
"Jadi kau lah yang akan menjadi kepala keluarga Altarik mulai sekarang Brain."ucap Arn melepaskan cincin yang selama ini terus bersemayam di jarinya.
Brain hanya menatap Arn dengan pandangan tidak mengerti.
"Apa maksud mu Arm?!! jangan memberikannya sembarangan hanya karena otakmu di cuci oleh wanita sialan ini."ucap Tuan Adrian marah.
Tuan Adrian sampai berdiri dan menunjuk ke arah Leonard yang tampak sudah sangat lemas tapi masih tetap berusaha sadar.
"Jaga tangan mu tua bangka! atau kau akan kehilangan tangan mu itu."ucap Leonard dengan nada datar.
"Apa kau pikir aku akan terus menjadi boneka mu Tuan Adrian! aku sudah mulai mengingat semuanya jauh sebelum bertemu dengan dia."ucap Arn masih dengan nada tenang.
Sring
Leonard mendorong pistol di atas meja hingga pistol itu berada tepat di hadapan Amberly.
Tuan Adrian tampak memasang wajah waspada saat pistol tersebut berpindah tangan.
Brain dan juga Rain pun tampak waspada mereka berdua masih berdiri saling berdekatan.
Pistol diarahkan Amberly ke arah Tuan Adrian.
"Jika kau membunuhku akan aku pastikan kalau kau juga akan mati sejam setelah aku mati."ucap tuan Adrian dengan tatapan tajam.
"Kau pikir aku takut dengan ancaman mu itu, aku bahkan sudah siap untuk mati jauh sebelum kau mengatakan itu."ucap Amberly sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
dor
"AYAHHH." teriak Brain memenuhi ruangan itu.
Ternyata Amberly tidak menembak kearah Tuan Adrian tapi ke kepala Magraf yang berada tepat disampingnya.
"Apa salah ayah ku padamu hah!!! kenapa kau membunuhnya, siakan?!!! Dia tak pernah berurusan dengan mu!!"ucap Brain dengan penuh amarah.
Senyuman di bibir Amberly tidak hilang bahkan semakin lebar menikmati saat saat menyenangkan karena sudah membalaskan dendamnya.
"Jangan membuat otakmu menjadi bodoh, kau tau kalau ayahmu lah yang menjadi dalang kematian Arm, kekasihku."ucap Amberly sambil meletakkan pistol lalu ia duduk di kursi.
"Kau benar benar ingin membunuhku, Brain? maka, mana lebih dulu peluru ini bersarang di kepala kekasihmu atau peluru mu bersarang di kepalaku atau mungkin sama sama."ucap Amberly mengambil pistol kembali lalu diarahkan ke pada Rain yang berada di samping Brain.
Rahang Brain tampak mengeras lain halnya dengan Amberly yang masih duduk dengan santai.
"Jangan melakukan sesuatu yang membuat dirimu sendiri menderita Amberly."ucap Arn dengan pandangan menusuk dari belakang Amberly.
Amberly tak memutar tubuhnya ia masih tetap diam menatap tajam kearah Rain yang tampak pucat.
Dor dor
Hening seketika.
__ADS_1
Tiba tiba tubuh Rain ambruk sambil memegang bagian dadanya yang mengeluarkan dar*h cukup banyak.
Satu buah peluru Amberly pun mengenai dada Rain.
Dan satu tembakan lagi berasal dari Leonard yang menembak tepat di kepala Amberly.
Amberly pun meninggal dengan sebuah senyuman diwajahnya karena sudah berhasil membalaskan dendamnya.
"Tugas mu sudah selesai."ucap Leonard yahh semakin lemas.
Arn bergerak mendekati Leonard yang sudah mulai susah untuk bernafas.
Uhukk uhukk.
Tuan Adrian tampak batuk batuk terus menerus dan perlahan dar\*h mulai keluar dari hidung serta telinganya.
Uhukk uhukk
Batuk tuan Adrian pun mengeluarkan dar*h dan dari mata pun mulai keluar dar*h.
"Nikmatilah saat saat penderitaan mu Adrian."
.
.
.
bersambung
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙
__ADS_1