
"Jadi selama ini, kamu memendam perasaan tidak enak hati karena ada Anna di sini, Mas?"
"Iya, Yang!"
Virly menunduk.
Ia kini bisa mengerti dan memahami perasaan Rendy.
Andaikan Ia jadi Rendy, pasti juga akan mengalami hal yang sama. Bahkan mungkin jauh lebih frontal ketimbang yang Rendy lakukan saat ini.
Semua itu Suaminya lakukan demi untuk menjaga perasaan semua pihak terutama Virly, istrinya.
"Ada yang mau Aku katakan juga. Selama seminggu ini Aku menutupi pekerjaanku padamu, Virly!"
Virly menatap dua bola mata Rendy yang meredup dan tertunduk. Dapat terlihat betapa sang suami terlihat sedih.
"Aku..., sekarang sudah bekerja di perusahaan periklanan atas bantuan Bang Togar!"
"Iya kah?"
"Tapi hanya supir pribadi, Yang!"
"Ga apa, Mas. Yang penting halal!"
"Iya. Aku jadi suprinya Boss Matta Network, Yang!"
"Wah?!? Keren banget itu! Perasaan si Anna juga baru kerja di perusahaan itu deh?!"
Rendy menelan salivanya. Jakunnya turun naik. Deg degan, harus jujur atau lanjutkan kebohongan yang kedua.
Ga. Stop kebohongan ini! Virly harus tau, kita emang satu kantor perusahaan yang sama. Tapi beda divisi alias beda pekerjaan.
"Iya. Aku liat Berliana di sana! Dia di lantai empat di departemen desain grafis sedangkan aku di lantai dasar, divisi umum khusus driver!"
Virly langsung memeluk tubuh Rendy.
Seketika Rendy menarik nafas lega.
Ketakutannya selama ini akhirnya sirna.
Virly kini telah tahu semuanya.
"Yang! Maafin Aku..., selama ini aku takut berkata yang sebenarnya. Takut kamu justru salah faham dan berfikir macam-macam. Takut sekali rumah tangga kita akan goncang!"
Virly menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Jangan sampai terjadi hal buruk pada rumah tangga kita, Mas! Kita punya Leo! Leonardo Saputra adalah segalanya buatku!"
"Buatku juga pastinya. Bahkan Aku sampai berfikir jauh bawa Leo pergi kalau seandainya kamu balikan sama mantan pacarmu si Jodi 'jomblo abadi' itu!"
__ADS_1
"Hah? Astaghfirullah... hahaha..., Mas Rendy!?! Bisa-bisanya kamu berfikir kayak gitu! Dia itu bukan mantan pacarku! Ish!"
Bug.
Virly memukul bahu Rendy pelan. Senyum kecut dengan bibir mencucut membuat Rendy gemas dan menyerang Virly.
Bahagia hatinya semua kesalahpahaman ini telah sirna.
Ditatapnya wajah cantik sang istri.
"Andaikan itu benar-benar kamu lakukan, kamu adalah perempuan terjahat yang pernah kukenal!" gumam Rendy dengan nada tegas. Pura-pura galak menekan Virly.
Sang istri tak mau kalah. Kini Virly menempel tubuh Rendy hingga mereka saling merapat.
"Kamu yang jahat! Kamu deg-degan ya kan ketemu Anna lagi?" Kini Virly justru membuka isi hati Rendy. Pucat pias wajah Rendy seketika.
Virly tertawa. Ia tersenyum sambil memeluk tubuh Rendy erat-erat.
"Jangan bahas para mantan lagi, Oke? Bikin tensiku meninggi, Mas!"
"Iya. Maafin Aku ya, Yang?! Aku sayang kamu juga Leo. Tidak mungkin bisa berpisah dengan kalian berdua. Kalian adalah harta berharga yang kupunya."
Rendy menambah pelukan hangat Virly.
Malam ini, mereka bahagia kembali.
Rumah minimalis milik Virly terasa begitu indah dan terang benderang. Tidak seperti kemarin-kemarin. Yang sinarannya tampak redup tak menghangatkan jiwa.
Besok baru hari Senin. Tetapi mereka sudah merencanakan akan liburan bersama untuk minggu depan.
...............
Rendy menyusuri jalan trotoar perkantoran. Pukul dua belas siang. Rencananya akan makan siang di sebuah rumah makan sederhana yang ada di area gedung kantor Matta Network.
Maklumlah, ini masih pertengahan bulan. Belum gajian dan keuangan di kantong Rendy juga pas-pasan.
Sehingga untuk meminimalisir ekonomi darurat, Rendy harus bisa mengatur celah seminim mungkin pengeluarannya sampai akhir bulan.
Tidak mungkin juga baginya meminta uang dari Virly walaupun itu bisa saja dengan alasan pinjam. Tapi tidak Ia lakukan mengingat gengsinya yang lumayan tinggi walau kenyataan begitulah adanya.
Lumayan rame! Gumamnya dalam hati.
Rendy sengaja mencari tempat duduk yang cukup tersembunyi dan memojokkan diri. Sehingga ia dengan nyaman makan dengan menu seadanya.
Setelah mengambil makanan di meja prasmanan yang tersedia dan langsung bayar di bagian kasir, Rendy kembali ke tempat duduk yang tadi ia pilih. Dan mulai makan perlahan.
Satu persatu karyawan yang kantornya di area sekitar rumah makan hilir mudik keluar masuk.
Maklumlah, jam istirahat makan siang. Pasti semua restoran dan warung nasi dipenuhi oleh para pekerja kantor sekitar.
__ADS_1
Rendy mendengar samar-samar suara orang yang tidak asing di telinga.
Berlin sama Maura!
Jantungnya berdegup. Ingin pindah tempat duduk tapi rasanya tidak mungkin.
Untungnya Berliana tidak melihatnya. Mereka duduk tepat di belakang Rendy.
"Lanjut, Ber!" tutur Maura.
"Iya. Aku dan Rendy pacaran kurang lebih selama setahun. Sampai kami lulus sekolah tepatnya. Aku... memang jahat padanya. Aku meninggalkannya tanpa berkirim kabar apapun. Bahkan handphoneku juga kutukar tambah. Aku ganti nomor dan ganti akun juga. Hhh..."
Jantung Rendy berdesir kencang.
Ternyata Berlin lagi ngomongin soal hubungan dia sama gue dulu!
"Kenapa gak bilang sama dia?"
"Saat itu yang ada di pikiranku adalah ketakutan yang sangat besar!"
"Apa?"
"Takut Aku mati! Takut penyakitku menular padanya!"
"Bisa dibicarakan baik-baik bukan?"
Rendy menelan ludah. Gugup sekaligus penasaran dengan jawaban Berliana.
"Aku takut kehilangan dirinya. Aku tidak siap berpisah dengannya saat itu. Tapi..., penyakit ini ternyata sudah bukan lagi gejala. Tapi positif TBC. Jujur Aku sangat takut kalau dia akan mengalami penderitaan seperti Aku. Berat badan turun drastis, keringat dingin setiap malam dan dada sesak menahan batuk bahkan ada bercak darah yang keluar lewat dahak. Aku takut, sangat takut sekali, Maura! Usiaku kala itu baru 17 tahun. Di keluarga kami tidak ada yang punya penyakit seperti itu. Tiba-tiba aku divonis dokter mengidap TBC serius dan harus mengikuti prosedur pengobatan yang cukup melelahkan. Padahal percintaan kami secara dewasa baru saja di mulai setelah tamat SMA. Kupikir... Kupikir kami akan semakin kuat dan erat berpegangan tangan. Tapi justru kulepaskan genggaman lalu pergi terbang ke Selangor tempat tinggal adik dari Papa yang istrinya asli orang Malaysia. Semua itu karena jiwaku yang labil!"
Rendy menundukkan kepala.
Cerita Berliana membuat jiwanya lemah.
Ternyata, keadaan Berliana tidak seperti yang Rendy bayangkan.
Ternyata, Berliana sedang dalam kondisi terpuruk jiwa raganya saat meninggalkan dirinya waktu itu.
Kini ia telah mendengarkan sendiri cerita yang sebenarnya dari mulut Berliana sendiri walaupun tidak sedang mengobrol dengan dirinya saat ini, tapi Berliana sedang curhat dengan Maura sahabatnya.
Rendy tidak tahu lagi, harus berbuat apa dan harus menyikapinya kini seperti apa. Berliana, tidak sejahat yang Rendy tuduhkan selama ini.
Ia telah salah menilai.
Tapi nasi sudah menjadi bubur.
Hubungan mereka sudah tidak bisa seperti dulu lagi.
Rendy telah menikah. Bahkan istrinya adalah Kakak kandung Berliana sendiri. Tidak mungkin bagi Rendy maupun Berliana untuk kembali seperti dulu lagi.
__ADS_1
Setidaknya Rendy masih bisa menjaga hubungan kekeluargaan diantara mereka. Biar bagaimanapun, Berliana kini adik iparnya. Ada hubungan yang lain diantara keduanya. Hubungan sebagai kakak dan adik ipar.
...๐น๐น๐น BERSAMBUNG ๐น๐น๐น...