
Hidup adalah pilihan. sejauh mana kamu pergi pilihan itu pasti ada, ingin menjadi baik atau buruk, sakit atau sehat, senang atau sedih dan mungkin masih banyak lagi.
Dan kita akan bertemu dengan semua pilihan itu, lalu kita pasti akan memilih diantaranya tanpa bisa kita pergi dari pilihan itu.
Pilihan itu sudah ada tepat di depan mata Rain, apakah ia tetap bertahan dengan Brain yang memberikan segala cinta yang belum pernah ia dapatkan atau kembali ke tempat semula dimana dia akan kembali sendiri dalam kesedihan.
Rain menatap ke luar jendela mobil, tetesan air hujan yang tampak begitu indah sore ini memberikan rasa nyaman di dalam dada.
Dan tepat di disamping mobil yang sekarang Rain duduki ada jalan menuju rumahnya.
Tangan Rain ingin membuka pintu mobil pun berhenti disaat mobil itu terbuka, kakinya masih teras berat untuk turun seperti ada suatu hal yang memaksanya untuk tidak turun.
Dan itu mungkin hati Rain yang sudah terikat begitu dalam pada pria yang menculiknya.
memikirkan tentang pria itu, Rain masih belum mengerti kenapa Pria itu menculiknya, entah apa motif pria itu sebenarnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu membuka pintunya lihat kamu jadi basah."ucap Brain sambil mengelap tangan Rain dengan sebuah sapu tangan berwarna merah.
Brain menggenggam tangan Rain dan mencium lalu meletakkan ke pangkuan Rain lagi.
"jangan main hujan nanti demam, kalau kamu demam yang susah siapa? kan aku juga."ucap Brain tersenyum sambil mengelus rambut Rain lembut.
Mana ada perempuan yang tidak luluh jika di perhatikan sedemikian rupa.
Brain mengelilingi mobil menuju ke kursi kemudi, ia membawa sebuah kantong kresek.
Rain tersenyum dan mengambil botol kopi itu.
'semoga ini adalah pilihan yang baik untukku.'batin Rain menatap Brain.
"Ada apa? aku salting loh kalau kamu liat lama lama kayak gitu."ucap Brain meminum kopinya.
Rain terkekeh mendengar ucapan Brain.
"Kamu lebay kali."ucap Rain lalu meminum kopinya juga, kopi itu biasa saja tak panas atau pun dingin.
"aku tuh lebay ke kamu seorang tau. Kamu pernah dengar nggak, kalau lelaki akan sangat manja kalau sama orang yang ia cintai."ucap Brain meletakkan botol minumnya.
__ADS_1
Brain kembali menjalankan mobil menuju ke rumah karena tadi mereka habis jalan jalan.
"Emang kamu suka aku?"tanya Rain tak menatap Brain.
"kalau ia kenapa ?"ucap Brain baik sambil menatap Rain.
Rain yang mendengar jawaban Brain pun langsung menoleh dengan mata membulat.
"Tapi aku nggak cinta sama kamu."jawab Rain berani.
"Emang aku nanya kamu suka aku, aku kan cuman bilang aku cinta kamu dan menanyakan apa kah kamu risih kalau aku cinta kamu, bukan tanya perasaan kamu."ucap Brain santai tapi siapa yang tau apa yang sedang ia pikirkan atau yang ada di hatinya.
"iya juga sih."ucap Rain lalu kembali menatap ke luar jendela memikirkan ucapan Brain.
"Tapi setelah kamu mengatakan hal itu aku merasa kalau aku perlu berusaha lebih kuat lagi untuk mendapatkan hati tuan putri Keylix ini."
.
.
.
bersambung
jangan lupa like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙
__ADS_1