ÉCLAIR

ÉCLAIR
episode 30


__ADS_3

"Pertemuan dua keluarga akan dilaksanakan dua Minggu lagi."Ucap Brain menatap lelaki paruh baya yang sedang duduk berpangku tangan dihadapannya.



Di tempat yang minim cahaya itu tak membuat kilatan tajam mata pria itu hilang.



"Apakah ayah akan menghadiri atau masih akan tetap bersembunyi disini?"tanya Brain pada sang ayah.



Pria itu masih belum membuka suara ia masih tetap menatap sang anak yang tanpa ia sadari sudah tumbuh besar.



"Sudah tujuh belas tahun ayah disini dan aku rasa sudah saatnya ayah keluar lalu membuat tunduk semua orang."lanjut Brain.



"Kita tidak bisa memastikan kalau **Dia** tidak mencari dan berniat balas dendam kepadaku."Suara ayah Brian yang datar pun keluar.


huff


Brian menghela nafas lalu menghembuskan.


"Tapi sampai kapan ayah akan bersembunyi? jika ayah takut kan ada aku yang akan menjaga ayah dan aku rasa perempuan itu sudah melupakan hal itu."Brian menyandarkan tubuhnya pada sofa.


"Kau tidak mengerti Brian, jika karena wanita itu aku tidak akan takut, yang aku takutkan adalah sesuatu yang lebih mengerikan dari pada itu."


"Ya, apa ?"tanya Brain dengan kesal.



"Suatu hari ketika kamu tau, maka kamu sendiri yang akan menyuruh ayah agar tetap sembunyi."ucap Ayah Brain sangat yakin.


__ADS_1


Ia mengibaskan tangannya menyuruh Brain untuk pergi dari ruangan bawah tanah itu segera.



Tanpa membuang suara lagi Brain langsung pergi dari sana.


tak tak tak


Mata Brain membulat saat ia melihat Rain yang sedang menatapnya dengan tatapan kebingungan.



Brain berjalan mendekati Rain yang tampak syok masih memegang sapu.



"Yang kamu lihat atau kamu dengar adalah sebagian dari rahasia ku, aku harap kamu dapat menyimpan hal ini baik baik."ucap Brain menepuk pundak Rain dua kali.


Rain hanya mengangguk dengan tatapan polosnya.


.


.


.


ia menutup mata dan jika kita melihatnya lebih teliti lagi maka kita akan melihat sebuah earphone yang terpasang di telinganya.


"....."


"Bagaimana bisa tidak sakit, sedangkan yang kau incar adalah pemilik hatinya. kau masih ada hati nggak sih?"tanya Amberly dengan penuh emosi.


"....."


"Jika kau tau apa yang harus kau lakukan, maka kau pasti tau setelah ini apa yang akan terjadi."


"Kau akan di jauhi atau bahkan lebih parahnya akan di benci oleh putrimu sendiri."lanjut Brain dengan suara keras.

__ADS_1



"....."


huff


kembali Amberly menghembuskan nafas kasar.


"yup kau memang betul semua tergantung takdir tuhan tapi apakah kau akan tetap diam jika takdir berkata jika yang kau rasakan akan dirasakan oleh putrimu?"tanya Amberly.


"...."


Amberly terdiam lalu ia mencopot Earphone itu.



"Aku harap kamu dapat paham dengan kondisiku saat ini sayang, dan semoga kamu dapat memahami posisi ku saat ini."ucap Amberly menerawang.



Banyak hal di dunia ini tak sejalan dengan apa yang direncanakan dan jika itu terjadi maka kesabaran lah yang harus ditumpuk banyak banyak dalam diri setiap orang.



Tapi bagi dari sebagian mereka juga memilih dengan cara cepat dalam menyelesaikan masalah tanpa mempertimbang resiko yang mungkin mereka dapatkan setelah hal ini terjadi.



"Tetaplah hidup disini, karena aku akan tetap menjadi kekasihmu di manapun kau berada."ucap Amberly memegang dadanya.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


jangan lupa like dan vote ya 🙂


salam hangat dari author 💙


__ADS_2