(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 37 - Pilihan Yang Akhirnya Diambil Berliana


__ADS_3

Treeet... treeet... treeet


...Berliana is calling...


"Ck! Mau apa lagi ni anak!?"


...[Rendy! Gue gak bisa nelpon Virly! Kayaknya nomor gue dia blokir!]...


"Terus? Gue harus bilang 'wow'gitu?"


...[Eh, semprul! Bilangin ma bini Lo, besok gue mau ke Jogja sama Maura!]...


"Maura? Ikutan ke Jogja? Ngapain?"


...[Lamaran! Eh, jangan sampe lupa! Bilang sama Kak Virly!]...


"Dah cabut orangnya ke Jogja!"


...[Hah?!?]...


"Hah hoh hah hoh! Telat! Virly bawa Leo juga barusan jalan sama Ajie!"


...Klik...


"Dasar ga sopan! Maen tutup telepon tanpa salam!" gerutu Rendy sendiri mengomentari Berliana.


Rendy menghenyakkan kembali bok+Ngnya di sofa ruang tamu.


Hening, sepi seorang diri.


Benar-benar sunyi rumah Virly tanpa celotehan lucu putra semata wayangnya.


Matanya menerawang jauh ke depan. Hisapan rokok elektriknya terasa sangat hambar walaupun itu adalah hadiah mahal dari Pak Gunawan pada Rendy.


Ingatannya kembali pada ucapan demi ucapan percekcokan antara Virly dan Berliana.


"Ya Allah, Kak! Iya gue kaget campur senang! Tapi bagi gue, Rendy bukanlah pahlawan kesiangan!!! Rendy penolong hidup gue! Sedari dulu, sejak gue selalu merasa kalo Papa Mama emang ngebeda-bedain kita berdua!" kata Berliana tadi.


"Karena Lo bukan anak kandung mereka!!!"


"APA???"


Apa si Berlin itu anak pungut ya? Jadi, dia bukan sodara kandungnya Virly? Terus, gimana kisah hidupnya si Berlin kecil dulu? Apa...apa dia anak yatim piatu, atau... anak yang lahir di luar nikah? Lantas, kalo bukan anaknya Bu Hilda dan Pak Sapto lalu Berliana anak siapa?


Kepala Rendy dipenuhi banyak sekali pertanyaan.


Dia kesal, tapi juga kasihan pada Berliana kalau seandainya apa yang tadi Virly ucapkan benar adanya.


Tapi, tuh anak mau nikah sama siapa? Kenapa bawa-bawa si Maura juga? Emang ada urusan apa si Maura ikut ke Jogja juga? Apa calon si Berlin itu hasil jodohan si Maura? Hhh... Bodo amat lah! Emang gue pikirin! Pusing kepala gue mikirin hidup yang mumet ini!


Rendy berusaha melupakan semua beban dalam fikiran.


Ia ingin sekali melepaskan segala kepenatan dihati serta otaknya.


Ditelponnya Togar, teman ojek onlinenya yang sudah beberapa tahun ini seperti saudara bagi Rendy.

__ADS_1


Dia pergi ke luar rumah menuju basecamp tongkrongan biasa. Berkumpul bersama teman-teman seperjuangannya dalam mencari cuan jauh lebih baik daripada melamun sendiri.


Bikin butek otak kalo terus-terusan di rumah mikirin tingkah Virly! Fikirnya.


Dengan mengendarai motor matic milik istrinya, Ia pergi setelah pamit pada mbok Darmi.


"Pak!"


"Ya?"


"Jangan pulang malam-malam ya Pak? Saya takut sendirian di rumah!"


"Hadeuh! Iya mbok! Saya pulang jam sepuluhan deh!"


Mbok Darmi tersenyum malu. Wanita berusia empat puluh sembilan tahun itu adalah janda anak tiga yang sudah bekerja bersama keluarga kecil Rendy sejak Virly hamil tujuh bulan.


Saat itu Rendy sendiri yang mengajaknya untuk ikut tinggal bersama mereka. Mbok Darmi kala itu baru saja diceraikan suaminya yang lebih memilih perempuan selingkuhannya.


Ketiga anak mbok Darmi dititipkan di kampung halamannya di daerah Wonosobo. Mereka memilih ikut tinggal dengan Kakek Nenek daripada ikut dengan ayah mereka yang menikah lagi.


Rasa takut pada kekejaman Ibu Tiri membuat ketiganya memilih hidup di kampung tapi aman tanpa siksaan lahir batin. Begitu pikiran mereka.


Sementara itu Berliana,...


Gadis itu benar-benar mengerti kini.


Ternyata semua kegelisahannya di masa kanak-kanak terjawab sudah.


Rupanya, dia hanyalah anak angkat Papa Mama. Berliana bukan anak kandung seperti Virly Rastanty.


Sepanjang perjalanan pulang ke kostan Maura, Ia hanya bisa teteskan air mata di atas motor ojek online yang membawanya ke kostan.


Maura yang baru saja pulang kerja sementara Berliana izin pulang setengah hari setelah mendapat kabar dari Rendy kalau Virly akan pulang ke Jogja sore ini juga padahal baru saja pulang di rawat di RS.


"Berlin???"


Maura terus mengejar langkah sang sahabat yang menangis sambil berjalan cepat menuju kamar.


"Ada apa Berlin? Ada apa? Siapa yang berani membuat kamu menangis?"


"Hik hik hiks..."


"Cepetan bilang! Oiii!"


"Maura! Hik hiks... Aku mau menikah dengan Papamu! Ayo, segera lamar Aku pada kedua orang tuaku!"


Maura terhenyak.


Matanya membulat sempurna.


Hampir dua minggu ini dia selalu mendesak jawaban Berliana perihal keinginannya untuk menjadikan Berliana sebagai Ibu Tirinya. Menikah dengan Papanya, yaitu Pak Gunawan CEO Matta Network yang sudah menduda cukup lama.


"Beneran? Kamu gak lagi candain Aku kan, Ber?"


"Aku serius! Aku serius, Maura! Hik hik hiks..."

__ADS_1


"Oke, oke. Secepatnya."


"Besok! Aku mau besok kita ke Jogja. Ke rumah kedua orang tuaku untuk membicarakan pernikahan Aku dengan Papamu!"


"Oke. Baik. Aku akan hubungi Papa!"


"Hik hik hiks..."


Berliana menangis sambil telungkupkan tubuhnya di atas ranjang tidur besar kost-an Maura.


Malam itu juga Maura bergerak cepat. Impiannya memiliki ibu tiri yang sebaya akan jadi kenyataan.


Berliana yang baik hati dan sudah jadi sahabatnya itu akhirnya mau menikah dengan Papanya.


Tentu saja Maura bahagia sekali.


Selagi Berliana sudah mengatakan hal yang sangat ia tunggu, Maura pun tidak ingin melewatkan kesempatan baik ini dan langsung meminta Papanya libur esok hari.


...[Maura! Bagaimana mungkin Papa libur mendadak! Besok Papa masih ada jadwal meeting, Sayang!]...


"Bilang Mbak Radisty, batalkan semua jadwal Papa! Maura ga akan maafkan Papa kalau sampai Papa menolak permintaan terakhir Maura!"


...[Sayang, kenapa bicaramu seperti itu?]...


"Papa tahu? Berliana mau jadi istri Papa! Besok kita akan pergi ke Jogja, ke rumah orangtuanya Berliana!"


...[Jogja? Besok? Jogja itu jauh, Maura! Please, Sayang! Butuh waktu lama untuk bisa pulang pergi Jakarta Jogja!]...


"Papa bisa ambil cuti tiga hari. Besok pagi Maura jemput Papa di rumah!"


Klik.


Maura menutup sambungan telepon selulernya. Tinggalkan Pak Gunawan yang termangu di ruang baca rumah besarnya.


Berliana mau menikah denganku? Gadis manis yang seumuran Maura itu?


Pak Gunawan bingung. Hatinya senang atau sedih, Ia tak dapat memilih.


Satu sisi ada suatu kebanggaan tersendiri pastinya. Ia akan menikah lagi. Bahkan dengan seorang gadis yang masih muda sepantaran putri tunggalnya.


Tapi disisi lain ia juga takut. Takut rumah tangganya hanyalah mainan percobaan Berliana saja nantinya. Apalagi umur mereka yang terpaut jauh. Dua puluh lima tahun. Dan Ia lebih pantas jadi orang tua angkat Berliana ketimbang jadi suaminya.


Tetapi Maura itu kalau sudah punya tekad dan keinginan yang kuat, selalu bisa terjadi dan apa yang ia perkirakan berhasil, rata-rata hasilnya tidak mengecewakan.


Gunawan sudah sangat memahami karakter Maura karena dia adalah Papanya.


Besok ke Jogja? Berarti Aku harus menelpon Radisty untuk segera membatalkan semua janji dan juga jadwal kerja yang sudah terkonsep.


Gunawan langsung menghubungi Radisty, sekretaris pribadinya dan mengatakan kalau semua jadwal dipending dulu. Ia ingin ambil cuti tiga hari karena ada urusan penting. Begitu ujarnya di telepon pada Radisty.


Beruntung besok dan lusa jadwalnya tidak terlalu padat. Sehingga Gunawan dengan leluasa untuk libur sesuai yang Maura inginkan.


Sehingga Gunawan bisa bernafas lega.


Kenapa aku senang juga akhirnya ya? Apa karena sebentar lagi akan ada seorang perempuan yang mengisi hari-hariku setelah menikah nanti? Dan Maura berjanji akan kembali ke rumah ini. Hhh... Syukurlah! Chintya, semoga kamu bahagia mendengar Aku akan menikah lagi. Kali ini, perempuan yang akan kunikahi adalah pilihan Maura, putri kita. Kuharap hidupku akan bahagia sampai maut yang memisahkan kita nanti!

__ADS_1


Doa Gunawan dalam hati.


BERSAMBUNG


__ADS_2