ÉCLAIR

ÉCLAIR
Episode 45


__ADS_3

"Dimana ayah ku?"tanya Brain pada bodyguard yang berada di depan pintu rumah.


Bodyguard yang ditanya hanya menggeleng kepala tidak tau.


"Saya tidak tau tuan."ucap bodyguard itu lalu menunduk takut melihat Brain yang seperti orang gila sama seperti beberapa tahun yang lalu.


Brukk Brakk


bodyguard itu langsung terjatuh kelantai setelah dua kali di tinju oleh Brain yang sedang emosi.


"Dasar tidak berguna."ucap Brain lalu berjalan menuju ke arah ruangan cctv.


Saat tiba di ruangan itu Brain langsung duduk di depan komputer dan beberapa kali mengutak atik komputer itu hingga ia dapat menemukan rekaman pas sang ayah di bekap oleh salah seorang Bodyguard.


"Siapa dia?"tanya Brain pada Garda, tangan kanan Brain.



"Saya belum pernah melihat dia tuan."ucap Garda dengan kepala tertunduk.


"Jika kau belum melihat dia kenapa dia bisa masuk ke wilayah ku."ucap Brain dengan nada mulai naik.


Garda hanya menunduk tak tau harus menjawab apa sedangkan Brain kembali menatap layar komputer itu mengpouse pas pria itu berhenti di depan Rain.



Volume suara Brain besarkan hingga ia bisa mendengar percakapan antara Rain dan juga pria itu.



Manik cokelat milik Brain terhenti di pin yang ada di dada sebelah kiri pria itu, pin itu adalah pin yang berkerja di mansion utama Altarik, tempat Arm tinggal.


__ADS_1


Wajah Brain berubah semakin gelap ia langsung berdiri dan berjalan cepat keluar ruangan itu.



"Kumpulkan anggota yang terbaik kita akan menyelamatkan ayahku."ucap Brain lantang.



Setelah itu ia kembali berjalan ke arah dapur mencari Rain tapi yang dicarinya tidak ada disana.


"RAIN.. RAIN... SAYANG..."teriak Brain yang dilanda cemas ketika tidak menemukan Rain di dapur.


"Apa sih bang?"ucap Rain yang keluar dari kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Brain menghela nafas lega saat melihat Rain baik baik saja, sekarang ia sedikit parnoan.


Brain memegang kedua bahu Rain.


"Aku mau pergi sebentar, kamu jangan keluar rumah saat aku pergi, tetap dalam rumah bahkan ke kebun belakang rumah pun jangan."ucap Brain tegas.


"Aku tidak bermaksud mengurung kamu tapi aku cuman takut kamu kenapa kenapa, karena saat ini keadaan sedang genting."


Tangan Rain bergerak mengelus lengan Brain.


"Baiklah aku akan tetap dirumah tapi kamu harus jaga diri juga aku tidak mau kamu terluka."ucap Rain tulus.


"iya."ucap Brain lembut lalu mencium kening Rain.


"ini... kalau ada apa apa telpon aku dengan ini."ucap Brain memberikan sebuah handphone.


Rain menerimanya dengan senyuman manis yang membuat hati tenang.


"Aku pergi dulu, ingat pesan aku tadi."ucap Brain kembali mencium kening Rain lalu berlalu pergi meninggalkan Rain.

__ADS_1


.


.


.


Gio berlari menuju ke ruang kerja Arm dengan wajah yang begitu panik dan tanpa mengetuk Gio langsung membuka pintu itu langsung.



Brakkk


Arm yang sedang menandatangani sebuah dokumen langsung menatap tajam ke arah Gio.


"Maaf tuan."ucap Gio membungkukkan badannya.


"Katakan!"titah Arm.


"Mafioso yang menjaga gerbang utama melihat mobil brain dan anak buahnya melaju ke arah mansion."ucap Gio.



Tanpa menjawab Arm langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar dari ruang kerjanya.


.


.


.


bersambung


jangan lupa untuk like and vote ya 🙂

__ADS_1


salam hangat dari author 💙


__ADS_2