ÉCLAIR

ÉCLAIR
Episode 44


__ADS_3

Magraf berjalan mengelilingi rumahnya sambil menarik nafas segar setelah keluar dari lantai bawah tanah tempat dia bersembunyi selama ini.



Jika ditanya kenapa dia tidak keluar saja dari dulu, maka jawabannya adalah karena dia tidak tau diantara para anak buah yang ada di rumah itu yang penghianat atau bukan.



Mana tau diantara mereka ada mata mata dari Tuan Adrian yang memang sangat dendam kepada Magraf.



Para bodyguard yang berada di dekat Magraf langsung menunduk hormat tapi tanpa Magraf sadari bodyguard itu membawa sebuah kain ditangan nya.



Bodyguard itu melangkah semakin mendekati Magraf hingga akhirnya ia berada satu langkah dari Magraf.



Magraf mengerutkan dahi lalu mau melangkah mundur tapi belum ia mundur sebuah sapu tangan sudah menyumpal mulut Magraf.



"kau..."belum Magraf menyelesaikan ucapan ia sudah jatuh pingsan.



Lalu pria yang berpakaian bodyguard itu pun langsung menyeret badan Magraf dan memasukkan ke sebuah karung besar.



lalu ia mengangkat karung itu seperti mengangkat karung beras dan berjalan ke bagian belakang rumah.

__ADS_1



Rain yang sedang menyiram tanaman pagi itu menatap bodyguard yang berlalu dihadapannya sambil membawa sebuah karung yang sangat besar.


"Apa itu ?"tanya Rain menghentikan langkah bodyguard itu.


"ini hanya sampah dedaunan dan batang pohon yang baru di tebang di depan nona."ucap Bodyguard itu.



Rain menyerngit saat mendengar jawaban pria di depannya, karena karung itu tak nampak seperti sampah.



"Kalau begitu saya pergi dulu nona, teman saya sudah menanti di belakang untuk membakar sampah ini."ucap bodyguard itu kembali berjalan menuju pintu pagar belakang.



Rain tak menahan lagi tapi ia tetap menatap pria itu hingga hilang dari pandangan Rain.



'Aku rasa ada yang salah tapi apa ya?'


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan hari sudah sore saja dan waktunya untuk Rain memasak untuk makan malam nanti.



Jam sudah menunjukkan pukul enam sore dan artinya Brain akan pulang sebentar lagi.


Baru Rain memikirkan pria itu tiba tiba dia sudah datang dan memeluk Rain dari belakang sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rain.


"Lelah sekali."ucap Brain sambil mendusel dusel di leher Rain.

__ADS_1


"Jangan seperti Bang, aku jadi geli kalau kamu capek pergi istirahat dulu ke kamar nanti aku akan panggil pas jam makan malam."ucap Rain sambil mengelus sebelah pipi Brain.


"Tapi aku mau peluk kamu aja disini."ucap Brain mengeratkan pelukan itu.


"lebih baik kamu istirahat dulu, kalau kayak gini aku jadi susah untuk masak."ucap Rain menggoyangkan badan agar Brain melepaskan pelukan itu.


"iya iya, pelit sekali cuman minta peluk aja pun."ucap Brain cemberut.


Rain mengecilkan api kompor dan memutar tubuh hingga berhadapan langsung dengan Brain, kedua tangan Rain mengelus pipi Brain.


"Kamu lelahkan? sekarang mandi dan istirahat sebentar ya."ucap Rain dengan sangat lembut.



Pipi Brain menjadi merona mendengar ucapan Rain.


Ah sial, Brain jadi mudah salting sekarang.


"iya."ucap Brain lalu berbalik dan berjalan keluar dari dapur.



Saat akan menaiki tangga Brain terhenti karena pintu yang berada tepat di bawah tangga dengan itu terbuka.


Brain berjalan mendekati pintu yang terbuka itu dengan menatap tajam pintu itu, karena tak pernah pintu itu terbuka sendiri kalau tidak Brain yang membuka.


'Apakah ayah sudah keluar dari sana?'


bersambung


jangan lupa like and vote ya 🙂


salam hangat dari author 💙

__ADS_1


__ADS_2