
Amberly terdiam mendengar ucapan dari Brain hingga ia tak menyadari kalau pria itu sudah menghilang dari hadapannya.
Perubahan mimik wajah Amberly terlihat jelas di mata kelabu Arm, Arm merasakan ada kegelisahan dalam manik kelam itu dan juga ada sesuatu yang membara di dalamnya.
Mendengar suara MC yang sudah memulai acara membuat lamunan Amberly buyar dan ia langsung mengalihkan pandangannya pada Arm yang sudah menatap ke atas panggung.
"Aku permisi ke WC dulu tuan."ucap Amberly terkesan datar.
Arm hanya mengangguk.
Tapi mata kelabu itu menatap punggung Amberly dengan sejuta pertanyaan di dalam otaknya.
Amberly berjalan bukan ke arah toilet tapi ke jalan yang menghubungkan dia dengan sebuah taman kecil yang ada di samping gedung tersebut.
Di taman itu ada seorang berpakaian jas lengkap sepertinya juga salah satu dari para tamu.
"Rain sudah berada di tangan Brain saat ini."ucap laki laki itu memberikan sebuah earphone pada Amberly.
Amberly langsung memakaikan itu di telinganya.
Dan suara pun terdengar itu adalah suara tangisan seseorang yang sangat di kenali oleh Amberly.
"Hikss kakak kenapa tinggalin aku? Kakak kenapa nggak jujur sama aku? Hiks hiks kenap... pa?" Terdengar orang berbicara dengan sesenggukan dari earphone itu.
__ADS_1
Tanpa Amberly sadari setetes air mata mengalir di wajahnya.
Setelah beberapa menit Amberly langsung memberikan itu kepada lelaki itu lagi.
"Tetap amati pergerakannya dan jangan sampai kalian lengah karena musuh bisa tau dan menyerang kapan saja."ucap Amberly memberikan sesuatu kepada lelaki itu.
"Simpan ini baik baik, tetap latih semua anggota dan jangan lengah."ucap Amberly.
"Baik queen."ucap lelaki itu sambil membungkukkan badan sedikit.
"Bersabarlah, sebentar lagi, cuman sebentar lagi kita akan sampai pada puncaknya."ucap Amberly menatap bulan sabit yang tampak indah di malam ini.
Lelaki itu hanya mengangguk dengan wajah datar.
"Aku pergi." Ucap Amberly memutar badannya meninggalkan lelaki itu.
.
.
.
"Kenapa lama sekali?"tanya Arm dengan nada kesal.
"Tadi aku tersesat dan harus diantar salah satu pelayan ke kamar mandi."ucap Amberly sambil tersenyum.
Arm menatap lama Amberly yang kembali seperti semula, wajah datarnya tadi menghilang digantikan dengan wajah konyol Amberly.
"Hmmm, ayo pulang banyak hal yang harus aku lakukan."ucap Arm yang berjalan keluar ruangan itu.
__ADS_1
Amberly hanya mengikuti tanpa mengatakan apapun karena melihat Arm yang tampak sedang kesal.
Mereka memasuki mobil yang dikendarai oleh Gio.
"Apakah kamu sudah mencoba menahan polisi itu masuk."ucap Arm.
"Sudah tuan tapi polisi ini sangatlah keras kepala sepertinya dia adalah polisi pindahan dari daerah lain."ucap Gio.
"Ck, aku sudah membayar mahal ada kepala polisi itu tapi dia tak juga bisa mengendalikan anak buahnya untuk tak merusak wilayah ku."ucap Arm dengan nada dongkol.
Arm mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.
"Apa kau tak bisa mengatur anak buah mu hah!!"marah Arm saat telepon itu tersambung.
"....."
"Itu bukan urusan ku, yang penting sekarang suruh anak buahmu pergi dari tempat ku atau kau tau sendiri apa yang bisa aku lakukan."ancam Arm.
Setelah itu arm langsung mematikan sambungan telepon tersebut.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like and vote ya
Salam hangat dari author 💙