakan dan akhirnya seringkali menimbulkan kesalahpahaman.
Rendy yang suka pergi begitu saja dikala Virly tengah dalam tingkat emosional yang tinggi. Virly hanya butuh kesabaran Rendy. Virly butuh pelukan hangat serta sikap dewasa Rendy yang ada usaha untuk menenangkannya. Bukan pergi begitu saja tanpa kata-kata.
"Itu untuk menjaga kestabilan emosiku juga, Yang! Kalo aku tetap ada dalam lingkungan keributan yang semakin memanas, Aku bisa gelap mata! Aku belajar banyak dari bang Togar! Dia selalu begitu setiap kali ribut sama istrinya!" bela Rendy ketika keluarga besarnya sudah pulang dan mereka kini sedang me time berdua.
"Ish Ayank! Aku kan bukannya istri Bang Togar! Aku ini istrimu yang punya banyak kekurangan dan sulit tegar tanpa belaian lembut pelukanmu!" semprot Virly membuat Rendy tertawa gemas.
Direngkuhnya bahu Virly.
Tawanya meledak sementara Virly justru terisak.
Tangisan Virly membesar.
"Apaan! Kamu peka' banget waktu si Anna ada masalah! Hik hik hiks... Kamu meluk dia bikin aku cemburu buta, kebakaran jenggot! Kamu cuek-cuek aja Aku ngambek. Bukannya kasih penjelasan yang dibarengi pelukan juga, malah pergi gitu aja! Kamu pikir hatiku ga sakit apa? Hik hik hiks..."
"Oala Beby, maaf, maaf..."
Rendy memeluk Virly lebih erat lagi. Dikecupnya pucuk kepala sang istri yang sedang menangis tersedu itu.
"Aku cemburu! Aku marah, Aku kesal. Tapi kamu tidak peduli! Huuu..."
"Kamu juga meluk Mas Kuncoro!"
"Itu karena Aku sedang panik! Aku kesal sekaligus iri pada Anna! Dia bisa dapat pelukan hangat kamu juga bisa menaklukkan Bang Coco! Tapi Aku sulit sekali mendapatkan perhatianmu juga ditinggalkan dia tanpa penjelasan yang membuatku harus tetap waras. Kamu tahu? Aku sulit sekali bertingkah seperti Anna yang sweet padahal dia tidak sedang menarik perhatian orang. Anna selalu berada di antara orang-orang yang sayang dan peduli padanya. Sementara Aku, tidak sehumble Anna, Mas! Itu kelemahanku sedari kecil. Itu sebabnya temanku tidak sebanyak Anna. Circle pergaulanku tidak seluas dia yang sangat mudah akrab dengan siapapun. Hik hiks..."
Rendy mengerti sekali ucapan Virly. Secara tidak langsung Ia juga mengakui dirinya mirip Virly. Pemalu dan agak sulit bergaul terutama dengan lawan jenis.
Sisi gelapnya yang sejatinya merindukan kasih sayang kelembutan seorang wanita akhirnya Ia dapatkan dari Virly.
Virly yang resmi menjadi istrinya mengurus semua keperluan Rendy secara perlahan dan bertahap.
__ADS_1
Hingga hatinya terbuka dan mata batinnya melihat kebaikan jiwa Virly yang luar biasa.
Wanita cantik itu benar-benar mendedikasikan diri serta hidupnya dengan belajar mencintai dan menjadi istri Rendy.
Semua karena Allah. Cinta tumbuh dan berkembang dalam hati keduanya.
"Kamu harus tau, kelemahanku adalah tidak bisa berfikir panjang ketika sedang diuji masalah. Aku seringkali blank tak bisa berfikir normal. Ucapanku pada Bang Coco kemarin malam itu hanyalah pelampiasan agar sesak di dada ini pergi dan menghilang. Bukan kata-kata yang keluar dari lubuk hati. Demi Allah, aku sangat menyesal, Mas! Sangat sangat menyesal sekali! Maaf... hik hik hiks... Pada akhirnya Aku melukai lagi perasaanmu."
Keduanya saling rapatkan pelukan.
Menangis dan tenggelam dalam penyesalan.
Sikap mereka memang masih belum bisa dewasa sepenuhnya. Tetapi kehidupan mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya.
Bahwa jodoh tidak mungkin tertukar. Tuhan telah menentukan siapa jodoh siapa. Bagaimana alur ceritanya. Seperti apa penyelesaiannya. Semua menjadi pelajaran dan pengalaman hidup bagi Rendy juga Virly.
Rendy menggendong sang istri ala bridal.
Membawanya ke dalam kamar dan merebahkan dengan penuh perasaan.
Air matanya turun menetes.
"Maafkan Aku, Virly Sayang! Aku belum bisa memberikan yang terbaik kepadamu. Maaf ya, selalu menyusahkanmu. Jujur dalam hati kecil, Aku juga ingin sekali membuatmu bahagia. Memberimu segalanya termasuk cinta dan kasih sayang. Tapi Aku belum bisa lakukan itu semua. Aku malah seringkali mengecewakanmu. Sifat burukku yang kekanak-kanakan, sepertinya perlahan harus kuhilangkan. Aku ingin berubah, dewasa dan jadi suami yang bisa kamu banggakan!"
Rendy memeluk tubuh Virly yang rebah di atas ranjang.
Virly menangis lagi. Terharu dengar ucapan Rendy yang sangat menyentuh hati.
"Aku yang minta maaf. Aku selalu salah menilaimu, Mas! Padahal Aku sudah tahu dan mengenal karaktermu. Aku menerimamu sebagai suamiku. Tapi Aku lupa, kamu juga punya pemikiran dan cara penyelesaian yang pastinya lebih banyak juga untuk kebahagiaan Aku dan Leo!"
Hati keduanya menghangat lagi.
Pertengkaran kini telah usai. Berganti dengan kemesraan yang tengah mereka mainkan.
Hidup dalam pernikahan tidak selamanya indah. Jalan menuju rumah tangga bahagia, pasti selalu saja ada cobaan. Yang pastinya akan membuat kepribadian pasangan muda itu semakin saling mengerti satu sama lain.
Malam yang larut, tak menghentikan Rendy untuk terus menciumi ceruk leher istrinya yang jenjang dan mulus.
Kerinduannya membelai dan menumpahkan kasih sayang pada Sang Istri kian membuncah.
Sementara Virly juga perlahan makin terbuai oleh sentuhan lembut Rendy. Tubuhnya menggeliat penuh gelora asmara.
Malam itu, keduanya bersatu membangun kerajaan cinta yang bergairah.
__ADS_1
BERSAMBUNG