
Brain menatap mata sang ayah mencari kebohongan di mata tersebut tapi ia hanya mendapatkan tatapan tulus sang ayah.
Brain menghembuskan nafas panjang.
"Ayah tau, aku nggak ada lagi ingin untuk menjadi pewaris keluarga Altarik karena aku merasa cukup dengan perusahaan yang aku dirikan sendiri walaupun tidak terlalu besar."ucap Brain dengan tenang.
Magraf menghentikan kuyahan dan menatap Brain yang juga menatap ke arah Magraf dari tatapan yang diberikan Brain, Magraf tau Sang anak sudah lelah untuk berjuang dan memilih untuk menyerah.
Magraf menghabiskan makanan yang ada di mulutnya lalu meletakan piring ke atas meja dan minum air putih.
"Kau tau Brain kenapa ayah melakukan semua ini bahkan ayah mau melakukan segala cara agar kamu bisa menjadi pewaris keluarga Aktarik?" Magraf duduk tegak dengan kaki yang satu berada di atas kaki yang lain.
"Agar kamu tidak mengalami apa yang ayah rasakan, agar kamu bisa mendapatkan hak kamu bukan diambil oleh orang lain."Magraf menghabiskan air yang berada di gelas yang dibawa Brain.
__ADS_1
"Tapi aku merasa tidak memerlukan hak itu lagi yah, aku merasa aku cukup bahagia walaupun tinggal dirumah ini, walaupun aku kerja di perusahaan yang kecil tapi aku bahagia yah, aku senang dengan hasil kerja keras aku."ucap Brain dengan tangan terbuka lebar.
Magraf tampak terkekeh mendengar ucapan putra semata wayangnya itu.
"Kau tau nak di dunia ini tak ada yang namanya abadi bisa saja kebahagiaan yang kau bicarakan itu hilang dalam sekejap dan pada saat itu kau baru akan menyadari betapa pentingnya harta dalam kehidupan mu."ucap Magraf.
"Ayah juga pernah berpikir seperti mu dulu tapi lihatlah apa yang terjadi, ketika perusahaan yang ayah bangun bangkrut apakah ada diantara orang yang kita pikir adalah kebahagiaan kita itu berada disamping kita?"tanya Magraf.
"Kau perhatikan saja pada kehidupan kita, kenapa ibumu pergi? karna ayah bangkrut kan? karna ayah sudah tidak memilki harta lagi dan dia lebih memilih pergi dengan pria lain yang lebih kaya."lanjut Magraf.
"Kau bisa merasakan juga kan bagaimana ibumu tega meninggalkan kamu pada saat kamu masih TK, dimana kamu sedang butuh sosok ibu dan dia pergi dengan pria lain tanpa menatap kearah belakang meninggalkan kamu yang menangis keras."
"Ayah tidak akan lupa Brain, ayah tidak akan lupa suara tangisan kamu waktu itu dan ayah tidak akan lupa bagaimana sakitnya ketika ayah meminta kepada kakekmu untuk memberikan sedikit modal tapi kakek mu seolah olah tidak melihat ayah hanya karena ayah anak hasil hubungan diluar nikah."
__ADS_1
Air mata mulai mengalir di pipi Brain saat mendengar suara sang ayah yang gemeteran membuktikan betapa sakitnya ayahnya mengatakan hal itu.
"Dan saat ini adalah waktunya kita untuk mendapatkan segalanya Brain, sesuatu yang memang seharusnya menjadi milik kita."ucap Magraf menghapus air mata yang menetes di ujung matanya.
"Percayalah, semua ini ayah lakukan untuk mu Brain."ucap Magraf berdiri lalu mengelus rambut Brain lalu Magraf berlalu pergi dari kamar.
.
.
.
bersambung.
__ADS_1
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙