
Ke waktu sekarang.
Tuan Adrian menyesap kopinya perlahan, menikmati rasa pahit yang menjadi candu baginya.
Ting
gelas itu berbunyi saat di letakkan di tada. Tatapan tuan Adrian beralih ke arah Arm yang tampak duduk tenang di hadapannya.
"pertemuan keluarga akan dilaksanakan satu Minggu lagi menurut kabar yang aku dapatkan Magraf akan keluar dari persembunyiannya."Arm menjeda ucapannya menatap perubahan mimik wajah sang ayah.
Dahi tuan Arm berkerut dan tak lama sebuah senyuman sinis terbit di bibirnya.
"Saat itu terjadi kamu harus tetap melaksanakan sesuai rencana awal."ucap tuan Adrian menatap lekat wajah Arm.
Arm menelan ludahnya susah payah saat sebuah ingatan tiba tiba muncul di otaknya membuat rasa sakit yang teramat sakit.
Tangan Arm mengepal kuat menahan rasa sakit, keringat sebesar biji jagung mulai keluar dari dahinya.
"kau tidak meminum obat yang Daddy kasih?"tanya tuan Adrian dengan tatapan begitu tajam.
Arm tak menjawab tapi ia mengambil air putih yang ada di depannya dan meminum air itu sampai habis.
"Ini minum sekarang!"
Sebotol pil obat di letakkan di depan Arm, botol itu adalah botol kecil yang biasa menjadi obat sakit kepala Arm.
Arm menatap lama obat itu tanpa berniat mengambil atau pun menolak, setelah itu ia kembali menatap Tuan Adrian.
"Kau pikir aku tak tau kalau kamu berhenti meminum obat ini." tatapan tuan Adrian yang tadinya tenang pun langsung tajam.
"Aku merasa sudah mengonsumsi terlalu banyak obat, hal itu akan menyebabkan ingatanku melemah dan otakku berkerja lambat."ucap Arm tetap tenang walaupun dalam hati sangat takut.
"Ingat Arm! Selama kamu menjadi kepala keluarga Altarik kau harus tetap sehat dan jika kau sakit sakitan seperti ini bagaimana kamu bisa mengurus bisnis keluarga Altarik."ucap Tuan Adrian dengan tegas.
"Baiklah."setelah mengucapkan itu Arm membuka botol itu dan mengambil satu buah pil dan menelannya.
__ADS_1
tak lebih dari sepuluh menit rasa sakit tadi pun hilang dan bersamaan dengan itu ingatan yang tadinya seperti tayangan di otaknya perlahan menghilang.
Arm kembali fokus.
"Acara keluarga akan diadakan di sini dan seluruh anggota keluarga akan hadir."ucap Arm.
"Terserah kamu saja tapi ingat jangan lalai karena kita tidak tau kapan musuh akan menyerang, jadi tetaplah waspada."
Arm mengangguk lalu berdiri.
Tuan Adrian tersenyum melihat punggung Arm yang perlahan menghilang.
"Dulu aku pikir Dia akan sangat sulit diatur, tapi ternyata dia adalah pemain yang mudah dimainkan."
Tuan Adrian meminum habis kopinya.
Dan tanpa disadari oleh siapapun pada salah satu buku yang berjejer di lemari terdapat sebuah kamera kecil yang tersembunyi.
__ADS_1
Semua kegiatan yang dilakukan oleh tuan Adrian dapat dilihat oleh seseorang yang menjadi pemilik dari kamera itu.
Rahasia atau apapun itu dapat dilihat dan didengar oleh seseorang diseberang sana.
Dan yang mendengarkan itu sedang terduduk sambil meminum segelas jus stroberi di sebuah kafe.
dia hanya tersenyum menatap ke layar tab nya.
"Semua berjalan sangat lancar bukan?"tanyanya pada sosok yang ada di sampingnya.
Sedangkan orang yang berada disampingnya hanya terdiam menatap dia dalam.
.
.
.
bersambung
jangan lupa like and vote ya
salam hangat dari author 😘
__ADS_1