ÉCLAIR

ÉCLAIR
Episode 55


__ADS_3

"Jadi, apakah aku harus terus-menerus menjadi orang bodoh dalam cerita ini?"ucap Rain menatap manik mata hitam kelam yang selama ini ia rindukan.


Wanita itu adalah Leonard da Keylix, ibu Rain.



Leonard tersenyum dengan air mata yang berlinangan siap tumpah kapan saja, mungkin jika ia berkedip saja setetes air mata bisa jatuh.



"Kamu bukan orang bodoh, karena sebenarnya kamu merupakan berlian yang ingin di dapatkan oleh semua orang. Percayalah, suatu saat kamu akan di jadikan tameng oleh mereka."ucap Leonard mengelus rambut Rain.


cup


Satu ciuman Leonard berikan di kening Rain, Leonard menutup mata menikmati hal itu.



"Bersabarlah, *Ibu* melakukan semua ini untuk kamu."Ucap Leonard yang untuk pertama kali memanggil dirinya sendiri ibu.



Rain yang sedang duduk pun langsung memeluk pinggang Leonard yang berdiri di pinggir tempat tidurnya.



Rain membenamkan wajahnya di dada sang ibu meresapi kehangatan yang mungkin setelah ini akan kembali menghilang.



Setetes air mata jatuh dari mata Leonard, ia membalas pelukan Rain sambil menghapus air matanya.


Jas putih milik Leonard pun basah karena Rain yang menangis di sana.


Leonard hanya membiarkan saja ia hanya mengelus rambut Rain sambil sesekali mengecup kepala Rain.

__ADS_1



Mata Leonard menatap ke arah jam tangannya lalu ia semakin mengeratkan pelukannya.



Setelah puas menangis akhirnya Rain melepaskan pelukan itu dan menghapus air mata nya.



Leonard tersenyum sambil merapikan rambut Rain.



"Ingat pesan ibu yang terakhir, jika berjumpa dengan ibu anggap seperti tidak saling mengenal."ucap Leonard sambil mengelus kedua pundak Rain.



Rain mengangguk.



Setelah itu pun berbalik meninggalkan Rain yang kembali mengeluarkan Air mata.


Sebelum keluar dari kamar Rain, Leonard merapikan jas dan juga rambutnya serta menormalkan wajahnya lalu memakai masker kembali.


ceklek



Brain yang tadi bolak balik pun langsung berjalan mendekati pintu ketika melihat dokter dan perawat yang ia minta untuk mengobati Rain sudah keluar.


"Bagaimana dokter? apakah lukanya dalam? apakah Rain baik baik saja?"tanya Brain cepat.


Mata Leonard tampak menyipit sepertinya wanita itu tersenyum melihat Brain.

__ADS_1



"Sebenarnya luka yang ada di perut Rain tidak terlalu dalam tapi mungkin Rain adalah tipe orang yang takut darah sehingga saat kami membersihkan luka pada perutnya ia terus menangis dan sampai selesai kami membalut luka itu ia masih saja menangis." Ucap dokter itu sambil terkekeh.


Wajah Brain yang tadinya khawatir pun mulai tenang dan ia juga tersenyum mendengar kalau gadis keras kepala itu ternyata takut darah.


"Lihat ia sampai membasahi jas saya hingga seperti ini saat suster saya membalut lukanya."ucap Leonard menunjuk jasnya yang basah.



Brain terkekeh geli membayangkan bagaimana Rain yang menangis histeris hanya karena luka itu.



" Sebenarnya kami ingin memberi bius agar Rain tidak merasakan sakit tapi melihat suntik dia malah menangis semakin histeris malah langsung berlari menjauh membuat darahnya semakin banyak keluar."


"OOO begitu, terima kasih dokter dan Garda antar dokter ke depan."perintah Brain.


"Tapi saya meminta tuan agar tidak membuka balutan lukanya, jika ingin membuka itu bisa meminta bantuan kami karna takut Rain berteriak histeris karena takut melihat lukanya."ucap Leonard.


Brain hanya tersenyum dan mengangguk.


setelah itu barulah Leonard berjalan meninggalkan Brain.


.


.


.


bersambung


jangan lupa untuk like and vote ya


salah hangat dari author 💙

__ADS_1


__ADS_2