
Arm terdiam saat mendengar suara yang begitu ia kenal, suara lembut mendayu seorang wanita yang sering hadir dalam mimpinya.
Dengan tangan berpegangan pada wastafel dia pun berputar.
Bola mata Arm membulat melihat wanita yang berada di depannya saat ini.
"Amberly?"Tanya Arm dengan ragu.
Wanita yang berada di depan Arm tampak terkekeh kecil sambil menutup mulut.
"Kau melupakan aku Arn?"tanya wanita itu sambil tersenyum manis.
Arm tak mampu lagi untuk membuka mulut, ia tau wanita di depannya sekarang adalah Leonard, kekasihnya.
"Apakah kau melupakan aku sayang?"Leonard kembali mengulang pertanyaan tadi sambil berjalan mendekati Arm.
Arm hanya berdiri kaku tanpa mengatakan apa-apa.
Tangan dingin dan pucat milik Leonard menyentuh pipi Arm dan mengelusnya dengan lembut.
Arm menutup matanya meresapi rasa hangat yang mengalir di dalam tubuhnya, beban yang kemarin terasa berat pun berkurang dan setetes air mata pun mengalir di pipi Arm.
__ADS_1
Jari jempol Leonard menghapus air mata itu dengan lembut.
"Kamu tau aku menunggu untuk pertemuan ini sangatlah lama dan hari ini akhirnya kita bertemu, melepaskan segala rindu yang aku pendam selama tujuh belas tahun."ucap Leonard sambil mengelus pipi Arm.
"Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi tapi aku tau tuhan memberikan yang terbaik untuk ku dan lihatlah sekarang kita bisa bersatu lagi."lanjut Leonard.
Mata Arm terbuka manik abu abu itu pun menatap kearah Leonard dengan sayu seperti tak ada semangat hidup.
"Aku lelah, rasanya aku ingin pergi dari semua ini."ucap Arm memeluk Leonard dengan kepala bersandar di bahu Leonard.
"Kenapa takdir ku begitu buruk? aku dijadikan boneka oleh mereka agar membuat perusahaan mereka menjadi berkembang dan aku dipaksa meminum obat terus menerus sehingga membuat ingatan ku pun melemah, Aku hanya seperti mainan bagi mereka ketika sudah puas langsung dicampakkan."Arm berbicara kecil tapi masih bisa di dengan Leonard.
Baik Leonard maupun Arm dapat merasakan detak jantung masing-masing yang berdetak begitu cepat tapi meskipun begitu mereka merasakan nyaman dalam pelukan itu.
Berpisah selama bertahun tahun tak menyulutkan api cinta dalam dada mereka, cinta yang mereka bangun tujuh belas tahu yang lalu masih ada bahkan berkembang menjadi sebuah rasa ingin memiliki dan menjaga.
Arm mengendurkan pelukannya tapi ia tidak melepaskan tangannya dari pinggang Leonard, Arm menjauhkan kepalanya dan menatap Leonard yang juga menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Apakah kamu yang melakukan semua ini?"tanya Arm langsung.
Tanpa pikir panjang Leonard pun mengangguk membuat Arm tercengang melihat Leonard.
"Kau melakukan sendiri sayang? tapi bagaimana bisa? bukankah kamu cuman gadis biasa yang tidak memiliki kekuasaan seluas keluarga Altarik?"tanya Arm tak percaya.
Leonard sama sekali tak merasa sakit hati mendengar ucapan Arm, ia hanya tersenyum misterius membuat Arm semakin penasaran.
"ya."itulah jawaban singkat yang Leonard ucapkan.
"Tapi bagaimana caranya kamu bisa melaksanakan semua ini tanpa adanya campur tangan orang lain dalam hal ini."ucap Arm masih tak percaya.
"Kamu akan tau siapa orang yang membantu aku selama ini."
.
.
.
bersambung
jangan lupa untuk like and vote ya 🙂
salam hangat dari author 💙
__ADS_1