
"Kak!"
Kedua kakak beradik itu cipika-cipiki.
Rendy yang sedang asyik bermain dengan Leo menoleh senang. Ternyata Berliana main ke rumah istrinya tanpa kawalan Maura.
Rendy memang sangat berharap Berliana kembali tinggal di rumah Virly. Siapa tahu gadis itu bisa membukakan pintu hati kakaknya agar tidak terjerumus cinta di masa lalu yang kini tentunya terlarang untuk dijalankan.
"Leooo!"
Berliana mendekat ke arah Rendy dan Leo.
Kini Ia harus hati-hati menjaga jarak dengan Rendy dihadapan Virly.
Khawatir kalau nanti hubungan masa lalu mereka terungkap ke publik terutama kepada Virly.
Baik Berliana maupun Rendy belum siap sama sekali.
Kisah cinta mereka itu kini bagaikan aib mereka yang harus ditutup rapat-rapat.
Rendy menerima uluran tangan Berliana yang pura-pura sopan padanya berbasa-basi.
Rendy izin pada Virly untuk nongkrong sebentar di basecamp para ojol beberapa jam saja untuk melepas rindu.
Virly mengiyakan tapi langsung mengajukan syarat.
"Dzuhur pulang ke rumah ya, Mas? Kita makan bersama!"
"Iya!"
Cup.
Dihadapan Berliana, Rendy mengecup pipi sang istri. Lalu mengangkat tubuh Leo tinggi-tinggi untuk bercanda sebentar.
"Papa pergi dulu ya?"
Tapi Leo menangis keras.
Sehingga Rendy tak tega hingga akhirnya berinisiatif membawa sang putra.
"Leo kubawa ya?" tanyanya minta izin Virly.
Tentu saja Virly agak cemas.
Otak kecilnya kembali berkhayal kalau Rendy akan menemui selingkuhannya dan kini sudah siap membawa anaknya.
"Leo di bawa?"
__ADS_1
"Iya. Cuma sebentar koq! Kita paling ngobrol bentaran sama bang Togar! Ngopi santui sama yang lain juga. Terus pulang!"
Virly sedikit lega, Rendy menjelaskannya dengan lembut.
Virly memperhatikan suami serta putranya yang masuk mobil dan perlahan kendaraan yang dikemudinya berjalan ke luar pagar rumah.
"Anna! Anna!!!"
"Apaan sih Lo Kak?"
"Anna please, cerita ma gue! Lo pasti tau sesuatu khan?"
"Apaan?"
"Apa... Rendy punya selingkuhan? Atau Lo pernah gap dia sama perempuan lain? Atau mungkin..., Lo tau pacar pertamanya Rendy?"
"Hah?!?"
Seketika wajah Berliana berubah. Pucat pias dengan mulut menganga.
Ya ampun! Gue salah waktu mau curhat nih! Ada apaan sih??? Kenapa Kak Virly sampe punya pemikiran kayak gitu?
"Emang kenapa? Ada apa sama suami Lo, Kak? Dia nyakitin hati Lo? Hah? Cerita ma gue! Ada apa?"
Berliana mulai mengatur strategi. Perlahan wajah pucatnya kembali memudar.
"Ya Lo gila itu Kak! Jujur Lo keterlaluan! Suami mana yang ga cemburu liat istri jalan bareng pacar pertama. Terus, Lo malah ceritain segala sempat disosor pipinya sama bang Jodi! Itu namanya Lo pasang umpan! Mancing keributan!" semprot Sang adik murka.
"Niat gue kan jujur sejujur-jujurnya, Anna!! Bukan buat cari keributan apalagi bikin Rendy salah faham! Murni demi Allah gue ga kerja sama Jodi! Bahkan sekarang nomornya si Jodi udah gue blokir juga daripada kena masalah tambah banyak!"
"Nah kan!? Lo jelasin semuanya ga sama Rendy? Jangan diem-dieman gitu. Ga baik, Kak! Bahaya juga buat rumah tangga Lo nanti! "
"Kak, Lo ini polos apa bego sih? Masa' sih urusan pipi kena serempet cowok pun harus Lo ceritain padahal itu bisa bikin laki Lo illfeel jadinya kan!?"
Virly mengusap wajahnya. Kali ini ia mengambil telepon dan menchat beberapa orang karyawannya untuk menghandle acara gladi resik di mall yang tempo hari Ia dan beberapa pengusaha kuliner mengajukan proposal bazar bersama Jodi.
Bisnisnya tidak dalam keadaan oleng. Masih bisa diurus oleh pegawainya tanpa harus campur tangan Virly kecuali besok hari H.
Apalagi Ia belum sempat mengobrol dengan sang suami untuk urusannya besok.
"Yok sambil bantuin gue sama Mbok Darmi masak di dapur buat makan siang?"
Mereka mengobrol sambil bekerja di dapur.
Berliana yang tadinya ingin curhat seketika urung. Ternyata keadaan si Kakak tak kalah galau dengannya saat ini.
Semalam Maura bercerita tentang banyak hal.
__ADS_1
Tentang dirinya yang ternyata adalah anak pengusaha kaya raya. Dan rupanya, Maura adalah putri tunggal pemilik Matta Network yang tak lain dan tak bukan adalah Pak Gunawan.
Pria mapan, dewasa dan sangat humble yang kemarin seharian sering Ia perhatikan karena kebaikannya.
Ternyata, Maura meminta imbalan sesuatu hal yang sangat besar padanya.
Maura menangis tersedu semalam di pangkuan Berliana.
Maura inginkan Berliana menikah dengan Papanya, yaitu Pak Gunawan.
Ini permintaan serius dan bukan main-main, katanya.
Gila. Seperti gila Berliana mendengar permohonan teman baru yang menganggapnya seperti saudara itu. Sedangkan hubungan pertemanan mereka baru terjalin belum satu bulan lamanya.
"Maura!"
"Please, Berlin! Cuma kamu harapanku seorang! Sungguh! Kamu adalah perempuan yang diutus Tuhan untuk jadi penolong hidupku seumur hidup!"
"Maura..."
"Tolong Aku! Tolong kami, Aku dan Papa. Kami tidak minta apapun, selain menikahlah dengan Papaku! Tidak perlu kamu jadi ibu rumah tangga yang harus diam di rumah. Tidak, Berlin! Cukup jadi teman kami! Dan kita bisa tinggal satu atap layaknya keluarga tanpa ada omongan orang yang julid pada kita!"
"Maura sadarlah! Keinginanmu kurasa terlalu tergesa-gesa! Kamu belum tahu sifat burukku! Kamu belum mengenalku luar dalam!"
"Aku sudah mengenalmu, Berlin! Kamu adalah wanita yang paling tepat yang bisa dampingi papa! Ini benar. Aku sudah punya firasat sejak pertama kali kita ketemu!"
"Maura!"
"Pikirkan, dan Aku akan memperkenalkan secara resmi Papa pada keluargamu setelah seminggu dari sekarang!"
"Hah?!?"
Berliana menelan salivanya.
"Anna, Anna?!?"
"Hah?!?" Berliana tersentak. Virly mengguncang tubuhnya.
"Apa Lo tau siapa pacar pertamanya Mas Rendy? Gue rasa, Lo tau sesuatu! Iya kan?"
Lagi-lagi Berliana mematung tak tahu harus berbuat apa.
"Gue yakin, Lo pasti menyimpan rahasia pribadinya Rendy! Karena gue sekarang baru sadar. Pas pertama kali kalian ketemu, baik Rendy maupun kamu terlihat pucat pasi dan gugup tingkat dewa. Bahkan Mas Rendy sampai berusaha kabur waktu gue minta ganti lampu kamar yang mau Lo tempatin! Iya kan?"
Berliana melongo.
...๐น๐น๐น BERSAMBUNG ๐น๐น๐น...
__ADS_1