
"Betul, aku cuma inginkan status saat ini!"
Perkataan yang jujur meluncur dari bibir Kuncoro. Tentu saja membuat bola mata Berliana membulat.
"Kenapa memangnya? Dikejar deadline nikah? Ada peringatan batasan umur yang membuat kakak takut dibilang 'Bujang Lapuk'?"
Sontak Kuncoro tertawa.
Lagi-lagi Berliana terpesona pada tawa khasnya yang renyah.
Bagaimana mungkin pria setampan Kak Coro ini susah cari jodoh? Bullshiiit banget ga sih?!? Ciwi-ciwi di luar sana pasti membludak antri kepingin jadi pasangannya. Apalagi Kak Coro sudah cukup mapan juga dalam pekerjaan. Kalo ga salah, dia pengusaha di kota Mataram. Iya kan? Hm... Antara dia ini trauma bercinta, atau mungkin seleranya yang ketinggian membuatnya sulit jatuh cinta. Maybe... Secara mantannya kak Virly gitu loh! Siapa yang ga suka kak Virly, sarjana tata boga. Cantik, seksi dan cerdas. Bahkan sedari SD gue udah sering dititipin surat sama hadiah istimewa dari para pengagum rahasianya. Klop banget, Kak Kuncoro sama kak Virly. Siapa sangka ternyata mereka ternyata saudara sedarah. Malah gue yang diketahui cuma anak angkat Papa Sapto dan Mama Hilda. Hhh... Nasib, nasib!
"Kamu tahu, Ann... Aku anak haram! Lahir dari perempuan yang tidak dinikahkan oleh bapak kandungnya!" tutur Kuncoro dengan tatapan mata kosong.
"Bukan anak haram. Tapi perbuatan kedua orangtua yang diharamkan Tuhan! Kakak masih lebih beruntung. Masih bisa melihat, mengenal dan mendapat kasih sayang dari orang yang melahirkan. Sementara aku, siapa aku, siapa kedua orangtuaku, bagaimana kisah cinta mereka hingga aku lahir dan dibuang begitu saja di pinggir jalan. Hhh...!"
Berliana terkejut, jemari hangat Kuncoro menggenggamnya tiba-tiba.
"Kita ganti topik! Jangan cerita yang itu! Oke?" katanya membuat Berliana tersenyum lebar.
"Topik yang mana, Kak? Topik hidayat atau Topik saya bundar?"
"Hilih! Dasar Anak Kecil! Hehehe..."
"Jangan panggil aku anak kecil, Kak!"
"Hahaha..., kamu Shiva ya?"
"Iya. Shiva Haju. Cantik kan aku? Hihihi..."
Menghangat hati Berliana. Kuncoro membuat suasana setelah makan malam menjadi lebih ceria.
__ADS_1
"Aku terlalu terlena jadi anak angkat papa Angkasawan, Ann! Aku malu hati. Beliau adalah anggota parlemen. Sedangkan aku, jati diriku, kisah hidupku, semua sangat jomplang. Aku khawatir media mengendus dan kebaikan papa Angkasawan yang mengadopsiku 'Si Anak Haram' jadi bulan-bulanan para oposisinya. Begitulah kehidupan, Ann! Setidaknya kalau aku menikah, Aku bisa lepas dari Akta Kartu Keluarga. Jadi Kepala Keluarga yang namanya tercantum paling atas. Biar namamu dan nama anak-anak kita ada di bawah namaku!"
"Uhhuy... Hahaha...! Anak kita ada berapa nanti, Kak?"
"Kamu mau punya anak berapa?"
"Sepuluh seru gak ya? Biar kalo mau maen futsal ga perlu cari tambahan orang!"
"Hahaha...! Emang brojolin anak segampang itukah? Anna mau lahirinnya?"
"Engga'! Aku mau muntahin lewat mulut! Dih! Emang semudah itu ngelahirin ya, Boss!?!"
"La khan tadi kamu yang request pingin anak sepuluh? Aku sih oke aja. Toh cuma berbuat. Enak khan? Hahaha..."
"Kak Coro! Ish! Enak di situ ga enak di aku!"
"Hahaha...! Fix ni ya, berarti kamu mau nikah sama aku?! Okey, maharnya mau apa? Jangan yang berat-berat. Aku bukan orang kaya kayak Papa Gunawan. Hehehe..."
Kuncoro tertawa terbahak-bahak.
"Kamu Yessy ya? Yang gagal merid sama si Ryan yang viral beberapa bulan lalu itu!" balas Kuncoro seolah menanggapi serius.
"Aku ini justru guru spiritualnya si Yessy, Kak! Tanggung kalo cuma sertifikat rumah doang mah!"
"Wow, kamu gadis material rupanya!"
"Iya. Bestie ku itu adalah triplek, paku payung, besi coran, semen lima roda, dan kawan-kawan yang lainnya!"
"Hahaha..."
Keduanya tertawa ngakak.
__ADS_1
"Ga, Kak! Aku ga mau harta yang bisa habis jika tak bisa memanfaatkannya. Aku maunya cinta yang tak pernah lekang oleh waktu walau tetap bersama hingga puluhan tahun lamanya. Aku inginkan sayang yang tidak akan hilang meski memutih rambutku dan mengendur kulitku."
Kuncoro tersenyum dan mengangguk pelan.
"Jangan minta harta, karena aku tak punya. Jangan inginkan cinta dan kasih sayang, sebab Aku tidak berani berkata bohong dengan menjanjikan sesuatu yang belum terlihat. Tapi percayalah, seluruh slip gajiku akan kuberikan untukmu, Anna!"
"Huaaa..., Kak Coro ini tamatan sekolah perbuaya-an ya? Sweet banget deh omongannya, melting adek, Bang, dibuatnya!"
"Hahaha...! Mayanlah, dulu waktu kuliah sempet jadi juara umum lomba membuat surat cinta. Hahaha..., boleh lah ya, dapet predikat buaya darat, laut dan udara!"
"Itu buaya pasti yang jadi model iklan obat anti mabuk perjalanan darat, laut dan udara ya ga ya?"
"Bisa jadi, bisa jadi. Atur ajalah sama kamu. Aku sih ngikut aja deh!"
"Hehehe... ya ampun! Ehh? Kak, udah jam setengah sepuluh! Janji pulang jam sembilan kan tadi?"
"Iya, iya. Ayo cepetan, pake sendalnya, kita go home! Bahaya nih kalo kena semprot Maura!"
Berliana merasakan dunia tampak jauh lebih indah dan berwarna.
Dengan Kuncoro, bercerita juga bercanda, dia merasa semua begitu ringan tanpa beban.
Bahkan hujan gerimis yang mengguyur kota tak membuat Berliana takut luntur make up nya oleh rinai gemericik di malam hampir pukul sepuluh malam.
Mereka menerobos hujan tanpa pikir panjang. Bercengkrama ditengah jalan menuju kost-an Maura.
Lampu kerlap-kerlip jalanan ibukota yang mulai sepi dan tenang seiring kembalinya para pemakai jalan ke rumah masing-masing untuk beristirahat.
Hati dua insan yang sedang mencari kebahagiaan sederhana itu mulai menghangat. Mereka perlahan membuka diri serta hati untuk memulai hidup yang baru bersama orang baru.
BERSAMBUNG
__ADS_1