
Keindahan puncak pass membuat hati dan jiwa besar lepas.
Hamparan kebun teh yang hijau di sisi kiri dan kanan jalan, udara pegunungan yang sejuk menyegarkan, membuat Maura semakin lebih positif dalam berfikir.
Hidup tidak melulu cinta. Cintanya pada Sang Pencipta bahkan tidak seujung kuku cintanya pada Xavier.
Maura malu hati. Betapa dirinya adalah hamba yang tak jarang sekali mensyukuri nikmat Tuhan. Bahkan untuk bersujud, berdoa, berterima kasih pun sangat jarang Ia lakukan.
Kini Maura merasa sudah saatnya Ia berubah.
Jalan yang meliuk-liuk, dan perjalanan angkutan umum yang terkadang mengebut terkadang melambat akhirnya menurunkan keduanya di tempat tujuan.
Sebuah gapura menyambut keduanya turun dari angkutan umum kota hujan yang berwarna hijau muda itu.
"Kita kemana ini, Bang?" tanya Maura pada Radit.
Radit mengangkat tas ransel Maura dan menjinjing satu tutebag miliknya.
"Kita mampir di villa teman!"
"Oh. Apa temannya Abang ada di sini?"
"Ga ada. Ini kan bukan hari libur, jadi dia di Jakarta. Biasalah, pengusaha muda!"
"Abang keren ya, temennya orang hebat semua!" puji Maura membuat Radit tertawa kecil.
"Ya. Teman-temanku memang orang hebat, beda sekali sama Aku yang begini-begini aja hidupnya! Hehehe..."
"Abang paling hebat!" sela Maura dengan senyum sumringah.
"Ish, rayuannya dimulai deh!"
"Hehehe... Bukan rayuan, kenyataan."
"Makasih!"
Langkah mereka terhenti tepat di depan sebuah bangunan besar berwarna putih. Mirip white house di negara adidaya. Hanya ukurannya saja yang jauh beda.
Radit belum menekan bel, tetapi seseorang sudah membuka pagar dan menyambut kedatangan mereka dengan wajah sumringah. Seorang pria paruh baya dengan dandanan yang santui sekali mirip cowboy di luar negeri.
"Tuan Muda eh emm Den Radit!" sambutnya seolah meralat ucapannya.
__ADS_1
Maura juga tak luput dari pandangan pria itu.
"Maura, ini Kang Sule orang kepercayaan pemilik villa ini. Kang Sule, ini Maura. Perkenalannya cukup sekian. Hehehe..."
"Iya Den! Neng! Silakan masuk. Semua sudah disiapkan Tuan Muda!"
Maura menatap Radit tidak mengerti.
"Aku sudah mengabari kawanku pemilik villa ini. Dia ternyata sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk kita menginap di sini. Alhamdulillah kan? Mengurangi biaya pengeluaran. Hehehe.."
"Waaa, jadi enak dong kita!" pekik Maura girang.
Dia menengok kanan dan kiri. Mengamati seluruh pemandangan sekitar villa yang sangat asri. Lalu mereka berjalan menaiki tangga villa, menuju duplikat gedung putih.
"Keren! Pasti pemiliknya seorang konglomerat ini!"
"Kata siapa?"
"Kata aku lah!"
"Oiya ya. Hehehe... Mungkin! Aku gak terlalu suka tanya-tanya keuangan temanku itu."
"Abang koq bisa kenal orang-orang tajir sih? Kenal Bang Coco, anak angkat petinggi partai. Kenal pemilik Villa Gedung Putih, pebisnis muda yang kaya raya, kayaknya circle pertemanan Abang dilingkungan orang-orang berada ya?"
"Enggak juga. Itu cuma kebetulan aja kok. Buktinya, Bang Coco justru sekarang ini adalah atasanku. Dialah yang membayarku untuk jadi pengawal pribadi Nona Maura selama satu bulan kedepan. Karena katanya Nona Maura yang cantik jelita sedang patah hati dan dikhawatirkan bertindak anarkis yang bisa membahayakan nyawanya."
Maura tertegun. Ia kembali teringat akan kesedihannya yang membuat dirinya jadi orang bodoh dan tolol dalam beberapa hari ini.
Bahkan dia hampir mati dua kali jika tidak ada Radit disampingnya.
"Maaf ya, Maura beberapa hari ini bego banget! Sangat tolol sekali tingkahnya. Dan mulai sekarang, ga akan berfikir seperti orang bodoh lagi. Janji!"
Radit tersenyum.
Tangannya mengelus pucuk rambut Maura.
Seketika jantung Maura berdesir halus.
Perlakuan Radit yang manis kian membuatnya senang dan ingin lagi diperlakukan seperti itu.
"Den, Non! Makan dulu, mumpung masakan bi Munah masih hangat. Kalau sudah dingin rasa nikmatnya akan kurang."
__ADS_1
"Waaa, kedatangan kami jadi merepotkan ya kang Sule!?" jawab Maura ramah.
Seorang perempuan paruh baya sedang menyiapkan makanan di atas meja makan di ruangan berbeda.
"Den, Non, makan dulu!" katanya dengan sangat ramah.
"Terima kasih Bi Munah!" timpal Radit.
"Terima kasih banyak bi!" tambah Maura.
Mata gadis itu berbinar indah. Tangannya tak sabar ingin mencomot sepotong tempe goreng yang masih panas.
"Cuci tangan dulu, Maura. Kita dari perjalanan jauh dengan angkutan umum." Radit mengingatkan Maura dengan lemah lembut.
"Hehehe... iya."
"Itu, wastafelnya! Maura bisa bersihkan tangan di sana!"
"Kamu sering kesini ya?"
"Tentu saja. Numpang tidur, numpang makan dan kadang numpang hidup lumayan lama kalo belum ada kerjaan. Hehehe..."
"Ya ampun. Hehehe... Ini sih temen yang nyusahin dong!"
"Hahaha...! Bi Munah sama Kang Sule justru senang kalo aku sering tinggal di villa ini. Iya kan Kang!? Hehehe... Ayo ayo, kita makan bareng Kang, Bi!"
"Hehehe... Bang Radit berasa kayak yang punya villa ya Kang. Tengil. Hahaha..."
"Hehehe..."
Sule dan Minah hanya tertawa kecil sembari saling pandang ke arah Radit yang tertawa lebar.
Maura tidak tahu, pemilik asli villa ini memanglah Radit. Putra istri ketiga konglomerat nomor satu di negara ini. Hm.
Tak ada yang tahu kisah hidup Radit. Termasuk Kuncoro. Kakak Maura itu hanya mengenal Radit di kesatuannya.
Mereka pernah berada dalam satu camp yang sama di korp kesatuan. Ketika mereka sama-sama masih jadi tamtama.
Tetapi keduanya memilih jalur yang berbeda. Kuncoro masuk jurusan intel sedangkan Radit memilih bagian Paspampres. Dan mereka pisah mess setelah itu.
Kuncoro mendengar kasus Radit. Ia yang masih tergabung dalam pasukan inteligensi negara turut prihatin akan nasib karier militer temannya itu yang sama-sama merintis dari bawah.
__ADS_1
Kuncoro menghubungi Radit kembali karena butuh bantuannya untuk mengawal dan mengawasi adik semata wayangnya yang sedang dirundung kesedihan.
BERSAMBUNG