ÉCLAIR

ÉCLAIR
episode 24


__ADS_3

Malam sudah semakin larut tapi langit malam malah semakin terang dengan di dampingi oleh bulan sabit yang tampak indah.


Arm menatap itu semua dari balkon kamarnya.



Ting


Sebuah notifikasi muncul dari handphone yang di dengarnya, itulah yang dia tunggu selama ini.


Arm langsung membuka hp nya dan memutar sebuah video yang di kirim oleh salah satu bodyguard.



Mata Arm menatap video itu dengan seksama tak ingin tertinggal satu momen pun.


"Kadang aku berfikir, aku yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini tapi semakin kesini aku baru sadar aku hanya tokoh figuran saja."


.


.


.


Disebuah ruangan yang tampak temaram hanya bercahayakan cahaya bulan yang memantul dari jendela, tertidur seorang gadis manis di atas ranjang.


Brain menatap gadis itu lama, wajah yang bersinar karna cahaya bulan itu tampak menambah kecantikan gadis itu.



Brain tak menyentuh gadis itu, dia hanya menatap dengan pikiran campur aduk.



Setelah itu dia menaikkan bedcover hingga ke leher gadis itu agar dia tidak kedinginan.



Lalu ia melangkahkan kaki keluar dari kamar itu.



Brain berjalan menuju ke sebuah ruangan yang terletak di bawah tanah.



"Bagaimana? Apa kamu mendapatkan informasi penting?"tanya seorang pria paruh baya yang sedang duduk di sebuah sofa dalam ruangan itu.



Ruangan bawah tanah ini sangatlah nyaman dengan fasilitas yang sangat lengkap.



"Belum yah, tapi aku merasa kalau Arm mulai mengingat semuanya."ucap Brain duduk di sofa yang berhadapan dengan ayahnya.


__ADS_1


"Butuh waktu lama buat dia untuk mengingat hal itu dan sambil menunggu hal itu kamu harus mencari celah bagi kita untuk menyerang."ucap lelaki paruh baya itu.



"Baik yah."ucap Brain menunduk pada sang ayah.



"Pergilah dan pikirkan bagaimana cara agar kau menjadi kepala keluarga Altarik bukan Arm."ucap lelaki itu.



Brain hanya mengangguk tak membantah setiap kata dari lelaki yang di panggil ayah olehnya itu.



Sejak kecil Brain sudah dilatih agar terus menurut tanpa membantah membuat ia terbiasa patuh pada ucapan sang ayah.



"Aku pergi dulu." Ucap brain lalu bangkit berdiri.



"Hmmm, jangan melupakan tujuan pertama kamu menculiknya Brain jangan sampai kamu termakan umpanmu sendiri."ujar sang ayah memperingati.



"Hmm." Setelah itu Brain berlalu pergi meninggalkan sang ayah.


.


.


.



Bulu mata lentik itu mulai bergerak gerak dan sedikit demi sedikit terbuka menampilkan manik kelabu yang sangat indah.



Dia mengerjab matanya sambil mengucek hingga pandangan di hadapan gadis itu mulai jelas.



Tampaklah lelaki yang menculiknya sedang duduk di sofa berpangku tangan menatap ke arah luar jendela.



Wajah tampan lelaki itu membuat Rain merasa terhipnotis untuk selalu menatap ke arahnya.



Alis tebal, di lengkapi dengan bulu mata pendek dan manik mata cokelat yang sangat indah dipadukan dengan kulit putih, ditambah dengan hidung mancung plus bibir tipis lelaki itu, benar benar tampan.


__ADS_1


"Sudah cukup menikmati ketampanan ku di pagi hari."ucap pria itu sambil berjalan mendekati Rain.



Manik kelabu itu tak bisa beralih, hanya melihat lelaki itu.



"Good morning sayang."ucapnya yang tiba tiba lembut sambil mengecup dahi Rain.



Badan Rain menegang merasakan itu, gadis kecil yang selalu menantikan ciuman manis seperti ini dan tiba tiba seseorang yang menculiknya menciumnya seperti yang dia inginkan.


Tanpa bisa ia hindari, ia merasa tersentuh akan hal itu.


"Seminggu lalu aku bermimpi melihat mu sedang di mimpiku."ucap lelaki itu memulai bercerita, ia menyingkirkan poni Rain menyisihkan di belakang telinga Rain.


"Saat itu kau menarik tanganku untuk bangun dan membawa ku sebuah taman bunga yang sangat indah, kau terus berlari dan meneriaki aku untuk mengejar mu." Ucap lelaki itu seperti menerawang memikirkan mimpinya.


"Dengan tersenyum aku mengejarmu tapi tanpa aku sadari aku berlari ke dalam sebuah labirin yang kau masuki."


Rain tak mengatakan apapun tapi dia mendengarkan cerita lelaki itu.


"Aku mulai kebingungan dengan jalan mana yang harus aku pilih tapi tiba tiba kamu datang lagi dan kembali menyuruhku untuk mengejar mu. Tanpa memikirkan konsekuensinya aku mengejar mu ."



"Dan pad akhirnya kita bertemu di tengah tengah labirin itu yang ternyata itu adalah sebuah taman bunga yang sangat indah dengan satu ayunan disana. Kita bermain disana dengan tertawa lepas." lelaki itu ikut tersenyum.



"Tapi tiba tiba mimpi aku berubah menjadi suara tangisanmu yang begitu kencang membuat hati ku merasa tersayat, aku mencari asalnya tapi aku tidak tau kau berada di mana, suara itu terus terdengar membuat aku merasa sakit karenanya."



"Aku pun terbangun dan setelah hari itu aku berusaha mencari mu." Ucap Brain mengelus rambut panjang Rain.



Rain menatap dalam mata cokelat itu, hatinya merasa nyaman dengan lelaki itu.


Jangan salahkan Rain karena selama ini dia mencari tempat untuk mendapatkan kasih sayang itu dan hari ini ia bisa merasakannya dari lelaki ini.


"Kamu siapa?"tanya Rain tenang.


"Brain, namaku brain dan ingat nama itu terus."


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa like and vote ya 🙂

__ADS_1


Salam hangat dari author 😘


__ADS_2