(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?

(BENARKAH) JODOH YANG TERTUKAR?
JYT BAB 92 - Kabar Buruk


__ADS_3

"Papa, Bang Coco tidak bisa Anna hubungi ponselnya. Ini sudah hari ketiga. Apa Papa tau ada apa dengan Bang Coco? Sungguh Anna khawatir sekali!"


Berliana mendatangi ruang baca Papa mertuanya. Ia mulai terlihat panik mengetahui kalau Kuncoro telah tiga hari pergi dan tak ada kabar maupun pesan sama sekali. Bahkan ponselnya juga tidak bisa dihubungi.


Berliana sebenarnya sudah diberitahu untuk tidak panik. Tetapi mengingat cerita Sang Suami yang menggantung sebelum berangkat kerja membuat hatinya kian was-was.


"Duduklah, Anna!"


Berliana menuruti perkataan Gunawan.


"Suamimu, bukan karyawan biasa. Dia... memiliki pekerjaan khusus yang tidak semua orang boleh tau apa pekerjaannya."


Berliana yang sudah bisa menebak semakin gugup. Khawatir kalau sang suami sedang dalam ada masalah dalam pekerjaannya itu.


"Mas Coco adalah tentara khusus kah, Pa?"


"Kurang lebih seperti itu. Coco... seorang Intel khusus yang diperbantukan negara. Anna tidak perlu risau. Doakan saja, Coco pulang dengan selamat. Ya?!?"


Berliana diam termenung tak bisa berfikir apa-apa lagi. Seperti dugaannya, Kuncoro adalah seorang anggota rahasia keamanan negara. Yang hidup matinya telah Kuncoro serahkan pada negara. dan Berliana tidak bisa berbuat apa-apa. Selain berdoa dan berharap Sang Suami selamat dalam tugas penting yang sedang diembannya.


"Anna!"


"Ya, Pa?! Bisakah kamu memegang rahasia ini? Cukup kita berdua saja yang mengetahui pekerjaan Kuncoro. Yang lain jangan sampai tahu, termasuk Maura. Ya?"


Berliana menatap netra Papa mertuanya.


Hanya anggukan kecil yang bisa Ia berikan sebagai jawaban. Karena hatinya sedang luruh lemah, tak berdaya.


Bang, cepatlah kembali. Aku menunggumu, Sayang! Ingatlah selalu, ada Aku istrimu yang setia menanti kepulanganmu!


Berliana kini semakin rajin melaksanakan ibadah lima waktunya. Bahkan Subuh pun tak lagi kesiangan seperti ketika masih gadis dahulu.


Terlebih kini Sang Suami yang pekerjaannya sangat mengandung resiko. Urat nadi Kuncoro seperti berada di titik nadir. Seolah hidup dan matinya hanyalah dibatasi dengan sehelai benang tipis saja. Dan Berliana harus siap dengan segala kemungkinannya.


"Papa..."


"Ya Anna?"


"Apakah Bang Coco bisa keluar dari kesatuan?"

__ADS_1


"Entahlah, Anna. Kini kita pasrahkan saja semuanya kepada Allah Ta'ala. Hidup mati seseorang bukan ditentukan dari berbahaya atau tidaknya pekerjaan yang Ia lakoni. Bahkan seorang pekerja kontraktor bisa saja mati di atas ranjang tidurnya sendiri ketika sedang tertidur pulas."


Perkataan Gunawan sedikit meringankan beban hati Berliana. Sehingga Ia tersadar bahwa semua kejadian di dunia ini adalah atas izin Yang Maha Kuasa.


Berliana hanya bisa berharap dan berdoa, Sang Suami segera selesaikan tugasnya dan kembali pulang dalam keadaan baik-baik saja.


...............


Maura yang sedang menikmati kesendiriannya mulai mencari cara agar Radit kembali dekat dengannya.


Tapi sayang, sepertinya Radit sengaja menjaga jarak dari Maura sehingga gadis itu sadar diri kalau dirinya ternyata bukanlah tipe idaman Radit dan mundur secara perlahan.


Radit yang terbiasa dijapri Maura ternyata baru menyadari kalau gadis cantik itu telah mengurangi intensitas chattannya hingga benar-benar menghilang tanpa kabar berita lagi.


Maura yang biasanya menanyakan kabar Radit setiap hari, kini bahkan sampai beberapa hari tak lagi melakukan itu. Membuat Radit kangen juga dengan sapaan Maura.


...Hai, sibuk ya?...


Radit mencoba menchat Maura lebih dulu. Namun kali ini responnya tak segercep tempo dulu.


Hm. Apa dia sudah punya gebetan baru? Kenapa chatku terkesan diabaikan?


Apa Aku telpon saja? Jangan, jangan. Ga boleh telpon tiba-tiba kalau tidak ada keperluan penting dan mendesak.


Radit hanya bisa menunggu sampai Maura membalas chattannya.


Sudah satu jam, tapi chatnya masih ceklis dua dan belum juga centang biru.


Itu tandanya Maura masih belum membuka pesan Radit.


"Hhh..."


Ini pertama kalinya Radit merasa gelisah menunggu balasan dari Maura.


Ia mencoba menchat Kuncoro. Mencoba menanyakan keadaan adik temannya itu. Namun ternyata lebih fatal lagi. Chatnya hanya ceklis satu. Pertanda Kuncoro sedang tidak aktif dan terlihat terakhir aktif adalah empat hari lalu.


"Hm. Sepertinya si Coco sedang ada tugas di lapangan!" gumam Radit pada dirinya sendiri.


Hari ini Radit sedang bermalas-malasan di rumah utamanya bersama kedua orang tua.

__ADS_1


Tak ada kerjaan dan sedang malas untuk datangi beberapa kantor perusahaan milik Sang Mama hibahan dari Papanya.


Yunita memiliki empat perusahaan yang bergerak di bidang retail, waralaba dan grosir sembako di setiap wilayah penjuru Ibukota.


Radit sendiri adalah anak tunggal yang tak perlu pusing memikirkan ekonomi masa depannya. Harta warisan yang cukup banyak, mampu memberikan pemasukan minimal tiga puluh juta perbulan dari empat perusahaan itu ke rekening tabungannya. Dan itu sudah menjadi jatah bulanan Radit sejak dirinya berumur 25 tahun. Bisa dibayangkan berapa jumlah total keseluruhan tabungan pria dewasa 32 tahun itu.


Radit bahkan memiliki black card. Dan tidak pernah Ia belanjakan lagi setelah putus dari Inka.


Dirinya benar-benar telah membuang gaya hidup jetset nya setelah menyadari kalau harta selalu jadi masalah dalam percintaannya.


Maura... Apakah kamu mulai berfikir kalau Aku ini benar-benar pria miskin yang tak pantas untukmu?


Entah mengapa, Radit mulai takut kehilangan Maura.


Dia benar-benar merindukan sosok Maura yang manja padanya terlebih ketika memori ingatannya kembali mengenang kondisi Maura disaat masih jadi Nona Majikannya yang Ia kawal 24 jam selama satu bulan.


Dan Radit teringat kembali pada tubuh molek Maura yang sempat ia,


Shiiiit! Kenapa otak ini jadi kotor? Hadeeuh... Jangan jadi pria berfikiran m+s+m, Radit! Jangan!


Radit memukul kepalanya sendiri dengan tangan.


Treeet treeet treeet...


Seketika Radit bersorak. Ponselnya berdering.


Tetapi kegembiraan sekejap hilang berganti kesedihan. Karena yang menelpon bukanlah Maura melainkan teman satu almamaternya di kesatuan dulu.


"Hallo? Ya? Apa???..."


Radit termangu. Bibir membulat ternganga lebar.


Jantungnya berdegup kencang. Temannya itu mengabarkan berita yang membuat hatinya seketika hancur berantakan.


...[Kuncoro hilang dari radar! Kalau kamu melihat keberadaannya, tolong kabari kami!]...


Kuncoro hilang??? Kemana dia??? Bukankah sedang mengintai seorang anggota dewan terhormat yang juga masih satu partai dengan Papa angkatnya Pak Angkasawan? Lalu..., bagaimana Aku bisa memberi kabar kepada keluarganya Kuncoro terutama kepada istrinya, Berliana Anggraini? Ya Tuhan! Maura...! Apakah Maura juga bisa terima kenyataan kalau terjadi sesuatu pada Kakak kandungnya itu?


Radit menelan salivanya. Diam dengan posisi mata kosong menatap ke depan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2