
"Kita mau kemana sih bang? tumben tumbenan Abang bawa Rain jalan pakai jas kayak gitu."tanya Rain yang memang jika mereka jalan biasanya Brain hanya akan memakai kaos saja.
Brain yang sedang mengendarai mobil pun memalingkan wajahnya menatap Rain yang seperti biasa sangat cantik dan imut.
'Maaf.' kata itu lah yang terus berputar di otak Brain ketika melihat Rain.
"hei!! kok bengong sih."Rain menggerakkan tangan di depan wajah Brain agar tidak bengong lagi.
Brain tersenyum dan kembali menatap ke jalan.
"Kita mau ketemu salah satu anggota keluarga ku."ucap Brain tenang.
Rain yang mendengar hal itu langsung terkejut, oh ayolah ia merasa tak cukup pantas jika dibawa langsung bertemu dengan keluarga Brain.
Walaupun grogi tapi Rain juga sangat senang mendengar hal itu, menurut Rain berarti Brain serius dengan hubungan mereka.
"Kamu tidak keberatan kan bertemu dengan keluarga aku?"tanya Brain menatap Rain.
Rain menggeleng kalau ia fine fine saja ketemu keluarga Brain.
Brain pun kembali fokus pada kemudi menatap ke depan walaupun otaknya memikirkan hal apa yang mungkin terjadi saat pertemuan nanti.
Mobil yang di kendarai oleh Brain pun berhenti di sebuah gedung.
"Ayo."ucap Brain membukakan pintu bagian Rain.
Rain tersenyum dan keluar.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun berjalan memasuki gedung tersebut.
.
.
.
Rain menatap ke arah Jembatan cantik yang menjadi objek pemandangan dari tempat ia berdiri.
Sedangkan Brain sedang duduk di kursi menatap punggung Rain yang sedari tadi berdiri di dekat jendela besar.
Dan tak lama pintu pun terbuka.
Rain dan Brain sontak memutar pandangan mereka ke pintu tersebut.
Rain sama sekali tak terpengaruh dengan tatapan tajam itu tapi ia begitu tertarik dengan manik kelabu yang sama dengannya, sangat jarang ia menemui orang yang bermanik kelabu dan orang yang di depan pintu itu salah satunya.
Arm pun menatap wajah gadis yang sedikit mirip dengan orang yang ia curigai.
"Silahkan masuk Arm."ucap Brain, menghentikan aksi Arm dan Rain yang saling menatap tajam.
Arm berjalan dan duduk di hadapan Brain, mereka dipisahkan oleh meja persegi.
Rain juga berjalan ke dekat Brain dan duduk dikursi yang disediakan untuknya.
Mata Rain sedikit membesar ketika melihat orang berada di belakang Arm.
__ADS_1
Manik hitam milik Amberly membalas tatapan Rain dengan tenang tanpa mengatakan apapun.
'Jika bertemu dengan kakak jangan pernah memanggil dan bertingkah seperti orang asing.' ucapan sang kakak yang kembali menjadi melodi di otak Rain.
Rain kembali menormalkan ekspresi wajahnya dan mengulas sebuah senyuman manis.
Arm terus menatap kearah Rain, ia seperti di sedot ke dalam suatu lubang sehingga ia tak bisa berhenti melihat gadis manis di hadapannya.
Ada suatu perasaan yang tidak bisa di gambarkan saat ia melihat gadis itu.
Perasaan ingin memiliki, menjaga dan juga memberikan cinta pada gadis manis itu.
"Ini adalah Rain, kekasih ku."ucap Brain merangkul bahu Rain.
Tatapan Arm beralih ke arah tangan Brain yang merangkul mesra bahu Rain dan pada saat itu ada sebuah perasaan cemburu di hati Arm hingga ia ingin mematahkan tangan Brain.
"Kita langsung saja ke inti permasalahan."
.
.
.
bersambung
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
__ADS_1
salam hangat dari author 💙