
Samar-samar Gunawan mendengar suara ricuh dari dalam gedung hotel.
Sepertinya itu suara Maura!
Gunawan berlari masuk ke dalam aula gedung hotel bintang lima itu secepat kilat.
Putrinya sedang diseret dua orang petugas keamanan dengan sangat tidak sopan.
"Lepaskan putriku!!!" teriak Gunawan tidak terima.
Dia melesat memberi bogem mentah pada salah satu diantaranya. Dan...
Bug
Tepat telak mengenai mulut sekuriti yang menjinjing tangan Maura.
"Papa!" pekik Maura yang langsung mendekati Gunawan.
"Pak! Perempuan ini yang membuat keonaran di acara pernikahan tertutup putri pemilik hotel ini!"
"Hohoho! Pernikahan tertutup ya? Pantas saja, ternyata para anj+ng kurap yang sedang naik pelaminan!"
Gunawan murka. Kata-kata kasar pun tak pelak ia lontarkan dengan suara keras.
"Silakan pergi dari sini! Atau kami akan hubungi pihak kepolisian setempat!"
"Dengan tuduhan apa?"
"Membuat keributan dan pasal pencemaran nama baik juga karena bapak mengatai pemilik hotel ini dengan nama salah satu hewan!"
"Karena pemiliknya kusebut Anjing Kurap? Hm... Apa bukan babi hutan yang sukanya grusak-grusuk merusak tanaman yang sudah dijaga dan dirawat manusia?!"
"Pak Gunawan!"
Gunawan menoleh.
"Pak Putu? Anda juga disini? Anda hadir sedangkan saya justru sama sekali tidak tahu rencana pernikahan Xavier dengan perempuan lain?"
"Tenang dulu, Pak Gun!" kata Putu berusaha membawa Gunawan ke bagian hotel yang lain untuk mengurangi ketegangan.
Putu adalah salah seorang kuasa hukum perusahaan Matta Network. Dia juga kuasa hukum dari perusahaan Lodaya Intertainmant yang dimiliki oleh Adipati Hernandez, Papanya Xavier.
"Bagaimana bisa aku tenang, sedangkan si Adipati sudah menyakiti hati putriku! Dia boleh menyakitiku tapi tidak dengan anak perempuanku satu-satunya!"
Gunawan murka. Ia marah besar.
"Ayo, ayo, ikuti saya, Pak!"
"Dia sudah ngomong banyak hal, bahas hubungan yang sedang dijalin Xavier dengan Maura! Tapi nyatanya, perbuatannya sama saja dengan menghujam belati tajam ke arah dada! Aku bisa saja menuntutnya dengan pasal penipuan ini, Pak!"
__ADS_1
"Keadaannya tidak seperti yang Pak Gunawan kira! Tolong tenanglah dulu!"
"Panggil di Bangs+t Adipati! Mari kita selesaikan secara jantan! Jangan bertingkah macam orang yang tidak punya akhlak dan sopan santun. Menikahkan putranya dengan orang lain tanpa memutuskan hubungannya dahulu dengan putriku! Itu adalah perbuatan hina! Dan sangat tidak kusangka kalau dia bisa jadi sejahat itu padaku!" hardik Gunawan pada pengacara yang terlihat kebingungan itu.
"Pa... Hik hik hiks..."
Putu menghela nafas. Gunawan marah-marah namun untungnya berhasil Ia bawa ke tempat lain sehingga tidak menimbulkan kegaduhan yang akan berakibat fatal bagi nama baiknya serta perusahaan Matta Network.
Gunawan memeluk tubuh Maura.
Putrinya menangis sesegukan membasahi kemeja Gunawan. Kedua Ayah dan Anak itu saling memberikan kekuatan.
Cobaan ini membuat mental Maura down dan hati Gunawan luluh lantah.
"Sudahlah, Sayang! Wajahmu cantik. Banyak pria yang mendekatimu, Maura! Pria itu sebangsa binatang ****** yang tidak pantas bersanding denganmu, Sayang!"
"Hik hik hiks..., Papa!"
"Jangan menangisi pria yang membuatmu seperti ini! Lupakan dia, lupakan semua tentang baj+ngan itu. Maura Papa bisa dapatkan lelaki yang lebih segalanya dari di kapir itu!"
Rendy yang berada di sekitar Gunawan dan Maura turut prihatin dan sedih sekali.
Percintaan Maura berakhir tragis dan dramatis. Sangat disayangkan sekali. Hubungan percintaan yang terjalin selama tiga tahun, hancur berantakan membawa luka dan dendam dua keluarga.
Bahkan kali ini kisah Maura sangat menyayat hati orang lain yang mengetahuinya. Apalagi Maura sendiri yang pastinya hancur berkeping-keping perasaannya.
Putu kembali menenangkan Gunawan. Ia mengatakan akan menjadwalkan pertemuan antara Gunawan dan Adipati.
"Pak, jangan berkata apapun yang bisa menjerat Bapak kedalam pasal perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik! CCTV bertebaran dimana-mana!" kata Putu mengingatkan Gunawan.
"Aku tidak takut! Aku tidak salah, tapi dia yang bersalah!"
Treeet treeet treeet...
Kuncoro menelpon Gunawan.
Pria itu tidak bisa datang sembarangan ke tempat terbuka apalagi kalau sampai ada masalah yang berimbas juga pada kesatuannya.
Makanya Ia mencoba jalur lain yaitu memantau secara sembunyi.
...[Pa! Pulanglah! Biar tenang dulu semua! Pak Putu yang menghandle semua. Kita tunggu saja bagaimana pergerakan Om Adi untuk memberikan jawaban dari buntut pernikahan si Xavier ini!]...
"Coco! Adikmu mendapatkan pelecehan kalau begini! Kita tidak bisa seenaknya membiarkan si Adi berbuat semena-mena!"
...[Kita coba selesaikan secara elegan. Kita ini bukan bagian dari orang-orang yang pendek pikiran warasnya. Yang penting Maura ada bersama kita. Jangan sampai lepas pengawasan pada Maura, itu saja pesan Coco! Coco lebih khawatir pada mental Maura!]...
Gunawan menghela nafasnya.
Ia berusaha menjaga kewarasannya agar tidak oleng dengan permasalahan hati ini.
__ADS_1
Urusan perusahaan, Gunawan sudah terbiasa mengatasinya. Tapi untuk urusan perasaan dan percintaan yang melukai Maura putri kesayangannya, ini adalah yang pertama kali. Dan harapannya adalah yang terakhir kali juga.
"Ayo Sayang, kita pulang!"
Maura tiba-tiba jatuh pingsan. Tubuhnya yang lemah nyaris terjungkal di lantai. Untungnya ada Rendy yang turut sigap membantu menahan tubuh Maura agar tidak sampai membentur lantai.
Gunawan pergi meninggalkan hotel Green Hyatt Selatan dan membiarkan Xavier serta Adipati dengan kesibukannya di hari bersejarah bagi mereka.
Gunawan membawa Maura ke rumah sakit terdekat karena khawatir putrinya itu kekurangan cairan.
Maura segera mendapatkan penanganan. Cairan infus menjadi alat bantu agar tubuh gadis berusia 25 tahun lebih itu kembali segar seperti sedia kala.
Rendy diam-diam mengirim pesan pada Berliana. Ia yakin kalau Berliana juga sedang menunggu kabar berita dari Gunawan juga Maura.
Tentu saja hal itu membuat Berliana gusar.
Setelah menemui Delon dan minta izin pulang setengah hari pada bagian personalia, Berliana langsung meluncur ke rumah sakit tempat Maura di rawat.
Kondisi Maura mengkhawatirkan.
Gadis itu tidur seolah tidak mau bangun.
Gunawan juga bingung. Antara banyaknya kerjaan yang membutuhkan kehadirannya, juga cemaskan kondisi Maura.
Melihat kedatangan Berliana, sontak Gunawan senang.
"Berliana, maaf, Saya harus segera ke kantor. Tolong titip Maura ya? Tolong jangan sampai kamu tinggalkan Maura karena kondisinya sedang tidak stabil!"
"Iya, Pak. Berliana akan ada di sampingnya Maura. Jangan khawatir, Bapak bisa pergi."
Gunawan mencium kening Maura. Membisikkan kalimat penghiburan agar putrinya tetap tegar.
Berliana hanya bisa menggenggam erat jemari Maura yang terkulai lemas.
Matanya menatap lekat wajah Maura.
Gadis cantik baik hati itu sedang dalam kondisi hancur.
Kekasihnya yang tiga tahun dicintai sepenuh hati rupanya menikah dengan perempuan lain setelah sepuluh jam memutuskan hubungan lewat telepon saja.
Rasanya Berliana seperti mengingat keadaan ini, sedikit mirip dengan keadaan Virly kakaknya yang diputuskan tunangannya oleh Kuncoro juga via telepon.
Bedanya Kuncoro tidak memutuskan hubungan karena akan menikahi gadis lain.
Xavier jauh lebih kejam tingkahnya karena tiba-tiba menikah bahkan dilaksanakan secara megah di hotel mewah meskipun secara tertutup dan hanya segelintir orang yang diundang di acara pernikahannya itu.
Berliana menghela nafas.
Apakah ini seperti karma bagi keluarga Pak Gunawan? Apakah ini yang disebut karma dibayar kontan di dunia? Tetapi mengapa harus putra putrinya yang mengalami kepahitan hidup seperti ini? Sungguh kuasa Tuhan luar biasa! Semoga Maura bisa melewati ini semua. Seperti Aku dan juga Kak Virly yang bisa fight sampai hari ini. Aamiin...
__ADS_1
BERSAMBUNG