
Alex yang melihat adiknya ketakutan pun bangkit dari duduk dan berjalan mendekati Alexa.
Tangan Alex menepis tangan wanita itu membuat senyuman di wajah wanita itu semakin lebar.
Dengan cepat Alex melingkarkan tangan ke pinggang Alexa dan memapah agar dia dapat berdiri.
Sedangkan anggota keluarga yang lain masih belum mengambil tindakan karena wanita itu sedang memegang kunci dari pertemuan mereka hari ini.
Tapi lain hal dengan Rain yang sedari tadi berusaha mengendalikan emosinya melihat orang yang begitu ia kenal, selain itu Rain juga berusaha agar ia tidak muntah sebab ini pertama kali ia melihat hal seperti ini.
Disebelah Rain, Brain masih terus menatap wanita yang masih memegang kepala Asker dengan satu tangan Brain masuk ke saku jasnya.
"Siapa kau?"tanya Abizard yang pada akhirnya membawa wanita itu berbicara.
wanita itu tersenyum hingga menampakkan gigi.
"Ini adalah pertanyaan yang aku tunggu tunggu sedari tadi."ucap Wanita itu lalu berjalan mendekati Abizard dengan tangan masih menenteng kepala Asker.
"Karena paman yang memberi pertanyaan itu maka paman yang akan mendapatkan hadiah ini."ucap wanita itu meletakkan kepala Asker di depan Abizard.
__ADS_1
Lalu wanita itu kembali berjalan memutari meja panjang itu hingga tiba didekat Arn yang sedang merokok dengan santai.
Seakan tanpa beban wanita itu duduk di pangkuan Arn dan mengambil rokok yang berada di tangan Arn lalu meletakkan di bibirnya.
Wanita itu kembali meletakkan rokok di sela jari telunjuk dan jari tengah lalu menghembuskan asap rokok keatas, kembali senyuman manis tadi terpasang di bibir wanita itu.
"Dengarkan baik baik, nama ku adalah LEONARD, aku adalah kekasih dari kepala keluarga Altarik."ucap Leonard lalu menyandarkan tubuhnya ke dada Arn.
Semua orang pun terkejut apalagi Rain yang tampak begitu syok mendengar hal itu, beberapa pertanyaan pun keluar dari otak Rain.
Tuan Adrian pun tak kalah terkejut mendengar hal itu.
tatapan orang orang pun beralih pada Arn yang masih diam untuk meminta jawaban apakah yang dikatakan wanita itu benar atau tidak.
"Apa kau sudah ingat dengan ku tuan Adrian yang terhormat?"ucap Leonard sambil menghembuskan asap rokoknya kembali.
"Bagaimana mungkin aku tidak ingat pada gadis bodoh yang menangis nangis depan mansion ku waktu itu hanya karena kehilangan kekasihnya."ucap tuan Adrian dengan arogan.
"HAHAHAHAHAHAHA."tawa wanita itu menggema di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Semua orang menatap kearah Leonard dengan pandangan berbeda beda, ada yang kasihan, ada juga yang benci.
"Ternyata kau ingat, tapi bukan itu tujuan aku ke Mansion mu saat itu tapi untuk mengembalikan kekasihku."ucap Leonard yang tiba tiba menghentikan tawanya dan wajah Leonard berubah serius.
Dalam seperkian detik wajah Leonard dapat berubah dari bahagia menjadi begitu serius dengan mata tajam menatap ke arah depan tempat tuan Adrian duduk.
"Iya, tapi kekasih mu yang kau minta itu sudah mati."ucap tuan Adrian lalu kembali menyeruput kopinya.
Wajah Leonard yang tadinya serius pun tersenyum miring.
BRAKK
"Siapa yang kau bilang sudah mati! anakmu lah yang sudah mati, jangan menjadi orang stres karena kehilangan anaknya lalu menjadikan orang lain menjadi anak mu."ucap Leonard sambil menunjuk Tuan Adrian.
Alex mengeluarkan pistol lalu mengarahkan ke kepala Leonard.
"kau benar benar sangat mengganggu."
tatapan Leonard pun beralih pada Alex yang duduk di sebelah Arn.
"Jangan bertindak gegabah atau kau akan mati karena kebodohanmu sendiri, Alex."
.
.
.
bersambung
__ADS_1
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙