ÉCLAIR

ÉCLAIR
Episode 46


__ADS_3

Hari semakin malam, langit pun sangat kelam seperti mau hujan.


Bersamaan dengan hal itu wajah Brain pun tak kalah kelam menahan gejolak emosi, bagaimana tidak emosi?


Ayahnya baru keluar dari persembunyian beberapa jam tapi sudah di culik padahal Arm sudah berjanji padanya untuk melepaskan sang ayah.


"Percepat jalan mobil Garda! kalau kau jalan selambat ini maka ayah ku akan mati saat aku datang."bentak Brain.


Emosi yang bergejolak tak bisa Brain tenangkan rasanya ia butuh sesuatu untuk melampiaskan yang ia rasakan.



Garda yang mendengar itu hanya mengangguk dan semakin mempercepat laju mobil.


Mobil Brain berhenti di gerbang tinggi yang merupakan pintu pertama yang harus mereka lalui agar masuk ke wilayah mansion utama Altarik.


Brain menurunkan kaca mobil.


"Buka!"


Para penjaga yang berada di pos itu pun saling bertatapan hingga pada akhirnya mereka berjalan mendekat ke Brain.


"Sudah lewat dari jam sepuluh tuan dan tidak diizinkan untuk bertamu."ucap salah satu penjaga dengan sopan.


"Tidak boleh bertamu tapi mereka menculik ayahku."Brain mengeluarkan pistol dari saku jasnya dan mengarahkan di kepala penjaga itu.


"Maaf tuan tapi kami tidak bisa membuka gerbang."ucap penjaga itu dengan bibir yang memulai pucat.


Dorr


satu buah peluru bersarang di kepala penjaga itu membuat ia langsung jatuh.

__ADS_1


Penjaga yang lainnya pun menatap cemas kearah teman mereka dan menatap takut pada Brain.


"Kami meminta maaf sekali lagi tuan tapi memang pagar ini tidak boleh di buka lagi karna...."ucapan penjaga itu terkesan karena tiba tiba,


"Buka pagarnya."ucap Arm lantang dari arah dalam pagar itu.


Para penjaga mengerutkan dahinya mendengar suara tuan muda mereka.


Semua anak buah Brain langsung keluar dan Brain berdiri di depan mereka menatap gerbang yang perlahan lahan terbuka.


Tampaklah Arm yang berdiri tegak dengan memakai pakaian kerja dengan kedua tangan dimasukkan ke kantong celana.


Dibelakang Arm berdiri pula para bodyguard bodyguard Arm yang menatap tajam ke arah Brain dan anak buahnya.


"Apa kau pria hah?"tanya Brain dengan kesal.


"Seorang laki laki memegang ucapannya tapi kau..."Brain menggantung ucapannya menjelaskan hinanya Arm dimata Brain.



"Mana ayah ku?"tanya Brain sambil mengeluarkan belati.


"Aku tidak tau bukan aku yang menculik ayahmu."jawab Arm masih tenang.


"Brengsek, bukankah kau yang sangat membenci ayahku jelas saja kau yang menyuliknya dan ingin membunuhnya kan."ucap Brain lalu ia langsung menyerang Arm tanpa aba aba.



Arm langsung mengelak dengan mengunakan katana miliknya.


Mulainya Brain menyerang maka mulailah pertarungan dari kedua belah kubu itu, tidak ada yang menggunakan pistol mereka semuanya menggunakan pisau, kapak, katana, dan tongkat besi.

__ADS_1


Srengg sringg


Pipi Brain terkena goresan katana Arm dan begitu juga Arm yang terkena belati Brain di lengan.



Pertempuran terus berlanjut walaupun ada yang sudah mulai gugur.



Kubu Brain yang memang sedikit mulai berkurang tapi meskipun begitu tak ada sedikitpun Brain berkeinginan menghentikan pertarungan itu.



Drettt drettt


"AKKGGH."brain menendang dada Arm membuat Arm terduduk.


Tangan Brain dengan cepat mengambil hpnya sambil mengganti belati dengan katana yang di berikan anak buahnya.


"Bang ada orang yang ketuk ketuk pintu terus, orang nya kayak kesakitan."


.


.


.


bersambung


jangan lupa like and vote ya

__ADS_1


salam hangat dari author 💙


__ADS_2