ÉCLAIR

ÉCLAIR
episode 18


__ADS_3

Rain berjalan mengelilingi rumah tempat dia ditahan. Setiap sudut ruangan di rumah itu tampak memiliki patung patung singa, mungkin pemiliknya adalah orang yang suka akan ornamen patung karena begitu banyaknya patung.


Dan hal yang paling menyita perhatian Rain adalah sebuah patung yang ada di tengah tengah rumah itu dan patung itu dikelilingi kaca yang membuat kita tidak bisa menyentuhnya.


Patung itu seperti patung wanita yang menari tapi yang menyita perhatian Rain adalah patung itu seperti tersenyum dalam tangisannya.


"Apa maksud patung ini?"ucapnya mengelus kaca yang menghalangi dia dari patung itu.


"Patung yang bagus bukan?"ucap lelaki yang menculiknya yang sampai saat ini ia tidak tau namanya.



"Hmm."



Rain memutar tubuhnya, ia menatap lelaki itu beda dari sebelumnya, saat ini lelaki itu memakai pakaian formal dengan tatanan rambut klimis membuat dia tampak begitu tampan.



Tanpa Rain sadari ia terus menatap lelaki itu.



"Aku memang tampan tapi kamu tidak perlu sampai menjatuhkan air liur seperti itu."ucap lelaki itu sambil terkekeh.



Rain dengan bodohnya mengelap mulutnya, setelah itu ia baru sadar kalau ia dibohongi oleh lelaki di depannya ini dan tampak ia lihat lelaki itu tertawa lepas.



Dan itu tamak begitu indah.


"Jangan terlalu lama melihatku aku takut kamu jatuh cinta padaku dan aku tidak akan tanggung jawab jika itu terjadi."ucap lelaki itu mencubit pipi cuby Rain lalu ia berjalan meninggalkan Rain.


Rain hanya menatap kepergian lelaki itu dengan sedikit bersemu.

__ADS_1



Tiba tiba lelaki itu berhenti tepat saat ia akan membuka pintu rumah.



"Jangan mencoba untuk kabur karna diluar sana banyak binatang buas yang bisa datang kapan saja, jika kamu masih ingin menemui ibumu maka patuhi apa yang aku ucapkan."ucap lelaki itu tanpa membalikkan badannya setelah itu baru ia pergi.



Rain menarik nafas dalam dalam sambil memejamkan mata dan menghembuskan perlahan.


.


.


.


Di sebuah ruangan kerja berwarna hitam dipadukan dengan warna putih, nampak sosok Arm yang sedang duduk di kursi kebesarannya.




"Menurut saya obat ini hanya obat pereda sakit kepala biasa, dan kandungannya pun hampir sama dengan dengan obat sakit kepala ada umumnya tapi obat ini lebih ampuh dari obat sakit kepala biasa."ucap lelaki berjas putih di depan Arm.



Arm hanya menatap datar orang di depannya.



"Ya. Kau boleh pergi."usir arm sambil mengibaskan tangannya.



Tanpa membuang waktu lagi lelaki itu bangkit dari duduknya dan langsung pergi.

__ADS_1


Arm mengambil smartphonenya dan menelpon seseorang, ia meletakkan smartphone itu karena sudah tersambung dengan earphone di telinganya.


"....."


"Bagaimana caranya aku bisa mengingatnya lagi?" Tanya Arm setelah mendengarkan penjelasan orang di seberang sana.


"...."


"Baiklah aku akan mencoba menahan sakitnya tapi jika aku tidak tahan dengan rasa sakitnya bagaimana?" Tanya arm lagi.


"....."


"Baiklah kamu bisa mengirimnya melalui Andre."ucap Arm lalu ia mematikan sambungan telepon tersebut.



Arm memutar mutar belati yang ada di atas meja sambil tersenyum tipis mengingat sesuatu hal. Arm mengambil belati itu dan melemparkannya ke sebuah foto yang terpampang begitu besar di depannya.



foto dirinya sendiri.



"Ternyata perang yang sesungguhnya sudah dimulai sejak lama."


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa like anda vote ya 🙂


Salam hangat dari author 😘

__ADS_1


__ADS_2