
Manik kelabu milik Rain membola merasakan ujung belati itu menyentuh kulitnya. Mata Rain menatap mata Amberly yang sedari tadi menatap ke arahnya dengan pandangan tak bisa dijelaskan.
Tetesan darah mulai memenuhi lantai yang berada di antara Amberly dan Rain menandakan kalau Amberly benar benar menusuk Rain.
"bersikap seperti kamu terluka parah!"perintah Amberly dengan suara kecil.
Belati itu memang benar menusuk Rain tapi hanya menggores sedikit perut Rain sedangkan darah yang banyak itu berasal dari tangan Amberly yang menggenggam mata belati itu.
Tak ada yang tau isi otak Amberly dan rencana dia sebenarnya.
"apa yang kakak lakukan?"ucap Rain meneteskan air mata memegang perutnya seperti orang kesakitan.
"Aku melakukan ini buat kamu, biar kamu bisa tetap hidup."ucap Amberly lalu menarik kembali belatinya.
Brain yang menyadari kalau Rain di tusuk pun langsung berlari ke arah Rain yang sudah memucat.
Brain melayangkan tinju tepat ke wajah Amberly membuat Amberly langsung tersungkur ke lantai.
"Apa yang kau lakukan hah!!"teriak Brain penuh Amarah.
Arm yang melihat hal itu pun berjalan mendekati Amberly dan menarik lengan Amberly agar berdiri di belakangnya.
"Bawa dia ke rumah sakit dulu."ucap Arm dengan tenang.
__ADS_1
"Kau harus melakukan apa yang kamu janjikan pada ku."ucap Brain menggendong Rain lalu pergi meninggalkan ruangan itu meninggal anak buahnya yang pingsan.
"Apakah sakit sekali? aku akan membawa mu ke dokter secepatnya."ucap Brain panik melihat Rain yang tak berhenti menangis.
Rain tak menjawab ia masih terus menangis tapi ia tidak tau itu tangisan kebahagiaan karena bertemu dengan orang yang selama ini ia rindukan atau justru tangisan kesedihan sebab ia tidak akan pernah bersatu dengan kakak atau ibunya.
.
.
.
Seorang dokter berjalan mendekati Rain yang masih menangis, Sedangkan Brain disuruh menunggu diluar.
"Apa kau akan terus menangis Rain?"sebuah suara yang sangat ia kenali berhasil menyita perhatian Rain.
Rain membuka matanya dan melihat seseorang yang baru saja ia lihat sedang berada di depannya dengan memakai setelan dokter.
"Kakak?"panggil Rain ragu.
Wanita itu hanya mengangguk sambil membuka kemeja yang dipakai Rain memeriksa luka yang berada di perut Rain.
Mata Rain tertuju pada kedua tangan wanita itu dan tak nampak sedikit pun luka disana padahal ia yakin tadi wanita itu terluka.
__ADS_1
"Yang tadi menusuk mu itu adalah Amberly."ucap wanita itu sambil membersihkan luka pada perut Rain.
Dahi Rain berkerut tak mengerti maksud dari wanita ini.
Wanita itu mengelus rambut Rain dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kau sudah bertemu dengan dia bukan? pasti kau akan merasakan sesuatu ketika bertemu dengannya."ucap wanita itu ambigu.
"Kenapa kamu melakukan semua ini?"tanya Rain dengan datar.
Wanita itu mengulas senyum manis mendengar pertanyaan itu.
"Banyak hal di dunia ini yang tidak semuanya kita ketahui Rain karena terkadang sebuah kejujuran sangatlah pahit untuk diterima."ucap Wanita itu membalut perut Rain.
Lalu wanita itu memakaikan baju pasien pada Rain.
"Jadi, apakah aku harus terus-menerus menjadi orang bodoh dalam cerita ini?"
.
.
.
bersambung
__ADS_1
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙