
"halo."dengan nada datar Rain saat panggilan teleponnya diterima.
"iya, ada apa nona menelpon saya? apakah ada yang anda inginkan?"jawab seorang wanita dari seberang telepon.
"Aku ingin bertanya."Rain masih mengucap dengan nada datar.
"iya?"
"Dimana makam orang tuaku, kakak pernah bilang kalau orang tua kami meninggal karena sebuah kecelakaan dan aku tau kalau kamu pasti mengetahui dimana orang tuaku dimakamkan."
Orang yang berbicara dengan Rain adalah Erika yang merupakan orang kepercayaan Amberly dalam menjaga sebuah butik di kota itu juga menjaga Rain dan Erika juga sudah lama berkerja dengan Amberly bisa dikatakan kalau Erika dan Amberly sudah menjadi seorang sahabat.
Erika hanya diam tidak tau apa yang akan dibicarakannya.
"Jangan diam saja! aku tau kamu tau hal ini."kata Rain dengan nada yang mulai naik.
"Itu ada di kota A, tepatnya di sebuah pemakaman umum yang terletak di daerah D."pada akhirnya Erika pun mengatakan tempatnya.
"baiklah aku akan kesana hari ini."setelah mengatakan hal itu Rain ingin mematikan sambungan telepon.
"Aku akan menemani kamu pergi, tunggulah disana biar aku saja yang mengantar kamu." tanpa mengatakan apapun lagi Erika langsung mematikan sambungan telepon tersebut.
Rain pun saling pandang dengan Alexia.
__ADS_1
"Sepertinya lebih baik kamu pergi dengan Kak Erika saja, bukannya Aku tidak mau menemanimu tapi aku rasa lebih baik kamu mencari tahunya sendiri."ucap Alexia dengan tersenyum.
"oke, mungkin ini adalah saatnya buat aku mulai mencari tahu jati diriku sendiri."
"benar, dan jika kamu membutuhkan sesuatu Aku selalu ada di belakangmu."kata Alexia lalu ia memeluk sahabatnya itu.
.
.
.
saat ini Rain sedang berjalan bersama dengan Erika di sebuah pemakaman umum setelah beberapa jam menempuh perjalanan menggunakan mobil.
mereka tiba-tiba berhenti dan Mata Rain langsung tertuju pada gundukan tanah yang ada tepat di hadapan mereka.
"ini adalah makam ayahmu."ucap Erika ada makam yang ad di hadapan mereka.
mungkin karna tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah membuat Rain tidak tau harus menangis atau apa di hadapan makam ini.
"wafat 1 Januari 2000, tapi aku lahir di tahun 2005?"tanya Rain entah pada siapa.
"Dia bukan Ayahku!"kata Rain dengan sedikit keras.
__ADS_1
"Dia memang bukan ayahmu tapi...."belum selesai Erika berbicara Rain langsung menyelanya.
"jadi aku ini anak pungut, berarti dugaan ku selama ini benar kalau aku ini hanya anak pungut dan karena itu kakak tidak menyayangi aku."setetes air mata mengalir di pipi cuby Rain.
Erika hanya dapat menghela nafas melihat Rain.
"Kamu bukan anak angkat, tapi yang di hadapan kamu ini adalah kakek kamu bukan ayah kamu."
Ucapan Erika bagai petir di siang bolong yang membuat Rain langsung terdiam, jantungnya langsung memompa dengan cepat dan bibirnya pucat dengan tiba tiba.
"jadi... aku...."Rain tak jadi menyelesaikan kata katanya ia seperti tenggelam dalam lautan yang dalam tanpa pegangan.
"Rain... hei dengarkan aku!" Erika memegang bahu Rain dan menggeser tubuh Rain agar berhadapan dengannya.
Erika mengambil nafas dalam dalam lalu mengeluarkan perlahan, mungkin inilah saatnya untuk Rain mengetahui semuanya karna Erika pun merasa tidak mampu lagi untuk menyimpan semua ini.
"Kamu adalah anak kakak kamu, Leonard da Keylix."
.
.
.
__ADS_1
bersambung
salam hangat dari author 😘