
Hari berlalu begitu cepat dan hanya tinggal tiga hari lagi berlangsungnya pertemuan keluarga Altarik.
Arm begitu sibuk mempersiapkan pertemuan tersebut sebab bukan hanya kerabat dekat saja tapi ada beberapa orang yang merupakan kerabat jauh juga datang.
Selain urusan pekerjaan dan pertemuan keluarga, pikiran Arm juga terbagi untuk sesuatu yang beberapa hari ini menerornya.
Hal itu bukan sesuatu yang menakutkan, itu hanya sebuah kertas yang berisi kata kata yang sama yang dikirim kepadanya selama tiga hari berturut-turut.
KITA AKAN BERTEMU
Tiga kata itu yang selalu ia temukan di kertas yang berada di atas meja kerja Arm.
Arm tidak mengetahui siapa yang mengirimkan hal itu padanya selama tiga hari.
Arm bersandar di kursi sambil memijit dahi yang terasa pusing, sungguh beberapa hari ini otaknya berkerja dengan sangat keras bahkan untuk makan saja ia selalu lupa.
Soal Amberly, Arm masih memenjarakan wanita itu sebelum Amberly mengatakan alasan kenapa ia menusuk Rain.
"Aku pikir dia memiliki sebuah hubungan dengan Rain melihat dari tatapan mereka ketika bertemu."ucap Arm kembali mengingat pertemuan dua hari yang lalu.
Pulpen yang berada di tangan Arm berputar putar di jari lelaki itu.
"Apakah ia melakukan ini agar aku berpikir kalau ia tidak memilki hubungan dengan Rain atau memang dia memiliki dendam dengan Rain atau dengan Brain."
Arm menatap ke langit langit ruangan itu sambil memikirkan kemungkinan kemungkinan yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Saat melihat wajah Amberly yang seperti tidak merasa bersalah, aku pikir dia memang ingin melukai Rain dari awal tapi aku masih merasa ada yang mengganjal disini."ucap Arm berbicara sendiri.
"Atau apakah Amberly hanya orang yang disuruh sedangkan musuh yang sebenarnya hanya menikmati permainan ini."
Arm menegakkan tubuhnya dan mengambil sesuatu yang berada di laci meja kerjanya.
Ia mengambil di buah foto wanita yang dulu ia cari tau, itu adalah foto Amberly dan seorang wanita yang bernama Leonard.
Arm mendekatkan kedua foto itu.
Manik mata Arm menatap lama kedua foto itu memperhatikan perbedaan dan kesamaan foto itu.
Lalu manik kelabu milik Arm berhenti di satu titik ia menajamkan penglihatannya dan ia baru menyadari satu hal.
Arm langsung berdiri dan memasukkan ke dua foto itu ke saku celana lalu berjalan keluar dari ruangan menuju ke ruang bawah tanah.
Dengan langkah lebar Arm menuju ke sebuah penjara paling ujung tempat Amberly.
"Buka pintunya!"perintah Arm pada orang yang menjaga penjara tersebut dengan datar.
Akhirnya penjara itu pun terbuka dan nampaklah Amberly yang sedang duduk bersila dengan mata tertutup.
__ADS_1
Amberly masih tetap tenang walaupun ia tau bahwa Arm mendatangai penjara tempat ia ditahan.
"Berdiri!"perintah Arm pada Amberly.
Mata Amberly terbuka dan nampaklah manik hitam kelam itu, Amberly menatap Arm dengan tenang.
Dengan patuh Amberly berdiri di hadapan Arm tapi masih tidak mengeluarkan suara.
"Lepaskan softlens yang kamu pakai itu!"perintah Arm lagi.
Amberly tak bergerak sedikit pun.
"Apakah kamu mendengar perintahku Amberly? lepaskan softlens mu!"ulang Arm dengan suara yang sudah naik satu oktaf.
"Aku tidak memakai softlens."sanggah Amberly.
.
.
.
bersambung
__ADS_1
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
Salam hangat dari author 💙