
"Anna..."
"Mama! Bang ada Mama Hilda!"
Ini adalah pertemuan Hilda dan Kuncoro tanpa Sapto dan juga Gunawan.
Hilda kikuk, begitu juga Kuncoro.
Namun Kuncoro berusaha setenang mungkin dan menghampiri Hilda untuk mencium punggung tangan Mama yang telah melahirkannya ke dunia itu.
Hilda berusaha menahan haru.
Ia tak ingin meneteskan air mata dihadapan anak kandung serta anak angkatnya, Berliana.
Tetapi hatinya Hilda sebenarnya adalah hati seorang Ibu yang mendamba kasih sayang anak lelakinya selama puluhan tahun.
Akhirnya tangisan Hilda pecah juga ketika tangannya dicium Kuncoro.
Ia segera meraih tubuh putranya itu dan memeluk hangat.
Pertemuan kemarin Hilda masih bisa menahan kerinduannya. Tapi kali ini, ia ingin menyampaikan semua rasa yang selama ini terpendam dalam hati terdalam. Betapa Hilda menyayangi anaknya. Tiada niatan untuk melakukan hal keji apalagi membuang Kuncoro sedari bayi.
Kata demi kata meluncur dari bibir merah Hilda yang diselingi derai air mata.
Bangsal ruang tunggu kantor management MUA yang akan Berliana sewa untuk hari pernikahan menjadi saksi bisu pertemuan yang dramatis antara ibu dan anak.
Berliana bahkan turut serta menitikkan air mata. Haru menyeruak di dada. Begitu juga salah seorang karyawan intrapreneur dari MUA itu.
"Coco mengerti keadaan Mama. Sudahlah, jangan menangisi kisah masa lalu yang suram. Kita bisa saling bertemu kapanpun Mama mau dan kalau Coco sedang tidak sibuk."
Kalimat lembut sang putra semakin membuat rasa bersalah Hilda tambah besar. Tangisnya masih mengalun meskipun lebih pelan karena Coco mampu menenangkan hatinya dari rasa bersalah yang teramat dalam.
Hilda juga menarik Berliana pelan.
"Maafin Mama ya Nak, karena dulu Mama terlalu sibuk mencari putra Mama yang hilang, hingga seperti mengabaikanmu, Anna! Hik hiks..."
Berliana mengangguk-angguk. Diusapnya air mata Hilda lalu beralih ke air matanya sendiri.
Senyum mengembang di bibir indah ketiganya yang saling bertatapan satu sama lain.
Hilda sangat bersyukur, Allah menjodohkan putra kandung dengan putra angkatnya. Sehingga semua terasa menjadi lebih mudah.
Dulu sempat pula mereka nyaris menjadi keluarga. Tetapi kalau itu sampai terjadi, sangat fatal karena akan disebut cinta terlarang antara Kuncoro dengan Virly.
Tuhan Maha Baik.
__ADS_1
Tuhan membatalkan semua yang hampir menjadi kesalahan kedua kali yang bisa saja Hilda buat untuk kehidupan putra-putrinya.
Kini mereka telah lebih tenang. Dan kembali pada niat awal. Yaitu menyewa jasa MUA yang cukup terkenal saat ini dan Berliana juga mengenal sang pemilik ketika ikut syuting iklan tempo hari bersama Gunawan.
Hilda juga rupanya sedang berada di kantor MUA untuk urusan yang sama.
Tadinya Hilda ingin mengurus semua keperluan pernikahan Berliana dan Kuncoro. Tetapi semua anggota keluarga juga ingin turut serta mengambil peranan besar secara orang tua angkat putranya itu juga bukan orang sembarangan.
Makanya Hilda dan Sapto hanya membantu urusan souvernir serta urusan surat menyurat dokumen yang diperlukan di kantor urusan agama untuk hari H.
Hilda bahagia sekali.
Senyumnya tak lepas dari bibir. Sesekali Ia bergelendot mesra kepada Kuncoro dan juga Berliana.
Satu persatu pakaian pengantin yang akan mereka sewa di hari istimewa dicoba keduanya dan juga Hilda sebagai pendamping wanita Berliana nantinya di atas panggung pelaminan.
Hilda juga mengambil gambar selfi dirinya bersama Coco untuk dikirim ke nomor ponsel Sang Suami.
Berliana begitu senang, beban berat yang selama ini menggelayut telah hilang musnah berganti keceriaan.
Pertanyaan demi pertanyaan yang sedari kecil selalu hadir di relung hati kini terjawab dan Allah ganti dengan segala kebaikan. Rasa syukur Berliana tak habis-habis. Betapa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hidupnya.
Kuncoro melongo, Hilda terpukau.
Berliana sangat cantik.
Hilda tertawa melihat raut wajah putranya yang tampak jelas seperti hendak memakan Berliana.
"Cantiknya!" gumamnya pelan.
"Sangat cantik!" tambah Hilda menimpali.
"Coba yang lain ya?" kata asisten MUA yang mendampingi Berliana fitting baju pengantin.
Berliana kembali masuk ke ruang ganti.
Lagi-lagi dua bola mata Kuncoro membulat terpesona.
"Dadanya terlalu terbuka. Nanti dilihat banyak orang!" tukasnya agak komplein.
__ADS_1
Hilda tertawa kecil sementara Berliana menunduk malu.
Ia kembali masuk ruang fitting.
Kembali Kuncoro terbelalak.
"Mama, Aku bingung! Kenapa gadis yang berdiri di sana itu begitu cantik seperti manekin? Kulitnya bersih mulus dan wajahnya cantik bagai bidadari!"
"Hahaha..., ampun deh anak ganteng ini! Putri Mama memang cantik semua. Yang pertama dan yang kedua, sama cantiknya. Sama-sama seperti bidadari."
"Iya. Hehehe..."
Hilda tersenyum. Matanya berbinar indah menunjukkan hatinya yang bahagia.
Sementara itu putrinya yang satu lagi juga sedang sibuk dengan kegiatan toko onlinenya lagi.
Virly Rastanty, kembali mulai mengadakan live di IGnya dan ditonton ribuan pasang mata yang menjadi penggemarnya.
Si cantik yang sayangnya sudah menikah dengan pria muda yang tampan. Terkadang penggemar Virly yang perempuan meminta Virly untuk spill juga suami tercintanya. Dan Rendy dengan malu-malu sesekali hadir di live IG dan juga Tiktok Virly yang semakin banyak followers nya.
Virly bersyukur, kemarin-kemarin usaha kulinernya sempat mandek karena masalah yang datang menerpa rumah tangganya.
Kini perlahan mulai bangkit lagi bahkan lebih tinggi permintaan pesanan kue-kue kulakannya.
Virly sangat senang.
"Mas! Pulang kerja kita berenang yok di kolam air panas!" katanya via telepon kepada Rendy di jam istirahat makan siang.
...[Beneran ya? Janji ya kamu pas Aku pulang kerja uda ready?]...
"Hahaha iya iya! Beneran deh, Aku sediain waktu buat kita berenang!"
Rendy bersorak gembira.
Dia memang paling hobi bermain air. Sudah lama tidak lagi menyambangi kolam renang untuk sekedar relaksasi tubuhnya yang penah rutinitas sehari-hari.
Janji yang Virly ucapkan seperti tetesan embun yang membuat Rendy kembali segar di jam dua belas siang.
"Asyiiik, berenang!" katanya pada diri sendiri.
Bayangan air kolam renang yang dingin menyegarkan seakan sudah di ujung mata. Rendy menantikan saat sore tiba. Ia sangat bersemangat sekali agar waktu segera berlalu dengan cepat.
BERSAMBUNG
__ADS_1