(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 40 - Pertemuan Yang Mengejutkan


__ADS_3

Perjalanan Berliana dengan Maura dan juga Pak Gunawan akhirnya sampai juga di titik tujuan setelah hampir dua jam perjalanan naik pesawat terbang.


Waktu yang ditempuh di atas udara sebenarnya hanyalah satu jam lima belas menit. Namun perjalanan menuju bandara memakan waktu hampir satu jam kurang.


Virly yang sedang duduk di teras rumah bersama Leo yang diasuh seorang Baby sitter terperangah melihat kedatangan Berliana yang cepat.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" jawabnya agak ketus namun berubah lebih ramah karena ada orang lain yang bersama Berliana. Mereka adalah Maura dan Pak Gunawan.


Berliana segera memeluk Virly. Menangis dipangkuan sang Kakak yang hanya terdiam dan membisu melihat kedatangan Berliana.


"Kakak hik hiks...! Separah inikah kebencianmu padaku? Padahal sumpah demi Tuhan aku dan Rendy tidak berbuat apa-apa. Aku berani sumpah pocong, karena kami memang tidak punya hubungan lagi. Semua itu murni hubungan pertemanan. Dan juga hanya kebetulan Rendy lah yang menolongku disaat kejadian menyeramkan itu! Ini Pak Gunawan, beliau adalah CEO Matta Network sekaligus atasan Rendy, Kak! Tanya saja pada beliau bagaimana hubungan pertemanan kami yang bahkan nyaris tidak pernah ada interaksi diluar urusan pekerjaan!"


Maura dan Gunawan yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya turut mendekat.


"Saya adalah Gunawan Wicaksono, CEO Matta Network tempat Berliana bekerja. Ini putri saya, Maura Kartika teman satu kostan Berliana. Jujur saya ingin mengatakan kalau Berliana tidak punya hubungan apa-apa dengan Rendy Saputra. Saya juga mengenal Rendy karena dia adalah bawahan saya langsung dan setiap hari setiap jam Rendy selalu bersama saya. Rendy dan Berliana juga bekerja di beda divisi serta beda lantai ruangan kerja. Itu saja yang ingin saya katakan, semoga Nona bisa mengerti maksud pembicaraan saya ke arah mana. Demi Tuhan, bukan maksud saya juga untuk membela Berliana. Tidak. Meskipun saat ini kedatangan saya dan Maura ada niat lebih jauh kepada keluarga besar Berliana termasuk Nona, kakaknya Berliana, tapi saya tidak ingin memihak salah satu diantara kalian. Karena itu bukan ranah saya."


Virly yang tadi agak senewen perlahan mulai mencair amarahnya.


Sejujurnya Virly juga ragu dengan tuduhannya sendiri. Namun keegoisan hati serta rasa ingin dimanja dan diperhatikan Rendy membuatnya menjadi seperti sekarang ini.


"Saya turut prihatin atas kejadian naas yang menimpa Nona. Saya pernah mendengar suara Nona ditelpon Rendy ketika pria itu sedang menyetir. Nona Virly Rastanty?"


"I iya. Silakan duduk, Pak! Maaf, kalau kedatangannya ke rumah kami ini disambut agak kurang menyenangkan!"


Virly yang seorang sarjana tata boga memiliki publik speaking yang lumayan bagus, langsung bereaksi lebih ramah dari sebelumnya.


Otaknya mulai terkoneksi dan meyakini kalau Pak Gunawan adalah bukan orang sembarangan. Datang jauh-jauh dari Jakarta pastinya dengan membawa kabar berita untuk keluarga mereka.


Berliana mengusap air matanya. Virly juga terlihat mulai menata duduknya yang agak merebah menjadi lebih tegak meskipun harus pelan-pelan dan sangat hati-hati.


"Mbak, tolong panggilkan Papa Mama! Ada tamu dari Jakarta!" perintahnya pada baby sitter Leo yang baru.


"Baik, Non!"


Leo yang mengenal Berliana ternyata mendekati sang Tante yang berwajah muram.


Bocah imut itu menepuk-nepuk pangkuan Berliana sambil tertawa kecil.


Berliana segera memeluk tubuh Leonardo dan mereka mulai bercanda seperti biasa.


"Sayang, Leo pintar!"


"Anty, anty!"



"Ya, Leo!"


"Papa mana?" tanya Leo dengan suara cemprengnya.

__ADS_1


"Papa? Anty ga tau, Sayang!"


"Ada tamu rupa...nya!"


Hilda yang baru keluar dari rumah dengan wajah sumringah seketika terkejut bukan kepalang melihat sosok tamu yang duduk di kursi teras bersama dua putrinya itu.


Matanya membulat dan bibir menganga.


Seketika tubuhnya nyaris limbung hingga Hilda harus berpegangan pada dinding rumah.


"Hilda?!?"


"Gu_Gunawan?"


Keduanya sama-sama membeku dengan mata saling bertatapan lama.


Sama-sama bingung tak tahu harus berkata apa.


"Ada tamu rupanya!"


Sapto yang baru saja dari kebun belakang rumahnya tiba-tiba keluar rumah, ikut menyambut kedatangan Gunawan.


Gunawan tampak kikuk. Apalagi Hilda yang terlihat pucat pias wajahnya.


Sapto mengulurkan tangannya. Berjabatan tangan dengan Gunawan.


"Sapto!"


"Silakan duduk!"


"Terima kasih banyak!"


Gunawan mengikuti Sapto tanpa menjabat tangan Hilda.


"Ma, tolong minumannya!" ujar Sapto pada sang istri.


"I_ iya!"


Dada Hilda seperti bergemuruh. Benar-benar menjadikan tulang persendian Hilda lemas gemetar.


Di dapur Hilda hanya termenung tanpa berbuat apa-apa.


ART nya yang melihat Nyonya rumah terlihat pucat pias langsung mengambil alih tugas membuatkan minuman untuk tamu yang datang bersama Berliana.


Hilda bahkan tak bergeming ketika Wati sang ART menanyakan minuman apa yang harus ia buat. Hingga Wati kembali berinisiatif membuat teh manis hangat.


"Nyonya kenapa? Nyonya sakit?" tanyanya mulai khawatir.


Hilda menggeleng pelan. Tetapi tatapan matanya masih menatap kosong ke depan.


Wati mengamit Hilda hingga duduk di kursi makan.

__ADS_1


"Nyonya mau teh manis juga?"


"Iya."


Hanya sepatah kata itu saja yang keluar dari bibir Hilda yang pucat.


Ingatannya menerawang, pada puluhan tahun yang silam.


........


........


........


"Huaaa...! Tolooong!!!"


Hilda remaja berlari dengan cepat ketika seekor anjing herder mengejarnya.


Dia sangat takut sekali, hingga berlari begitu cepat menghindar si herder yang sangar.


Tiba-tiba seorang pemuda muncul bagaikan pangeran berkuda putih.


Pemuda itu adalah Gunawan. Yang membawa batu bata besar dan menimpukkannya ke arah si herder hingga terdengar guikannya yang kencang.


Herder itu spontan berlari menjauh setelah kena lempar batu bata Gunawan.


"Terima kasih banyak!" ucap Hilda kala itu. Matanya menatap Gunawan tanpa berkedip.


Ya Tuhan, apakah dia ini pangeran berkuda putih yang akan menjadi jodohku?


Begitu fikirnya kala itu.


Hilda dan Gunawan saling mengulurkan tangan, mereka berkenalan.


Perlahan namun pasti, pertemuan yang berawal cukup dramatis itu menghasilkan sebuah maha karya anugrah Tuhan yang terindah. Yakni cinta.


Cinta yang dari mata lalu turun ke hati. Cinta yang berawal tulus sampai berubah menjadi nafsu bir+hi yang tinggi untuk saling memiliki.


Namun sayangnya, usia muda mereka belum cukup mendewasakan keduanya dalam bertindak hingga bablas melewati batas.


Gunawan yang seorang pemuda perantau berumur 18 tahun dan Hilda yang saat itu adalah seorang mahasiswi jurusan manajemen informatika semester pertama berumur 19 tahun melakukan hubungan intim sebelum menikah.


Hingga, Hilda mengandung buah hati Gunawan.


Permasalahan mulai membuat keduanya oleng. Takut pada kenyataan yang ada karena sama-sama belum dewasa dan belum bisa menempuh jalan terbaik berupa pernikahan.


Ibu Rihanna, Orang tua Hilda marah besar. Anak gadisnya dihamili pemuda yang hanyalah seorang pekerja rendahan di sebuah percetakan kecil di tengah kota.


Apalagi pemuda itu juga seorang yatim piatu yang hidup merantau dari kampung terpencil di pelosok desa.


Hubungan keduanya diputus secara paksa oleh Rihanna, Eyang Uti Virly dan Berliana.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2