ÉCLAIR

ÉCLAIR
Episode 41


__ADS_3

Dengan perasaan gembira Brain pulang ke rumah, menenteng dua kotak brownies yang tadi ia beli di toko kue langganan Brain.



Turun dari mobil Brain langsung melempar kunci ke bodyguard yang berjaga di depan rumah menyuruh memarkirkan mobilnya di garasi.



"Rain... Rain..."panggil Brain bernada.


karena tak mendengar jawaban dari yang dipanggil Brain mengganti panggilan.


"Sayang... Sayang... aku bawa brownies nih."teriak Brain lebih kuat.


Tak lama keluar gadis manis itu dari arah dapur dengan wajah kesal mendengar teriakan Brain.


"Kamu pikir ini pasar apa! teriak teriak bikin gendang telinga sakit nih."ucap Rain kesal tapi tetap berjalan mendekati Brain.


Brain yang mendengar omelan Rain pun tersenyum dan berlari kecil mendekati Rain, ia meletakkan brownies yang ia beli tadi di atas meja makan dan memeluk tubuh Rain erat.


"Ada apa nih? kamu menang lotre atau dapat uang sekoper tadi di jalan?"tanya Rain bingung melihat Brain yang tampak sangat bahagia.


"Lebih dari itu sayang, bahkan tak tertandingi dengan hak itu."ucap Brain yang sudah terbiasa memanggil Rain *sayang*.


__ADS_1


Rain yang dipanggil dengan panggilan itu pun sudah mulai terbiasa karena walaupun ia menolak dipanggil dengan itu tapi Brain tetap memaksa, jadi ya mau bagaimana lagi.



"aku senang sekali."



Brain memeluk erat Rain dan memutar tubuhnya membuat Rain pun ikut berputar.



Suara tawa Brain dan juga Rain terdengar memenuhi lantai satu itu membuat anak buah Brain ikut tersenyum.



Tapi setelah datang Rain di kehidupannya membuat banyak hal mulai berubah di diri Brain.


"Udah, udah bang, Rain jadi pusing."ucap Rain menepuk lengan Brain agar berhenti.


Akhirnya Brain pun berhenti ia mendudukkan Rain di kursi dan berdiri dengan lutut menyamakan tingginya dengan Rain.


"Kamu itu keberuntungan aku, sejak kamu hadir di hidup ku semuanya teras lebih berwarna dan kebahagiaan yang kamu berikan tak pernah diberikan oleh orang lain padaku." ucap Brain memegang tangan Rain erat.


__ADS_1


Rain menatap Brain dengan mata berkaca kaca, dirinya sendiri saja menganggap bahwa dia ini adalah sebuah kesialan dan untuk pertama kalinya ia di berlakukan seperti ini, sungguh Rain tak bisa menahan gejolak emosi di dadanya.


"Kamu tau, kamu itu adalah orang pertama yang aku ajak dinner, orang pertama yang aku peluk erat saat aku bahagia dan orang pertama yang namanya terukir di hatiku."ucap Brain mencium kedua tangan Rain lama.


"Jika suatu hari nanti kita berpisah jangan salahkan diri mu sendiri karna aku lah yang bersalah tidak menjaga dirimu dengan baik."ucap Brain yang berbicara ngelantur.



"Kita tidak akan berpisah karena sejak awal aku sudah memilih kamu dan akan tetap kamu."ucap Rain tersenyum lembut pada Brain.


Brain mendongak menatap mata kelabu itu dan semakin lama ia menatap mata itu semakin tenggelam seperti ada sebuah sulap yang membuat dirinya tiba tiba tertarik mendekat.


Semakin dekat, semakin dekat hingga akhirnya bibir Brain menyentuh dengan lembut bibir Rain.


Mata Rain membola menatap mata Brain yang tertutup menikmati ciuman itu.


Tangan Brain menahan tengkuk Rain dan mulai ******* bibir manis Rain.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


jangan lupa like and vote ya 🙂


salam hangat dari author 💙


__ADS_2