
Berliana pulang ke kost-an Maura pukul sembilan malam.
Ia sangat terkejut melihat Maura yang duduk sendirian di pinggir tempat tidur dengan lampu mati alias dalam keadaan gelap-gelapan.
"Ra? Maura? Kenapa?" tegur Berliana dengan suara pelan.
Maura terisak. Ia memeluk Berliana erat.
"Kenapa, Ra? Ada apa? Siapa yang bikin kamu nangis gini?"
"Hik hik hiks..."
Berliana mencoba menenangkan Maura dengan mengusap-usap bahu sang sahabat.
"Xavier, Ber, Xavier! Hik hiks... Dia mutusin hubungan LDR kita sepihak tanpa kutahu salahku dimana!"
Maura menangis keras.
"Hahh?" Berliana kaget. Hubungan jarak jauh yang Maura jalani bersama kekasih hatinya Xavier Hernandez kandas di tengah jalan.
"Coba hubungi dia! Atau mungkin orang tuanya. Tanya dulu keadaannya, Ra! Jangan dulu berfikir suudzon terlalu jauh. Coz aku juga pernah ngelakuin hal yang sama dulu dengan Rendy!"
Maura menatap wajah Berliana.
Ia segera mengambil ponselnya. Menghubunginya lagi Xavier.
"Nomornya ga aktif!"
"Takutnya dia lagi ada masalah di sana!" kata Berliana mencoba menerka hal yang dulu pernah Ia alami.
Seperti dejavu. Kini Ia mencoba mendampingi Maura untuk mencari kebenaran tentang Xavier di Singapura.
"Aku mau ke rumah om Johan dulu!"
"Ini udah malam. Yang ada masalah tambah runyam, karena waktunya mereka istirahat! Besok aja siang. Buat janji dulu sama Papa atau Mamanya Xavier!"
"Iya juga ya?!"
Maura yang tadi sempat panik, kini berusaha menahan diri.
Berliana juga berusaha untuk menenangkan Maura yang sempat oleng karena keputusan sepihak yang dibuat Xavier kekasihnya.
Hubungan hampir tiga tahun. Bahkan diketahui dan restu penuh dari kedua orang tua yang bersahabat ternyata tidak membuat tali hubungan menjadi sangat kuat.
Bagaikan benang tipis, rapuh. Apalagi hubungan itu dihalangi jarak yang sangat jauh.
Meskipun komunikasi selalu intens lewat teknologi canggih yang bisa telponan, video call serta 24 jam memantau bagai cctv, tak menjamin hubungan bisa terjaga dan langgeng.
Hanya kekuatan iman dan tekad keduanya untuk menjaga serta memiliki keinginan bertemu bahagia diujung penantian dengan satu harapan, naik ke pelaminan.
Nyatanya, banyak pasangan yang jungkir.
Putus di tengah jalan karena tidak kuat dengan keadaan long distance.
Kebanyakan karena adanya orang ketiga yang masuk dalam salah satu pasangan sehingga hubungan menjadi dingin dan bermasalah.
Berliana memeluk Maura. Mereka putuskan untuk istirahat, tidur melepaskan semua beban berat yang ada hari ini.
__ADS_1
Berliana yang bahagia hari ini bertolak belakang dengan keadaan Maura yang sedang sangat sedih hatinya.
Berliana tak berani menceritakan kebahagiaannya pada Maura. Dia sangat menjaga perasaan Maura yang nantinya bakalan jadi adik iparnya jika menikah dengan Kuncoro sekitar tiga mingguan lagi.
Tangannya terus mengelus lembut punggung Maura. Berusaha memberikan dukungan. Berharap Maura bisa segera melewati masalahnya dengan hati yang bersih. Dan Maura kembali gembira juga bahagia bersama cintanya Xavier.
.............
Pagi hari Berliana terkejut, Maura sudah tidak ada di sisinya. Ia hanya tidur seorang diri.
Sahabatnya itu rupanya sudah bangun sejak dini hari.
Berliana berinisiatif menelpon Gunawan, menanyakan keadaan Maura dan juga keberadaannya.
"Apa? Maura ga ada di sana? Kemana ya Maura?"
Gunawan juga terkejut mendapati kabar dari Berliana.
Ponsel Maura mati, susah sekali untuk dihubungi. Akhirnya Gunawan mencoba mengabari Kuncoro untuk menenangkan perasaannya yang tak tentu.
"Coco! Adikmu pergi dari kost-annya sejak pagi dini hari! Coba tolong cari dimana keberadaannya!"
Gunawan agak panik juga.
Sudah lama Maura tidak lagi buat masalah. Apalagi setelah hampir setahun belakangan ini. Dan mulai mengenal Berliana, Maura mulai menjadi anak manis yang selalu mengabari dimana keberadaannya.
...Pak, coba hubungi keluarga Xavier...
Berliana menchat Gunawan. Dan Gunawan pun langsung gerak cepat menghubungi Adipati Papanya Xavier, sahabatnya sedari jaman Matta Network baru dirintisnya.
Treeet... treeet... treeet
Gunawan melihat timer dipojok ponselnya. Pukul 07.21 WIB.
Sepertinya Adipati sedang sibuk. Gumamnya dalam hati.
...Di, apakah Maura ada di rumahmu? Tolong jawab secepatnya biar Aku tidak cemas...
Ceklis dua. Tapi belum centang biru.
Gunawan segera bersiap untuk pergi ke kantor.
Rendy sudah datang menjemputnya di halaman rumah.
Ada keinginan untuk bertanya Rendy, siapa tahu Maura datang berkunjung ke tempat Virly.
Tapi... ada Berliana di kost-an. Kalau putriku ingin ke rumah Virly pasti memberitahu Berliana! Hhh... Maura, dimana kamu, Nak!?
Kini Gunawan hanya menunggu kabar dari Adipati. Berliana mengatakan kalau ia harus mencari tahu keberadaan Maura pada keluarga Xavier. Kemungkinan Berliana tahu kalau terakhir kali Maura pergi pasti menceritakan hal yang menyangkut Xavier.
"Ren, agak ngebut ya jalannya!?" pintanya pada Rendy.
"Siap, Pak!"
Delon sudah berangkat ke kantor langsung dari rumahnya. Jadi pagi ini mereka tidak berangkat bersama karena Delon menginap di rumah orangtuanya.
Dalam perjalanan menuju kantor, Gunawan murung dengan wajah menunduk ke arah ponsel.
__ADS_1
Adipati, kemana kau! Kenapa chatku belum dibaca juga dibalas?
Gunawan kembali menelpon nomor pribadi Adipati.
Kini justru ponselnya Adipati tidak bisa dia hubungi. Tulisannya hanya memanggil, tidak berdering seperti tadi.
Sepertinya Adipati menon-aktifkan telepon seluler miliknya.
Gunawan menghela nafas.
Sepertinya ada yang tidak beres ini!
"Rendy!"
"Ya Pak?"
"Putar arah ke Jalan Pangeran Jayakarta. Perasaan saya gak enak!"
"Baik, Pak!"
Rendy melirik Gunawan dari kaca spion. Merasakan kalau keadaan hati atasannya itu sedang tidak baik-baik saja.
Treeet treeet treeet...
Ponselnya bergetar.
Kuncoro menelponnya.
"Hallo, Coco? Kamu dimana? Sudah dapat kabar tentang Maura?"
...[Papa, cepat ke hotel green Hyatt yang di selatan! Cepat! Sepertinya Maura ada di sana!]...
"Dimana? Green Hyatt selatan? Oke!"
Klik
"Rendy, putar ke arah Green Hyatt selatan!"
"Iya."
Pagi itu suasana hati Gunawan seperti sedang berada di atas roller coaster ketinggian 100 meter di atas permukaan laut.
Dia dan Rendy meluncur melewati jalan Pangeran Jayakarta dan oper alih ke hotel Green Hyatt Selatan.
Hatinya merasa semakin tak karuan.
Janur kuning, beberapa papan karangan bunga besar terpampang di halaman gedung hotel.
Tertulis tulisan besar dengan huruf kapital.
...SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU...
...XAVIER HERNANDEZ DENGAN LILIANA WIJAYA...
Seketika lemas lutut Gunawan.
Sahabatnya menikung Gunawan dengan menikahkan putra tunggalnya kepada perempuan lain. Sedangkan yang Gunawan ketahui adalah Xavier berpacaran resmi dengan Maura putri semata wayangnya sudah lebih dari tiga tahun.
__ADS_1
BERSAMBUNG