
Brain berjalan mondar mandir di depan pintu kamar Magraf yang berada di lantai satu.
Magraf berada di dalam kamar sedang diperiksa oleh dokter. sudah cukup lama dokter di dalam kamar tapi belum juga keluar membuat Brain semakin khawatir.
"Abang harus tenang, jika Abang tenang maka pikiran akan lebih jernih dan bisa mengatasi masalah."ucap Rain mengelus lengan Brain agar berhenti mondar mandir.
Brain menatap sendu pada Rain lalu brain meraih tubuh mungil Rain dan memeluk erat tubuh itu.
Brain serasa mendapat kenyamanan dalam pelukan Rain apalagi Rain juga mengelus punggung Brain agar lebih tenang.
"Hanya ayah yang aku punya dan dia baru keluar dari persembunyian mau memulai hidup baru malah di culik dan di celakai seperti itu."ucap Brain yang mulai menangis.
Bagaimana pun Brain masihlah seorang manusia yang memiliki emosi, yang bisa menangis juga.
Banyak masalah yang ada di hidup Brain tapi ia merasa masalah itu tidak ada apa apanya bila di bandingkan dengan masalah sang ayah.
Magraf adalah satu satunya keluarga yang Brain miliki dan oleh sebab itulah Brain merasa sangat sakit ketika melihat Magraf berlumuran darah.
__ADS_1
"Semuanya akan baik baik saja."ucap Rain berusaha menenangkan Brain.
Brain mengangguk dan menghapus air matanya.
"tadi itu...."belum Rain menyelesaikan ucapannya pintu kamar pun terbuka dan nampaklah dokter dengan wajah tenaga keluar dari kamar itu.
"Bagaimana keadaan ayah saya dok?"brain langsung melepaskan pelukan dan bertanya pada dokter.
Dokter tersebut tersenyum tipis.
"Tuan Magraf sudah stabil, tadi dia hanya kehabisan banyak darah karena luka pada tangan dan punggungnya sekarang dia sudah baik baik saja."ucap Dokter tersebut.
Tangan Brain mengepal mendengar hal itu.
"Apakah saya boleh melihatnya sekarang?"tanya Brain masih mencoba menahan emosi.
Dokter itu mengangguk lalu mengeluarkan sebuah kertas berisi nama nama obat dan diberikan kepada Brain.
"Baiklah saya permisi dulu dan ini adalah obat yang bisa mempercepat proses penyembuhan luka tuan Magraf dan ada juga obat agar tidak infeksi."ucap Dokter itu.
"Saya berterima kasih banyak atas jasa dokter, Garda antar dokter ke depan."
Akhirnya Dokter tersebut diantarkan oleh Garda ke pintu depan.
Brain langsung masuk ke dalam kamar diikuti oleh Rain dari belakang.
__ADS_1
Mata Brain langsung tertuju pada sang ayah yang terbaring lemah dengan pergelangan tangan terbungkus kain kasa yang sudah sedikit memerah karena darah.
Brain mendudukkan dirinya di tepi kasur sedangkan Rain berdiri di sebelah Brain.
"Siapa yang melakukan hal ini Ayah? aku berjanji akan memberikan hal yang setimpal dengan yang mereka lakukan pada ayah."ucap Brain dengan gigi bergemeratuk.
Rain hanya menatap Brain dan Magraf tenang.
Magraf yang memang sedari tadi terjaga hanya tersenyum mendengar ucapan Brain.
"Tak apa Brain, fokuslah pada tujuan awal aku yakin kamu bisa menguasai semua dan mengambil hak kita."ucap Magraf dengan api semangat menyala nyala di mata Magraf.
"Semua harus mendapat karma atas apa yang dilakukannya."
.
.
.
bersambung
__ADS_1
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙