
Sejak kejadian itu, pikiran Rendy tidak bisa tenang. Berliana seolah terus terbayang di pelupuk matanya.
Gadis yang pernah dicintainya dengan begitu indah. Gadis yang pernah jadi perempuan satu-satunya dalam hidup Rendy, kini dalam keadaan yang membuatnya jadi begitu khawatir.
Berliana...! Menikahlah! Carilah jodoh yang baik yang menyayangimu dengan tulus.
Hati kecil Rendy berdoa, tapi fikiran serta nafs+nya berbeda. Ada khayalan lain yang terselip di sudut ruang hatinya yang terdalam.
Andaikan dulu kau tidak pergi meninggalkanku begitu saja, mungkin kita sudah bersama dan hidup bahagia, Berliana.
Rendy berusaha mengusir fikiran gilanya dalam berhalusinasi, tapi apa daya. Dia hanyalah insan yang mudah tergoda asmara.
Sementara itu Virly ternyata diam-diam men-stalking Rendy dan kesehariannya dalam bekerja.
Sejak mengetahui kalau adiknya-lah pacar pertama Sang suami hingga nyaris depresi dulu, tak pelak membuat Virly begitu ketar-ketir.
Dia takut sekali kalau Rendy kembali memikirkan masa lalu dan ingin kembali pada Sang adik yang sampai saat ini masih hidup sendirian, bahkan belum memiliki kekasih hati.
Virly mengintai Rendy sedari mula berangkat kerja. Dia hanya ingin tahu, apa benar kalau perkataan sang suami dapat dipercaya.
Jujur, hati kecilnya begitu was-was. Takut jika apa yang ada dipikiran Virly akan jadi kenyataan.
__ADS_1
Dia tak sanggup memikirkan hal itu.
Dan malam itu, ketika Virly menelpon Rendy yang keluar dari gedung perkantoran Matta Network dengan memeluk erat tubuh Berliana adiknya. Seketika luluh lantak persendian tulang tubuhnya.
Virly menangis sesegukan di teras gedung wisma perkantoran Matta Network.
Dia kembali mengekor Rendy yang membonceng Berliana.
Terus memantau meskipun matanya berkabut dan menghalangi pandangan hingga sesekali Virly menyusut air matanya di pipi.
Berliana terlihat erat memeluk tubuh Rendy dari belakang.
Keduanya terlihat memasuki kantor polisi wilayah setempat.
Virly menunggu mereka di seberang depan jalannya. Lalu mencoba menelpon Rendy, inginkan kejelasan dari sang suami.
Ternyata Rendy masih berusaha menutupi kebenarannya. Yang justru semakin membuat keadaan kian kacau memporak-porandakan perasaan Virly.
"Hallo? Ya, Virly! Maaf..., Aku lagi ada di kantor Polisi wilayah selatan, Yang! Maaf..., teman kantorku mengalami kejadian naas. Aku sedang bersamanya saat ini!"
Dan Virly hanya bisa menjawab dengan dada bergemuruh kencang,
__ADS_1
...[Iya, Mas! Hati-hati ya? Pake jaketmu, udara sangat dingin malam ini!]...
Pecah sudah kepercayaan penuh yang Ia berikan kepada Rendy.
Pria yang selama ini begitu Ia agungkan kesetiaan cinta serta ketulusan hatinya dalam mencintai dirinya berubah mendapatkan cap buruk sebagai pria brengsek yang benar-benar keterlaluan.
Virly juga tidak menyangka, adik kandungnya sendiri akan berbuat senista itu. Mempermainkan perasaan dirinya serta berani mencoba mengambil Rendy dari sisi Virly.
Ibu muda satu anak itu pulang ke rumahnya dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Andaikan saja Virly mau bersabar sedikit saja, Ia tidak akan suudzon kejauhan. Karena ada pak Gunawan dan Maura yang datang tepat setelah Virly menyalakan mesin motor karyawannya lalu beranjak pergi dari depan kantor polisi.
Sangat disayangkan, padahal kendaraan mereka saling berpapasan.
Virly sudah tenggelam terlalu jauh di lembah kekecewaan.
Dia bertekad, mulai malam ini, akan menjadi wanita jahat yang menutup semua akses agar Rendy dan Berliana tidak terus menerus melakukan kemaksiatan dibelakangnya.
Virly salah faham.
BERSAMBUNG
__ADS_1