
Ini adalah situasi yang membingungkan bagi Rendy dan juga Berliana.
Duduk berdampingan di dalam mobil Kijang Innova untuk pergi bersama ke sebuah perusahaan yang sama setelah Virly mengucapkan say goodbye dan kata semangat untuk suami tercinta dan adik tersayang.
Baik Rendy maupun Berliana sama-sama canggung dengan bibir bungkam seribu bahasa.
Hingga tiba-tiba,
Cekiiiit...
"Wooy, kalo ngerem jangan dadakan napa?" teriak Rendy dengan suara keras saking kagetnya karena nyaris mobil cicilannya mencium bamper motor Harley yang tiba-tiba berhenti tanpa pemberitahuan.
Dia dan Berliana nyaris terjungkal ke dashboard mobil karena rem yang mendadak.
"Lo...ga papa khan?" tanya Rendy pada Berliana dengan suara pelan.
"Ga papa. Kaget aja!" jawab gadis mantan pacarnya itu.
"Hhh..."
Mereka melanjutkan perjalanan kembali terdiam tanpa lanjut pembicaraan.
Tapi ternyata pukul enam tiga puluh menit sudah masuk waktu macet di jalan pusat Ibukota.
Mobil Innova yang dikendarai Rendy stuck cukup lama bersama kendaraan-kendaraan lainnya yang sama berjibaku melawan arusnya kemacetan ibukota.
"Hhh... Gila ini hari Senin! Ck!" gerutu Rendy sambil mengetuk-ngetuk setir mobil yang diam ditempat.
"Sabar! Mau gimana lagi. Yang terjebak macet bukan kita doang!" timpal Berliana pada akhirnya.
"Iya sih. Tapi ini kayaknya udah kelewat batas. Apa ada kecelakaan ya didepan?"
Rendy dan Berliana sama-sama menengok keluar jendela. Memastikan keadaan di luar yang mulai ramai klakson berbunyi dari beragam kendaraan.
"Hahaha... Mampus, darting semua penduduk bumi ibukota!" gelak Rendy dibalas tepukan tangan Berliana ke dahinya.
"Ehh, Kak Virly tau gak, Lo sekarang kerja di Matta Network?"
"Gak. Belom!"
"Lah? Kenapa ga bilang, Rendy?"
"Tunggu seminggu atau mungkin sebulan dulu kerja. Gue takutnya ga betah kerja, berhenti di tengah jalan. Kasian kalo nanti Virly terlalu berharap banyak dari pekerjaan baru gue ini!"
"Ck. Hubungan itu harus ada komunikasi dan kejujuran. Kalo enggak, hubungan kacau dan..."
"Rusak? Kayak Lo dulu tanpa komunikasi ninggalin gue gitu aja? Lo sehat, Sis? Hm!"
Berliana terdiam mendapatkan tamparan kata-kata dari Rendy.
"Maaf..."
"Ga usah banyak ngemeng deh Lo! Itu udah jadi bagian masa lalu buat gue. Dan thanks a lot. Akhirnya gue punya istri hebat yang mau nerima gue apa adanya!" tambah Rendy semakin membuat Berliana menunduk malu.
__ADS_1
"Iya. Gue salah. Gue pantas buat Lo benci, Ren! Gue juga gak berharap Lo bakalan baik hati menerima gue sebagai adik ipar Lo."
"Ga. Gue bukan pendendam. Tapi sorry to say, gue ga bisa terima Lo sebagai adik ipar. Coz gue gak tau kalo Lo adeknya Virly!"
"Jiah, bilang bukan pendendam tapi tetap hati kecil ga bisa melupakan masa lalu! Dasar, cowok gesrek!"
"Ehh? Ngatain gue gesrek, nah Lo sendiri cewek brengsek!"
"Rendy!"
Berliana hendak memukul bahu Rendy. Tapi pria itu dengan cepat menangkap tangan Berliana.
Keduanya saling berpandangan. Lama sampai bicara dari hati ke hati.
Hingga Rendy tersadar dan segera melepaskan tangan Berliana sambil bilang, "Maaf!"
Berliana merasakan jantungnya berdegup kencang sekali.
Kembali teringat masa-masa dahulu saat mereka masih remaja dan masih bersama.
Ia menunduk dengan helaan nafas pendek.
"Kumohon jangan sakiti Kak Virly karena kelakuanku yang jahat padamu dulu!" gumamnya membuat Rendy tertawa sumbang.
"Ehh? Ucapan apaan itu? Bisa-bisanya Lo pikir gue akan melampiaskan amarah kebencian gue sama Lo ke Virly? No, girl! Gila apa gue bertindak begitu sama bini yang sangat mengerti diri gue! Cih! Pede' amat Lo berfikir kayak gitu?"
"Karena gue takut Lo bertingkah kayak cowok-cowok diluar sana yang balas dendam sama orang terdekat orang yang menyakitinya!" timpal Berliana dengan suara nge-gas tak mau kalah.
"Disaat gue punya Leo? Hellow, Lo semalam mimpi keseret arus Lo?"
Jantung Rendy kini yang berdegup kencang. Seketika memerah wajahnya mengingat mimpinya yang semalam.
"Lo ga perlu khawatirkan Virly! Dia istri gua! Dan jangan sok-sokan ngatur hidup gua juga. Faham Lo?"
Ketegangan seolah menguasai jiwa Rendy dan Berliana hingga kedua saling diam tak lagi melontarkan kata-kata pedas sampai tiba di tempat tujuan.
Hari pertama kerja, mood Rendy maupun Berliana anjlok parah hingga tanpa sadar bibir mereka sama-sama mencucut cemberut.
"Berlianaaa!"
"Mauraaa!!!"
Berliana keluar dari mobil Rendy tanpa mengucapkan kalimat sepatah pun.
"Terima kasih Abang ganteng!" sindir Rendy membuat Maura menoleh ke arah Rendy lalu berbisik pada Berliana.
"Ber, itu supir online koq berani sindir gitu sih? Ehh? Kayaknya itu, cowok kemarin yang juga ikutan tes wawancara barengan kita ya? Iya khan?"
"Meneketehe. Udah udah, skip. Jangan bahas orang ga jelas gitu!"
"Lah? Bingung gue!?"
"Kalo bingung, pegangan. Hehehe... Ayo masuk ah, waktunya udah mepet nih!"
__ADS_1
"Ayo ayo!"
Rendy yang melihat kedua perempuan itu saling berangkulan hanya bisa berdecak sebal.
Dasar! Cewek-cewek ga jelas! gerutunya dalam hati.
Setelah memarkir mobilnya di lantai basemen gedung wisma Matta Network, Rendy baru masuk lewat lift yang ada di sana tanpa tanya lagi karena keadaan basemen yang sepi.
Hingga seseorang yang berjalan tergesa-gesa menabrak bahunya dan...
Gubrak.
Orang tersebut justru jatuh pingsan dihadapan Rendy yang makin kebingungan.
Dia yang nyenggol gue, tapi kenapa dia yang pingsan?
"Pak, Pak! Pak bangun, Pak!"
Rendy berusaha membantu bapak berjas safari yang tergeletak pingsan untuk siuman.
"Tolong! Oi, sekuriti! Tolong, ada yang pingsan ini! Sekuriti, sekuriti!"
Seketika suasana basemen gaduh ramai orang berpakaian rapi.
Rendy termangu ketika beberapa mobil bagus berhenti dan terlihat beberapa orang bertubuh tinggi besar dan tegap membawa 'Pak Jas Safari' masuk mobil hingga meluncur keluar basemen dengan kecepatan maksimal.
"Siapa nama Anda?" tanya seorang sekuriti yang usianya sudah lumayan tua.
"Rendy, Pak! Rendy Saputra. Karyawan kontrak baru di Matta Network. Dan baru bekerja mulai hari ini."
"Oke! Jadi kamu karyawan baru?"
"Iya, Pak!"
"Lulusan?"
"SMA,"
"Hm... Apakah tadi Anda melihat orang lain lagi selain Pak Gunawan?"
"Pak Gunawan?"
"Bapak yang tadi pingsan!"
"Tidak."
"Oke. Anda ditempatkan di divisi mana?"
"Katanya sih Saya ditempatkan di bagian operator!"
"Oke. Silakan lanjutkan!"
"Baik!"
__ADS_1
Rendy yang bingung dengan situasi aneh itu hanya bisa mengangguk dan lanjutkan langkahnya masuk lift menuju lantai dua tempat para karyawan kontrak baru berkumpul sebelum ditempatkan di divisi masing-masing.
๐น๐น๐น BERSAMBUNG ๐น๐น๐น